Take a fresh look at your lifestyle.

Korban Kejahatan Masih Terabaikan

263

* Pengajar Victimologi Seluruh Indonesia Gelar Pertemuan di UPS Tegal
* Sikapi Kasus First Travel dan Caleg Gagal

TEGAL – Berbagai bentuk tindak kejahatan yang terjadi, terus menyertai seiring dengan perkembangan zaman. Di sisi lain, penanganannya masih berkutat pada pelaku. Sedangkan korban kejahatan masih kerap terabaikan.

Contoh kasus yang menyita perhatian publik tanah air adalah, korban penipuan dan penggelapan uang yang dilakukan penggelola biro perjalanan haji dan umroh ”First Travel”.

”Pelakunya ditangkap, disidang, tapi korbannya seperti tak terurus. Bahkan asset biro perjalanan ini yang antara lain, berasal dari uang korban, sesuai putusan hakim, disita untuk negara. Inilah salah satu contoh yang akan menjadi pembahasan kami,” terang Ketua Asosiasi Pengajar Viktimologi Indonesia (APVI) Dr Angkasa SH MHum, saat keterangan pers di Gedung Rektorat Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Kamis (21/11).

FIRST TRAVEL : Ketua APVI Dr Angkasa MHum didampingi Dr Fajar Arie Sudewo SH MH dan Dr Yoga Prihatin MPd, antara lain, menjelaskan kepada wartawan, kasus First Travel yang bakal jadi kajian menarik dalam Pertemuan Ke-4 APVI dan Seminar Nasional Viktimologi yang digelar di UPS Tegal.(Foto : smpantura.com/Riyono Toepra-red07)

Keterangan pers itu diayunkan berkait rencana Pertemuan Ke-4 APVI, dan Seminar Nasional Viktimologi, yang digelar di Auditorium Daryoen Seno Atmodjo, perguruan tinggi itu, Sabtu (23/11).

Ketua Panitia kegiatan itu Dr Fajar Arie Sudewo SH MH didampingi Kepala UPT Kerjasama Dalam dan Luar Negeri Dr Yoga Prihatin MPd yang hadir dalam jumpa pers itu mengatakan, seminar bertema ”Perlindungan Hukum Korban Kejahatan dan Nonkejahatan Dalam Sistem Hukum Indonesia Sebagai Tantangan Implementasi dan General Victimology”.

Fakultas Hukum UPS Tegal yang telah terakreditasi A, berterimakasih kepada organisasi itu, yang telah mempercayakan menjadi tuan rumah kegiatan pertemuan dan seminar nasional tersebut.

Itu pula dapat diartikan fakultasnya dapat disejajarkan dengan fakultas hukum di Perguruan Tinggi Negeri (PTS) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan akreditasi yang sama.

Menjawab Permasalahan

Ada tiga hal yang minimal akan menjawab beberapa permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini. Pertama,apakah Viktimologi dapat memberikan kontribusi positif sebagai upaya perlindungan hukum terhadap korban?

Kedua, bagaimana Viktimologi mengidentifikasi dan mengeksplorasi perlindungan hukum terhadap korban dalam sistem peradilan pidana di Indonesia? Ketiga adalah, bagaimana korelasi Viktimologi dalam upaya pencegahan terjadinya kejahatan.

Untuk rangkaian kegiatannya, kata dia, dimulai sejak, Jumat (22/11). Diawali dengan registrasi peserta pertemuan, sekaligus batas akhir penyerahan abstrak materi yang akan jadi bahan diskusi dan seminar dilakukan mulai pukul 16.00. Dilanjutkan gala dinner dan hiburan di Ruang Rapat Yayasan Pendidikan Pancasakti, mulai pukul 19.00 hingga pukul 21.00.

Hari Sabtu (23/11), dilakukan Pertemuan Ke-4 APVI dan seminar nasional sampai petang hari. Dilanjutkan dengan mengunjungi Objek Wisata Pemandian Air Hangat Guci, Guciku, di Kabupaten Tegal hingga Minggu (24/11).

”Ini sekaligus mengenalkan destinasi wisata skala nasional kepada para peserta pertemuan yang datang dari seluruh tanah air,” terang Dr Fajar Arie Sudewo SH MH yang juga Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UPS Tegal.

Ketua APVI menambahkan, berkait dengan pertemuan dan seminar nasional viktimologi yang diikuti seluruh pengajar mata kuliah Viktimologi Hukum Pidana, dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia, akan banyak masalah yang menjadi bahan pembahasan dan diskusi.

Mulai dari kasus First Travel, yang masuk dalam ranah hukum pidana, hingga Caleg Gagal yang dapat dikategorikan korban nonkejahatan.

”Rekan media, datang saja di acara pertemuan dan seminar yang dihadiri para pengajar viktimologi dan mahasiswa hukum. Pasti menarik untuk jadi bahan kajian. Kami juga akan memberikan pernyataan sikap dan masukan ke pemerintah berkait masih banyaknya korban kejahatan dan nonkejahatan yang masih terabaikan. Alias tak terurus dengan baik,” tandas dia.(Riyono Toepra-red07)

BERITA LAINNYA