Take a fresh look at your lifestyle.

Korban Dibunuh Karena Rasa Cemburu dan Sakit Hati

129

SLAWI – Nur Khikmah (16) ,warga Desa Cerih RT 016 RW 002 Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, yang mayatnya ditemukan dalam karung dan sudah menjadi kerangka merupakan korban pembunuhan.

Jasad remaja ini ditemukan warga di sebuah rumah kosong di Desa Cerih RT 015 RW 002 pada Jumat (9/8) lalu, setelah warga mencium bau tak sedap  di sekitar rumah kosong bekas bengkel tersebut.

Hasil olah tempat kejadian perkara , analisis terhadap barang-barang yang ditemukan di sekitar lokasi, Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Tegal dalam waktu dua hari  berhasil meringkus pelaku.

Ada lima tersangka  tersangka yang ditangkap dan ditahan. Mereka terdiri atas tiga pria dewasa dan dua anak perempuan.

Kelima tersangka yakni, Abdul Malik (AM) (20) warga Desa Cikura, Kecamatan Bojong, Muhammad Sopro (MS) warga Desa Cerih dan Saiful Anwar (SA) (24) warga Desa Cikura.

Kemudian, NL  (17) warga Dukuh Jrumat Wetan , Desa Cerih dan (AI)  (15) warga Desa Kajenengan, Kecamatan Bojong.

Kapolres Tegal, AKBP Dwi Agus Prianto dalam jumpa pers di Mapolres  Tegal, Kamis (15/8) mengatakan, hasil pendalaman penyidikan Sat Reskrim, korban dibunuh tanpa terencana oleh kelima tersangka. Pembunuhan dilakukan  pada April 2019 atau sebelum puasa.

Sebelum kejadian, lima tersangka bersama korban pergi menuju ke Objek Wisata Prabanlintang di Desa  Danasari, Kecamatan Bojong. Di tempat itu mereka minum-minuman keras. Dari objek wisata tersebut, mereka berenam menuju ke rumah kosong di Desa Cerih dan melanjutkan minum minuman keras.

Di tempat tersebut korban bersama AM,  melakukan hubungan intim. Mereka diketahui telah lama menjalin hubungan asmara.

Dalam kondisi terpengaruh minuman keras, korban mengucapkan kata-kata kasar sehingga menyinggung AM. Dipicu kemarahan dan  rasa cemburu kepada korban karena  dekat dengan  pria lain, AM lalu mencekik korban.

Melihat hal tersebut, keempat pelaku bukannya menolong korban, melainkan ikut membantu memegang tangan, pundak dan kaki korban.

Setelah korban meninggal dunia, tubuhnya dimasukkan ke dalam karung plastik (waring). Karung plastik diikat dengan menggunakan tali rafia pada bagian kepala lalu tali rafia dililitkan ke badan hingga ke kaki. Karung yang digunakan membungkus korban, sebelumnya digunakan sebagai alas duduk korban dan AM.

“Kelimanya bersama-sama memasukkan tubuh korban ke dalam karung. Ada yang membuka, memasukkan  dan mengikat karung . Korban sudah meninggal saat dimasukkan , karena saluran napas terhambat atau tercekik,”jelas Dwi Agus Prianto didampingi Kasat Reskrim AKP Bambang Purnomo.

Tindak kejahatan itu juga dipicu sakit hati pelaku  NL  terhadap korban, karena korban dekat dengan pacar pelaku.

“Ada juga dugaan bahwa perilaku dari korban menentukan motif yang ketiga. Pelaku marah karena  korban mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan. Ada tiga motif yang didalami sehingga terjadi tindak pidana pembunuhan ini,”terang Kapolres.

Dwi Agus mengatakan, para pelaku dipersangkakan pembunuhan dengan pemberatan atau pasal 339 KUHP dengan ancaman hukuman  selama-lamanya 20  tahun penjara.

Mereka juga dipersangkakan pasal 80 ayat (3) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman  selama-lamanya 15  tahun penjara.

“Selain melakukan tindak pembunuhan, pelaku  mengambil barang-barang korban . Cincin dikuasai oleh AM dan handphone dikuasai MS yang selanjutnya dijual, “terangnya.

Terkait proses hukum bagi dua pelaku yang masih di bawah umur, yakni NL dan AI, Kapolres menyebutkan, pihaknya  berpedoman UU tentang Sistem Peradilan Anak. Namun, dalam UU Sistem Peradilan Anak ada sejumlah pengecualian.

“Kami diwajibkan melakukan diversi. Tetapi diversi tidak boleh dilakukan ketika  tindak pidana yang dilakukan ancaman hukuman penjara lebih dari tujuh tahun. Diversi juga tidak dilakukan terhadap tindak pidana pengulangan,”urainya.

Sementara itu, dua tersangka yang masih dibawah umur dipersangkakan  dua pasal, pasal 80 ayat  (3) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 dengan  ancaman 15 tahun dan 339 dengan ancaman 20 tahun.

“Dengan demikian mengacu pada sistem peradilan anak,  diversi tidak diberlakukan terhadap  tindak pidana ini,”imbuhnya.

Kasus pembunuhan terhadap warga Desa Cerih ini membuah semua pihak prihatin, terlebih Bupati Tegal, Umi Azizah. Umi pagi itu menemui lima tersangka di Mapolres Tegal dan mengikuti ekspose kasus  tindak pidana tersebut sampai selesai.(Sari/Red 6)

BERITA LAINNYA