Take a fresh look at your lifestyle.

Kenakan Adat Jawa, Umat Katolik Pekalongan Gelar Misa 1 Suro

205
  • Dimeriahkan Jatilan dan Gunungan Hasil Bumi 

PEKALONGAN – Ribuan jemaat umat katolik Pekalongan mengikuti Perayaan Misa 1 Suro di Gereja Santo Petrus Pekalongan di Jalan Blimbing No 1 Kota Pekalongan, Senin (5/9) malam. Dalam misa tersebut ada yang berbeda dari biasanya, seluruh jemaat, baik dewasa, anak-anak, petugas liturgi maupun romo yang memimpin misa mengenakan baju adat jawa. Bahkan, bahasa yang digunakan pun menggunakan bahasa jawa. Tak hanya itu, tim paduan suara juga menyanyikan kidung dengan diiringi alat musik tradisional gamelan. Khusus misa malam itu, ditampilkan pula kesenian tradisional Jatilan dan gunungan hasil bumi yang diberkati oleh romo.

Misa sendiri dipimpin Romo Martinus Ngarlan Pr, didampingi Pisensius Suranto Pr. Misa sendiri mengambil tema Mrih Katoning Katresnan Dalem. Romo Martinus Ngarlan menjelaskan, bahwa dalam Misa Suro menerapkan budaya Jawa sebagai sarana untuk memuliakan Allah. Temanya sendiri Mrih Katoning Katresnan Dalem, atau bangkit dan bergeraklah demi terwujudnya kasih Allah. Dikatakan, disamping inkulturasi budaya Jawa, saat perayaan Imlek Gereja St Petrus juga menggelar Misa Imlek yang diakulturasikan dengan budaya Tionghoa. Itu karena masyarakat tak lepas dari budaya dalam kehidupan bersosial. “Selain menghormati budaya yang ada, kami ingin mewujudkan kasih Allah kepada masyarakat yang memiliki ras, suku, maupun agama berbeda di Kota Pekalongan dan sekitarnya,” tegas Romo Ngarlan.

Melalui Misa dimaksud, pihaknya mengajak seluruh umat untuk mewujudkan kasih Allah. Hal itu, dikandung maksud, kasih Allah tidak hanya melalui perkataan, tetapi harus bergerak bersama untuk diwujudkan dalam kegiatan nyata. “Kami rencanakan program peduli kepada lansia, kemudian kunjungan kepada orang sakit. Ini gerakan sederhana untuk mewujudkan dan menghadirkan cinta kasih Allah,” imbuhnya. Pihaknya menambahkan, umat Katolik Gereja St Petrus juga akan melaksanakan gerakan mengasihi lingkungan hidup dalam rangka memperingati HUT Paroki pada 1 November mendatang. Kepedulian dan gerakan tersebut bukan hanya untuk umat Katolik saja tapi juga untuk umat lainnya, bahkan untuk seluruh makhluk hidup.

Sementara, Ketua Panita Acara Misa 1 Suro, Gregorius Widodo menyatakan, inkulturasi budaya dalam pelaksanaan Misa merupakan hal yang sudah rutin dilakukan oleh Gereja St Peturs. “Sepanjang budaya itu baik tentunya tidak mengapa kami gunakan dalam sembahyangan, seperti Misa 1 Suro kali ini,” terangnya. Penggunaan budaya Jawa, kata dia, dalam misa kali ini direspon baik oleh seluruh umat dan mereka tetap dapat mengikuti tahapan misa dengan baik dan khusyuk. Menurutnya, ada dua acara dalam Misa 1 Suro yang digelar di Gereja St Petrus. “Dua kegiatan kami laksanakan dalam acara, pertama liturgi atau kegiatan peribadatan, dan yang kedua nguri-nguri budaya Jawa dengan menampilkan kesenian Jatilan,” pungkasnya.

(Kuswandi/ red2)

BERITA LAINNYA