Take a fresh look at your lifestyle.

Kementerian LHK Ambil Sampel Limbah B3 di Desa Karangdawa

137

SLAWI- Tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia melakukan inspeksi ke lokasi pengolahan dan pemanfaatan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, Rabu (29/1).

Dalam inspeksi tersebut, tim yang terdiri atas empat orang dari Subdit  Tanggap Darurat dan Pemulihan Non Institusi serta tiga orang dari  Penegak Hukum (Gakkum) Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup  dan Kehutanan (KLHK) didampingi tim dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tegal dan UPTD Laboratorium DLH, personel polisi dan TNI.

Pada inspeksi tersebt, tim KLHK mengambil beberapa sampel limbah B3, tanah dan air sumur warga. Pengambilan sampel air sumur untuk mengetahui dampak pencemaran limbah B3 pada masyarakat sekitar melalui air tanah.

Tim yang dipimpin oleh Kasubdit Tanggap Darurat  dan Pemulihan Non Institusi Erini Yuwatini, mengambil sampel limbah dan tanah di sembilan lokasi usaha pembakaran limbah yang ada di Desa Karangdawa. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan menggunakan alat pembuatan  biopori.

Di salah satu tempat pembakaran batu kapur milik warga, tim mengambil sampel limbah berbentuk cair, kental, dengan warna hitam pekat.  Di lokasi tersebut, mereka menemukan  berbagai jenis limbah B3 diantaranya majun, ampul obat-obatan dan botol pestisida serta limbah laboratorium.

Selain mengambil sampel di lokasi usaha pembakaran kapur yang memanfaatkan  limbah B3 sebagai bahan bakar, tim juga mengambil sampel tanah di tempat  pembakaran batu kapur yang sudah lama tidak beroperasi di dekat Danau Beko, Karangdawa.

Sementara itu, sampel air diambil dari sumur warga Dukuh Apu, Desa Karangdawa RT 01 RW 08, yang letaknya bersebelahan dengan dua perusahaan pemanfaatan limbah B3.

Saat dicek menggunakan alat thermal infra red , air sumur menunjukkan suhu 29,1 derajat celsius. Secara visual, air terlihat jenih namun seperti berminyak dan berbau.

Menurut  Khotimah (36) warga setempat,  air sumur tersebut hanya digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci. Untuk keperluan memasak dan minum, Khotimah dan keluarganya mengnsumsi air isi ulang,

Hal ini juga diungkapkapkan Usmatul Maula (32). Menurutnya, air sumur tidak bisa dikonsumsi karena tidak layak . “Air bau besi. Sangat terasa saat sikat gigi dan wudhu,”ujarnya.

Erini Yuwatini menjelaskan, inspeksi ke lokasi dilakukan dalam rangka mengidentifikasi limbah B3 di lokasi tersebut.

“Nanti melalui uji karakteristik dan uji lab, kita dapat data scientifik. Secara visual kita lihat banyak jenis limbah, sludge oil, slag (peleburan) arangnya, sludge Ipal, yang seharusnya diolah, sepertinya langsung dibuang,”tuturnya.

Adapun hasil pemeriksaan sampel dipekirakan akan diperoleh hasilnya sekitar satu bulan.

Erini mengatakan, pergerakan limbah B3 sudah seharusnya diawasi termasuk perzinanannya. Berkaitan dengan kondisi di lokasi usaha pemanafaatan limbah B3 Desa Karangdawa, tim Gakkum melakukan penyelidikan tentang asal limbah B3 tersebut.

Sementara itu, Kasi Penaatan dan Pengaduan Hukum Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tegal, Khaerudin mengatakan, limbah B3 yang diijinkan dimanfaatkan diantaranya kain majun dan sludge oil (lumpur oli/minyak) Hanya saja tidak dibuang begitu saja. Apabila di perusahaan yang berijin dibuatkan kolam penampungan yang kedap air dan  tertutup.

Dari DLH kewenangan pengawasan pada perusahaan yang berizin. Apabila melanggar, maka akan dikenai sanksi sesuai tingkat pelanggaran. Sanksi bisa berupa pembekuan/pencabutan izin. (Sari/Red-06)

 

 

BERITA LAINNYA