Take a fresh look at your lifestyle.

Kebijakan Isolasi di Puskesmas Minta Ditinjau Ulang

92

SLAWI,smpantura.com – Kebijakan Pemkab Tegal untuk menggunakan puskesmas sebagai tempat isolasi dinilai kurang tepat. Pasalnya, dikhawatirkan akan menular ke tenaga kesehatan (nakes) dan masyarakat umum yang berobat ke puskesmas. Diusulkan, isolasi dilakukan di villa-villa di obyek wisata pemandian air panas Guci, Kecamatan Bumijawa.

“Kalau mereka (pasien Covid-19-red) isolasi di puskesmas, nakes dan masyarakat yang akan berobat ke puskesmas resistensi tertular,” kata Ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Tegal, M Khuzaeni, Jumat (9/7).

Dikatakan, pihaknya menyayangkan kebijakan menggunakan puskesmas sebagai tempat isolasi. Ia melihat kondisi RSUD Dr Soeselo Slawi yang antre di UGD untuk bisa diisolasi. Hal itu kemungkinan akan terjadi di setiap puskesmas. Padahal, puskesmas juga melayani masyarakat umum yang akan berobat.

“Kami berharap para pemangku jabatan untuk berfikir cerdas. Jangan sampai uang yang dibelanjakan kembali muspro,” ujar Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Tegal itu.

Menurut dia, kebijakan membuat tempat isolasi terpusat di Rusunawa Suradadi juga dinilai hanya mengakomodir pasien yang berada di wilayah utara. Sedangkan, pasien di wilayah selatan akan kejauhan untuk isolasi di Rusunawa. Pria yang akrab disapa Jeni itu mengusulkan untuk villa di Guci digunakan untuk isolasi.

“Di kota-kota besar, hotel sudah menawarkan tempat isolasi. Kenapa di Guci tidak dimanfaatkan sebagai tempat isolasi,” ujarnya.

Ditambahkan, Guci memiliki banyak villa yang pada pademi Covid-19 kerap kali ditutup. Tidak hanya memiliki udara yang sejak, Guci juga memiliki keistimewaan air panas. Air panas yang mengandung belerang itu, disinyalir bisa digunakan sebagai Antiseptik.

“Kita patut bersyukur punya air panas Guci yang mengandung belerang. Kenapa tidak sekalian dipromosikan,” pungkasnya. (T05-Red)

BERITA LAINNYA