Take a fresh look at your lifestyle.

Kasus Kehamilan Remaja di Kabupaten Tegal Meningkat

116

SLAWI- Kasus kehamilan remaja di Kabupaten Tegal terus meningkat setiap tahun. Bahkan diperkirakan, sampai akhir  tahun 2020 bisa mencapai 200 kasus.

Pelaksanan Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB)  Kabupaten Tegal Retno Suprobowati menyampaikan, dari data Dinas Kesehatan, pada tahun 2016 terdapat 132 kasus, tahun 2017 terdapat 187 kasus, tahun 2018 terdapat 250 kasus, tahun 2019 terdapat 152 kasus.

“Sampai tahun 2020 sudah terdapat 101 kasus. Kami memprediksi sampai akhir tahun bisa bertambah menjadi 200 kasus. Setiap tahun hampir selalu mengalami peningkatan jumlah, hal itu menjadi sebuah problem yang sangat signifikan,” terangnya, pada Talkshow Bincang Kreatif dengan tema “Mewujudkan Remaja Berkualitas” di  Radio Slawi FM, Selasa (21/7).

Sementara itu, dari data Kementerian Agama (Kemenag), usia perkawinan remaja dari kelompok usia dibawah 16 tahun mencapai 23 kasus.

“Tentunya angka tersebut masih tinggi. Target dinas kami, pada 2020, untuk angka perkawinan dibawah 20 tahun adalah 15 persen,”imbuhnya.

Dijelaskan, sesuai dengan UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas UU Nomor 1 Tahun 19974 tentang Perkawinan telah mengatur minimal umur perkawinan bagi wanita dipersamakan dengan batas minimal umur perkawinan bagi pria, yaitu 19 tahun.

Selain pernikahan dini,  kata Retno, remaja juga dihadapkan pada masalah seks bebas dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA). Tiga  hal tersebut harus dijauhi. Karena sangat berpengaruh dalam pendidikan dan kehidupannya dimasa datang.

Menyikapi hal itu pihaknya telah memiliki program  generasi berencana (Genre).  Yakni,  program untuk memfasilitasi terwujudnya  remaja tegar, remaja yang berperilaku sehat, terhindar dari risiko obat-obatan terlarang serta menunda usia pernikahan dini.

”Intinya program Genre yang diluncurkan oleh BKKBN itu bertujuan guna mempersiapkan kehidupan  generasi muda agar lebih berkualitas”, tegasnya .

Ditambahkan, usia remaja adalah usia antara 10 sampai dengan 24 tahun . Mereka adalah calon penduduk produktif dan akan menjadi aktor/ pelaku pembangunan bangsa di masa depan . Oleh karana itu mereka harus disiapkan dan diarahkan agar bisa menjadi remaja yang berkualitas.

Sementara itu menurut Duta Genre 2016,  Affrilia Nawangwulan, Genre digagas untuk membantu melewati masa hidup remaja atau transisi remaja, membantu mereka menerapkan pola pikir berpendidikan setinggi mungkin, berkarir, menikah dengan penuh perencanaan. Selain itu, menerapkan pola hidup yang sehat, dan aktif dimasyarakat.

Genre juga bertujuan untuk mengedukasi serta memberikan konseling terkait masalah-masalah remaja.

“Tugas Duta Genre yaitu untuk mensosialisasikan, memberikan edukasi dan konseling pada remaja. Sosisalisasi tidak hanya dilakukan dengan tatap muka saja,  tetapi juga melakukan dengan podcast dan media sosial lainnya”, ujar Nawangwulan.

Pada kesempatan lain Mohammad Jaenal  dari Forum Genre menambahkan, Genre merupakan suatu organisasi atau wadah dari Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R).  Bertugas untuk menaungi kegiatan dan kendala pada PIK-R baik itu teknis atau nonteknis.

Nantinya Genre akan memantau kegiatan PIK-R agar tetap aktif, juga membuat program kerja apa yang harus dijalankan pada masa pandemi agar tetap aktif dan produktif. Kegiatan yang dilaksanakan tiga bulan ke depan dengan agenda setiap dua minggu sekali melakukan mentoring.(Sari/Red-06)

BERITA LAINNYA