Take a fresh look at your lifestyle.

Jelang Natal dan Tahun Baru, BI Tegal Siapkan Rp. 3,9 Triliun

124

 

TEGAL-Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Tegal menyiapkan sedikitnya Rp. 3,9 triliun menyambut libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Hal itu disampaikan Kepala KPw BI Tegal M. Taufik Amrozy saat temu awak media di salah satu rumah makan di Kota Tegal, Selasa (17/12)

Taufik mengemukakan, Bank Indonesia sebagai otoritas Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah memastikan uang yang beredar di masyarakat dalam jumlah dan pecahan uang cukup dan layak edar.

Pihaknya terus menjaga dan meningkatkan uang layak edar bagi masyarakat di eks karesidenan Pekalongan melalui kebijakan clean money policy dengan layanan penukaran di kantor BI, layanan mobil kas keliling dan layanan perbankan.

Layanan penukaran uang rusak/lusuh dibuka setiap hari Senin hingga Kamis sebagai komitmen menyediakan uang layak edar bagi masyarakat.

Sementara penukaran uang pecahan kecil/besar dilayani melalui layanan mobil kas keliling dan 64 kantor cabang perbankan terutama yang memasang spanduk penukaran.

Sampai dengan akhir November 2019 Kantor Perwakilan Bank Indonesia telah menyelenggarakan 65 kali kegiatan kas keliling di 7 kabupaten/kota Eks Karesidenan Pakalongan.

“Untuk memenuhi kebutuhan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, KPw BI Tegal menyiapkan uang sebanyak Rp3,9 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan perbankan di eks Karesidenan Pekalongan,” ungkap Taufik.

Sementara sampai dengan Selasa (17/12) telah di tarik oleh perbankan sebanyak Rp. 2 triliun. Khusus untuk masyarakat yang membutuhkan uang pecahan kecil di Natal dan Tahun baru, KPw BI Tegal bekerjasama dengan 20 kantor cabang bank terdiri dari Bank BNI, Bank Mandiri, Bank BRI, Bank Jateng, dan BCA di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

Sampai dengan bulan November tahun 2019 KPw BI Tegal telah mengedarkan uang sebanyak Rp11,9 triliun. Meningkat sebesar naik 9% dari tahun 2018 sebesar Rp 10,9 triliun. Sementara uang rusak, uang lusuh, uang yang telah ditarik dari peredaran, sebagai Uang Tidak Layak Edar (UTLE) dan telah dimusnahkan sebesar Rp1,7 triliun.

Terus mengalami penurunan seiring kebijakan menjaga uang layak edar di masyarakat. Penurunan tersebut merupakan dampak dari kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga dan meningkatkan kualitas uang layak edar di masyarakat melalui kebijakan clean money policy.

Ditambahkan, pencegahan tindak kejahatan pemalsuan uang rupiah menjadi perhatian serius Bank Indonesia. Kegiatan tersebut dilakukan dengan meningkatkan intensitas sosialisasi kepada masyarakat. Mulai dari anak-anak, siswa/siswi sekolah SD s.d SLTA, Mahasiswa, masyarakat umum, aparat kepolisian.

Sepanjang tahun 2019 KPw BI Tegal telah mengklarifikasi uang yang diragukan keasliannya oleh masyarakat maupun perbankan sebanyak 4.912 lembar naik 21% dari tahun 2018 sebanyak 4,072 lembar.

Pengendalian Inflasi

Taufik mengemukakan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan sinergi pengendalian inflasi.

KPw BI Tegal telah membekali TPID di Eks Karesidenan Pekalongan melalui peningkatan capacity building melalui kunjungan belajar pengendalian inflasi daerah di Kota Samarinda dan Kalimantan Timur.

Selain itu, KPw BI Tegal telah mengembangkan mitigasi risiko pengendalian inflasi melalui penyusunan kuadaran manajemen risiko inflasi. Dengan kuadran inflasi maka TPID dapat mengetahui prioritas komoditas penyumbang inflasi yang perlu mendapat perhatian dan penting untuk dikendalikan.

Sehingga TPID dapat melakukan mitigasi pengendalian inflasi yang tepat sasaran seperti dokter yang mengobati dengan obat yang mujarab.

Pengendalian inflasi ini tentunya sangat erat dengan tugas pokok dan fungsi dari OPD/dinas teknis terkait, untuk itu, peran penting dinas teknis terkait yang harus diselaraskan dengan kebijakan pengendalian inflasi.

Disesuaikan dengan program roadmap TPID yaitu ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan komunikasi yang efektif dengan melibatkan seluruh stakeholder seperti media, ulama, guru, termasuk pedagang/distributor dan sebagainya.

Hal itu, untuk memberikan pehaman bahwa pengendalian inflasi itu penting, dan perlu sinergitas semua pihak.
Sampai dengan bulan November 2019, Inflasi kota Tegal sebesar 0,20% (mtm), atau 2,66% (yoy) dan year to date (ytd) telah mencapai 2,18.

Inflasi kota Tegal merupakan indikator bagi kabupaten dan kota lain di eks karesidenan Pekalongan. Kota Tegal sebagai sister city yang menjadi acuan dalam penghitungan inflasi di kabupaten/kota lainnya. Inflasi kota Tegal masih lebih rendah dari inflasi Jawa Tengah yang sebesar 2,79 (yoy), 2,35% (ytd) maupun nasional 3,00% (yoy) dan 3,37% (ytd).

“Ini menunjukkan bahwa peran TPID sangat bagus. Untuk itu perlu terus ditingkatkan terutama peran kepala daerah dalam merespon rekomendasi pengendalian inflasi yang diperlukan seperti pemantauan harga, sidak harga di tingkat distributor dan kerjasama antar stakeholder. Ke depan Bank Indonesia beserta forum TPID akan meningkatkan upaya mitigasi risiko inflasi yang timbul dari administered price pada tahun 2020,” pungkasnya. (enn)

BERITA LAINNYA