Take a fresh look at your lifestyle.

Jaga Kelestarian Alam Dengan Sedekah Minyak Jelantah

47

ADIWERNA – Minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, karena terkategori limbah bahan berbahaya dan beracun. Jika minyak jelantah dikonsumsi, maka akan membahayakan kesehatan. 

Menyikapi hal tersebut Rumah Sosial Kutub berinisiasi menggandeng Pemkab Tegal untuk gerakan sedekah minyak jelantah yang terbalut dalam program Tegal Tersenyum. Program Tegal Tersenyum dilaunching Bupati Tegal Hj Umi Azizah di Kantor Desa Ujungrusi, Kecamatan Adiwerna, Selasa (23/2). Selain acara penyerahan minyak jelantah secara disimbolis oleh Bupati Umi, juga digelar penandatanganan kerjasama program tersebut antara Bupati Tegal dan Direktur Eksekutif Rumah Sosial Kutub, Suhito.

Bupati Umi dalam sambutannya mengatakan, di kota-kota besar, minyak jelantah banyak diperjualbelikan, dipakai oleh usaha rumahan untuk menekan ongkos produksi. Harganya yang terbilang murah antara Rp 4 ribu hingga Rp 6 ribu perliter menjadikan para pelaku usaha nakal ini leluasa meningkatkan margin keuntungan, tapi mengesampingkan kesehatan konsumennya. Di sisi lain, minyak jelantah yang dibuang sembarangan juga dapat mencemari lingkungan karena terkategori limbah bahan berbahaya dan beracun.

“Program Kabupaten Tegal Tersenyum ini adalah gerakan sedekah minyak jelantah dimana masyarakat bisa bersedekah sekaligus diedukasi,” katanya.

Direktur Eksekutif Rumah Sosial Kutub, Suhito menjelaskan, sedekah minyak jelantah merupakan inisiasi dari Rumah Sosial Kutub untuk menyelamatkan lingkungan alam. Namun, juga memiliki nilai ekonomis yang nantinya akan dikembalikan ke pada masyarakat. Sedekah minyak jelantah dikumpulkan dari masyarakat melalui tong-tong yang disediakan setiap desa. Nantinya, minyak jelantah itu akan dikelola untuk dijadikan bahan bio diesel. Pengelolaan itu dilakukan di Negara German untuk bahan bakar mesin diesel.

“Kabupaten Tegal menjadi kabupaten pertama di Jateng yang melakukan gerakan sedekah minyak jelantah,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tegal Muchtar menuturkan, minyak jelantah memiliki resiko pencemaran lingkungan. Mayoritas masyarakat tidak menyadari bahwa minyak jelantah yang dibuang ke wastafel nantinya akan mencemari sungai. Selain itu, minyak jelantah yang sudah digoreng lebih dari dua hari bisa menyebabkan kanker.

“Harapannya dengan adanya gerakan Tegal Tersenyum bisa mengurangi minyak jelantah di Kabupaten Tegal,” pungkasnya.

BERITA LAINNYA