Take a fresh look at your lifestyle.

Inflasi Rendah, Ramadan Diharapkan Memicu Pertumbuhan Ekonomi

63

SLAWI,smpantura.com – Pembatasan aktifitas sosial dan ekonomi selama pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, telah menekan inflasi pada angka 1,69 persen atau terendah sejak tahun 2011. Inflasi yang rendah menjadi indikasi lemahnya daya beli masyarakat.

Diharapkan, momentum ramadan dan lebaran nanti menjadi puncak belanja dan konsumsi masyarakat untuk memicu pertumbuhan ekonomi. Demikin disampaikan Bupati Tegal Umi Azizah saat membuka High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Tegal di Gedung Dadali Pemkab Tegal, Senin (29/3).

Umi berharap, inflasi pada kelompok bahan pangan menjelang ramadan ini bisa dijaga pada kisaran 3 hingga 5 persen. Angka tersebut, kata dia, masih wajar mengingat selama ini sektor pertanian ikut terdampak dari lesunya permintaan dan konsumsi masyarakat. “Kita berharap, petani menjadi pelaku usaha yang paling diuntungkan dari meningkatnya konsumsi warga menjelang ramadan dan saat lebaran nanti,” kata Umi.

Melalui dinas terkait, pihaknya akan berupaya memperkuat ketahanan pangan dengan mendorong peningkatan produksi melalui intensifikasi dan ektensifikasi pertanian, termasuk pengendalian distribusi pupuk bersubsidi.

Pada kesempatan itu, Umi menyampaikan apresiasi keputusan pemerintah yang menjamin tidak ada impor beras hingga Juni mendatang. Hal tersebut, sangat membantu penyerapan beras lokal dan mengangkat harga jual di tingkat petani.“Sebentar lagi ada panen raya padi. Jangan sampai teman-teman petani menangis karena harganya jatuh akibat kebijakan impor yang menekan harga pasar. Saya pun minta kebijakan pupuk bersubsidi ini bisa benar-benar membantu meringankan petani, tidak dipermainkan, sekalipun kita tahu stoknya sedikit,” ungkapnya.

Dalam pertemuan tersebut, Umi menyinggung tentang kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah, sebagai komoditas penyumbang inflasi tertinggi beberapa waktu ini. Umi berharap, kenaikan harga yang tinggi akibat minimnya pasokan tersebut tidak berlangsung lama karena petani kini banyak yang menanam cabai dan akan segera panen.

Sementara itu, guna merangsang pertumbuhan sektor mikro, Pemkab Tegal meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat atau KUR Daerah dengan bunga rendah setara 0,26 persen per bulan melalui BPR Bank Tegal Gotong Royong.

Harapannya, pelaku usaha mampu meningkatkan kapasitas produksinya, termasuk menangkap peluang permintaan dan konsumsi yang meningkat menjelang ramadan dan lebaran tahun ini.
Menurut Umi, hal ini merupakan bagian dari upaya Pemkab Tegal mengendalikan inflasi atau mencapai target sasaran inflasi 2021 di kisaran 2 sampai 4 persen sebagaimana yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal Muhammad Taufik Amrozy mengatakan di awal tahun 2021 ini telah terjadi peningkatan ekonomi di wilayah Kota Tegal dan sekitarnya.
“Geliat perekonomian sudah mulai terlihat. Hal ini tentunya membawa dampak pada inflasi daerah yang tumbuh positif sebagai indikasi optimisme sektor konsumsi. Berbeda dengan inflasi di bulan Maret 2020 lalu yang sangat rendah sehingga membuat perekonomian kita terpuruk,” terang Taufik.

Taufik menambahkan, komoditas beras, bawang merah, cabe merah, telur ayam ras dan daging ayam ras menjadi komoditas penyumbang utama inflasi di Eks Karesidenan Pekalongan selama empat tahun terakhir.

Adapun langkah Bank Indonesia dalam menekan laju inflasi antara lain memastikan ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.

“Langkah-langkah yang bisa kita tempuh yaitu dengan memperkuat produksi dan cadangan pemerintah, mendorong kerjasama antar daerah dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan, pelaksanaan operasi pasar untuk menjaga tingkat harga komoditas pangan strategis. Inspeksi pasar penting dilakukan untuk memantau peningkatan harga yang abnormal,” pungkasnya.

(T04-Red)

BERITA LAINNYA