Take a fresh look at your lifestyle.

Hujan di Malam Tahun Baru, Ratusan Ha Tanaman Bawang Terendam Banjir

203

BREBES – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Brebes saat malam pergantian tahun, atau Selasa malam ( 31/12), menyebabkan ratusan hektare (Ha) tanaman bawang di Kecamatan Wanasari, terendam banjir. Akibatnya, para petani pemilik tanaman bawang dipastikan gagal panen.

Banjir terjadi akibat Sungai Layapan yang berada di wilayah tersebut tak mampu menampung debit air. Sehingga, air meluap ke lahan pertanian warga. Banjir yang terjadi itu merendam tanaman bawang merah di enam desa, di Kecamatan Wanasari. Yakni, Desa Sidamulya, Lengkong, Sisalam, Wanasari dan Tanjungsari.

Sementara di titik lain, banjir juga menggenangi sejumlah fasilitas umum dan kantor pemerintahan Pemkab Brebes. Bahkan, akibat derasnya hujan tersebut Kantor Bupati Brebes, di Jalan P Diponegoro juga terendam. Termasuk, Alun-Alun Kota Brebes dan rest area di KM 206 Tol Pejagan-Brebes. Namun banjir di tiga tempat yang disebabkan tidak lancarnya saluran drainase tersebut, langsung surut setelah hujan reda. Sedangkan banjir yang merendam di lahan pertanian bawang merah, hingga Rabu (1/1) siang, masih terjadi. Bahkan, ruas jalan yang menghubungkan Desa Sidamulya dengan Tanjungsari juga terendam.

“Hujan mengguyur wilayah kami, sejak Selasa sore (31/12). Dampaknya, ada sekitar 300 ha tanaman bawang di enam desa, di Kecamatan Wanasari terendam banjir,” ungkap Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Juwari, Rabu (1/1).

Dia mengungkapkan, tanaman bawang yang terndam banjir itu rata-rata baru berumur satu bulan. Akibatnya, tanaman bawang yang terendam itu dipastikan gagal panen. Sebab, tanaman bawang sangat rentan dengan banjir. Ketika terendam banjir, tanaman menjadi busuk dan mati. “Sudah pasti tanaman yang terendam banjir ini gagal panen, karena tanaman busuk. Belum diketahui pasti berapa kerugian total yang diderita petani, karena kami masih dalam perhitungan,” jelasnya yang juga petani bawang merah di Desa Sidamulya.

Dari sekitar 300 ha tanaman bawang yang terendam banjir itu, lanjut dia, sekitar 87 ha di antaranya berada di Desa Sidamulnya. Sisanya, sekitar 203 ha tersebar di lima desa lainnya. “Kalau khusus di desa saya (Sidamulya-red) ada sekitar 87 ha tanaman bawang yang kebanjiran. Sisanya, di lima desaainnya. Kalau seperti ini, sudah pasti kami para petani gagal panen,” ujarnya.

Menurut dia, lahan tanaman bawang di wilayah desanya dan desa sekitar, memang kerap terendam banjir. Bahkan, bisa dipastikn setiap musim penghujan akan kebanjiran. Namun kondisinya tidak separah saat ini. Itu menyusul telah dibangunya jalan tol Pejagan-Pemalang, sehingga berdampak aliran Sungai Layapan tidak lancar mengalir ke utara. Apalagi gorong-gorong untuk saluran Sungai Layapan di bawah jalan tol hanya satu dan relatif kecil. “Selain curah hujan yang tinggi, banjir juga dipengaruhi adanya jalan tol yang menghambat aliran air Sungai Layapan ke utara. Imbasnya, sungai tidak mampu menampung dan merendam tanaman bawang,” terangnya.

Atas kondisi tersebut, Juwari mendesak, Pemkab Brebes untuk segera mengambil langkah, agar tidak terjadi kembali. Selain meminta pengelola tol untuk melebarkan gorong- gorong di bawah jalan tol, juga segera merealisasikan program asuransi bagi petani bawang merah. Sehingga, saat petani bawang gagal panen, karena lahannya terendam banjir, Pemkab bisa membantu bibit untuk penanaman kembali melalui program asuransi petani. “Kami minta program asuransi bagi petani bawanh segera direalisasikan. Ini penting untuk menangani kondisi petani yang gagal panen akiban bencana alam, sehingga petani bisa kembali bercocok tanam,” pungkasnya.

(b.setiawan-red2)

BERITA LAINNYA