Take a fresh look at your lifestyle.

Pandai dan Kerap Juarai Lomba , “Rampok” Merpati Kolong Dihargai Rp 2 Miliar

69

SLAWI-smpantura.com-Seekor burung merpati  bernama Rampok menjadi  salah satu burung merpati  dengan nilai fantastis saat ini. Tak tanggung-tanggung untuk mendapatkan Rampok, sang pembeli rela mengeluarkan kocek sebesar Rp 2 miliar.

Yunius Martin (41) warga Kota Tegal menyebutkan, dia dan dua rekannya membeli Rampok dari Haji Ronny asal Bekasi. Pria yang akrab disapa Koh Yun ini menyebutkan, burung merpati berusia 2,5 tahun itu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh merpati lain.

Berkat kepandaian dan kemampuan adaptasinya di lapangan, burung berwarna putih dan abu-abu di bagian leher ini telah puluhan kali menjuarai lomba merpati kolong tingkat nasional. Tak heran bila pemilik lama sangat mencintai dan membanderolnya dengan harga fantastis.

“Keistemewaan Rampok , mau dibawa kemana selalu juara, burungnya nurut jadi   gampang juara. Kalau  bicara kualitas dan kecepatan masih banyak yang lebih kencang , tapi kalau untuk kemampuan dan kepandainnya, belum ada merpati lain yang seperti Rampok,”terang  pria yang juga seorang peternak sekaligus joki merpati ini.

Ditemui di kandang merpati miliknya di Jalan Poso 16, Mejasem, Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal, Jumat (19/11), Yunius mengatakan,  banyaknya prestasi yang diraih burung merpati itu di Jakarta,  hingga ada satu kolongan dimana Rampok tidak boleh ikut lomba disana.

Tak hanya di Jakarta, Rampok juga berhasil meraih juara saat bermain di daerah lain.  Burung merpati ini bisa meraih juara dua mobilan pada lomba kolongan di Pekalongan.

Setelah lomba tersebut, Rampok kembali bermain di Semarang dan menjadi juara best of the best dan juara 1 event Ayla.

Meski memiliki merpati dengan harga selangit, Koh Yun mengaku tidak terlalu fokus pada nilai merpati itu. Sebagai peternak dan joki merpati, dia menganggap Rampok seperti burung-burung yang lain.

Pernah sekali saat mengikuti kejuaraan di Batang,  merpati itu  hilang selama setengah jam. Saat itu, dia berusaha untuk tetap tenang. Setelah burung itu ditemukan, barulah dia merasakan perasaan jika benar-benar kehilangan merpati itu.

“Sebenarnya bukan nilainya, saya lebih ke nilai tanggungjawab yang dipercayakan pada saya,”jelasnya.

Yunius mengatakan, saat ini ada 1.100 ekor merpati yang dipelihara di dua kandang miliknya yang berada  di Jalan Kapten Ismail Kota Tegal dan Jalan Poso 16 Mejasem,  Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Untuk merawat ribuan burung tersebut, Yunius mengaku dibantu 12 pekerja.

Untuk operasional kandang termasuk membeli jagung pakan merpati sebanyak 1 ton per bulan, dia mengeluarkan kocek sebesar Rp 50 juta.

Mengenai hobi merpati yang ditekuni sampai saat ini, Yunius mengisahkan, sejak usia 6 tahun mulai hobi memelihara merpati, mengikuti jejak ayahnya. Hobi ini terus berlanjut sampai kuliah di Univesitas Tarumanagara di Jakarta. Di tempat kostnya dia memelihara sepuluh  ekor merpati.

“Awal membeli merpati di teman atau pasar. Tahun 2003 di Jakarta merpati harganya Rp 35.000. Salah satunya melahirkan “Sapu Angin”, merpati legenda saya, yang saat ini berusia 16 tahun dan telah meraih 60 kali juara,”terangnya.

Dari hobi memelihara merpati, Yunius kini terjun ke bisnis merpati. Satu ekor merpati dijual seharga Rp 4 juta hingga Rp 30 juta.

Diakuinya, sekian tahun menggeluti ternak dan menjadi joki merpati, banyak suka dan duka yang dialami Yunius.

“Sukanya ketika kita mendapat prestasi sangat tinggi. Tentu membanggakan saya sebagai pemiliknya,apalagi burung tersebut hasil ternakan sendiri. Dukanya, risiko kehilangan karena faktor cuaca, angin berubah-ubah dan hujan tiba-tiba,”jelasnya.

Yunius menyebutkan, pada tahun 2019 dia penah kehilangan salah seekor merpati miliknya. Saat itu, dia membuat sayembara dengan hadiah Rp 30 juta. Namun, sampai saat ini merpati itu ditemukan.

Dia menyebutkan, dari 1.100 ekor merpati yang dipelihara, 90 persennya merupakan keturunan Sapu Angin. Mengingat dua kandang sudah penuh, saat ini Yunius sedang membangun satu kandang merpati lagi.

Untuk menjaga kualitas, Yunius mengaku hanya menjual anakan merpati dari keturunan merpati jagoannya. “Kalau jagoan tidak pernah dijual karena ikatan batin,”ungkapnya.

Saat ini, ratusan piala telah dikumpulkan olehnya. Pada 2016 saja, sudah ada 170 piala yang di rumahnya.  “Dalam satu tahun saya bisa mendapat 30 piala,”sebutnya.

Tak hanya getol mengikuti lomba merpati kolong di berbagai daerah, Yunius dan komunitas merpati Indonesia  beberapa kali mengadakan lelang merpati. Hasil lelang digunakan membantu warga yang membutuhkan . Diantaranya menyumbang ventilator untuk Rumah Sakit di Yogyakarta,  penderita hidrosephalus di Purbalingga dan menyumbang korban banjir Donggala. (T04-Red)

 

BERITA LAINNYA