Take a fresh look at your lifestyle.

Menguak Asal Muasal Nama Brebes

- Dari Barbas, Barbos, Berbes, Baribis hingga Mbrebes

BREBES, smpantura.com – PADA 18 Januari 2022, Kabupaten Brebes genap beriusia 344 tahun. Wilayah yang berada di ujung barat Provinsi Jawa Tengah ini lahir pada 18 Januari 1678, dengan Bupati pertama Pangeran Cahyo Kusumo yang bergelar Raden Tumenggung Arya Suralaya. Hingga tahun 2022 ini, sudah ada sebanyak 30 orang bupati yang telah memimpin daerah dengan julukan Kota Bawang dan Kota Telur Asin ini. Lalu kenapa daerah yang menjadi batas antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat ini, dinamakan Brebes?

Menurut Anggota Tim Teknis Penyempurnaan Buku Sejarah Kabupaten Brebes, Nurul Hidayat, ada beberapa pendapat mengenai asal muasal nama Brebes dijadikan nama kabupaten. Pertama, nama itu dihubungkan dengan keadaan alamiah daerah Brebes. Awal mulanya, daerah Brebes konon mempunyai banyak air dan sering tergenang air, bahkan ada kemungkinan masih berupa rawa – rawa. Mengingat banyaknya air yang merembes, munculah kemudian nama Berbes, yang selanjutnya mengalami “verbasterin’’ (perubahan-red) menjadi Brebes. Pendapat kedua, dengan mengaitkan peristiwa masuknya agama Islam ke Brebes, yang sekalipun dihalang-halangi namun ternyata masih bisa juga merembes, yang dalam bahasa daerah disebut “berbes’’. “Oleh karenanya, muncullah kemudian nama Berbes, yang selanjutnya berubah menjadi Brebes,” ujarnya.

Kemudian pendapat ketiga, terang dia, asal muasal nama Brebes itu dari kata-kata “bara’’ dan “basaha’’. Kata “bara’’ berarti hamparan tanah datar yang luas, sedang “basah’’ berarti mengandung banyak air. Kedua-duanya cocok dengan keadaan daerah Brebes, yang kecuali merupakan dataran luas, juga mengandung banyak air. Karena perkataan “bara’’ diucapkan “bere’’, sedang “basah’’ diucap “besah’’, pada akhirnya lahirnya perkataan “Bere besah’’. “Untuk mudahnya kemudian telah berubah menjadi Brebes,” jelasnya.

Sedangkan pendapat keempat, ungkap dia, asal muasal nama Brebes itu lebih dikaitkan dengan cerita masyarakat lokal terhadap keberadaan sebuah gunung yang bernama “Baribis”. Gunung ini terletak di daerah antara Kecamatan Salem dan Kacamatan Bantakawung. Dari gunung tersebut mengalir Sungai “Baribis’’ yang alirannya melalui dataran bagian utara dan bermuara di laut Jawa. Sungai Baribis ini, pada jaman dulu dianggap sebagai sungai yang bertua atau angker. Konon sungai tersebut juga banyak buayanya. Orang-orang tua pada saat itu, banyak yang melarang anak cucunya untuk datang, menyeberangi, mandi atau kegiatan lain di sungai tersebut. Untuk meyakinkan hal ini, maka terungkaplah sebuah legenda tentang perang antara Arya Bangah dengan Ciyung Wanara. Akibat menyeberangi sungai Baribis tersebut, Arya Bangah menderita kekalahan.

Dari kepercayaan tersebut, maka Sungai Baribis itu dijadikan peringatan yang dalam bahasa lokal disebut epenget, pepeling, pepali atau larangan, agar jangan sampai pada saat berperang melangkahi atau menyebrangi sungai tersebut. Karena Sungai Baribis menjadi larangan dari kaum tua, maka sungai ini dikenal sebagai sungai larangan, atau Sungai Pepali atau Pemali, yang berarti pepalang atau larangan. “Menurut tutur beberapa orang tua di daerah Brebes selatan, Sungai Pemali ini semula bernama Sungai Baribis, yang bermata air dari Gunung Baribis. Kemungkinan itu sebabnya, daerah ini disebut daerah Baribis. Yaitu, daerah aliran sungai Baribis, dan dari kata Baribis ini menjadi nama Brebes,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, jika diperhatikan dengan seksama, nama – nama tempat di Pulau Jawa ternyata merupakan cermin dari keadaan alam disekitar masyarakat yang mendiami tempat – tempat itu, dan cara berfikir mereka. Nama – nama tempat itu bisa dibedakan dalam dua golongan besar. Yang pertama, yang secara spontan telah lahir dari masyarakat di kota-kota itu sendiri. Kedua, yang dengan sengaja telah diberikan atau diperintahkan oleh suatu penguasa untuk dipakai. Misalnya, nama Surakarta Adiningrat yang mula-mula telah dipergunakan oleh Sunan Paku Buwana II pada tahun 1745 untuk menyebut nama keratonnya yang baru di daerah Sala. Untuk golongan pertama itu, masih bisa dibedakan lagi dalam beberapa jenis. Yaitu, nama-nama tempat yang berasal dari nama – nama tanaman, nama – nama binatang, nama – nama orang, nama – nama benda tambang dan nama yang mengingatkan pada suatu keistimewaan topografis.

Munculnya nama Kota Brebes, terang Nurul Hidayat, termasuk dalam kategori yang kelima. Dalam bahasa Jawa perkataan Brebes atau Mbrebes berarti “tanaah metu banyune’’. Artinya, selalu keluar airnya, dan nama ini telah lahir mengingat pada awal mula sejarahnya, keadaan lahan di kawasan Kota Brebes yang sekarang ini memang selalu keluar airnya. “Adapun kota-kota lain juga memiliki nama-nama semacam itu. Artinya, yang telah lahir berdasarkan keadaan tanahnya pada awal mula sejarahnya. Misalnya, nama kota Blora di Jawa Tengah. Nama Blora muncul karena keadaan tanah di kawasan kota itu yang awal mula sejarahnya memang masih berupa rawa-rawa, sesuai dengan arti perkataan Blora atau Balora, yang merupakan sebuah perkataan bahasa Jawa kuno yang berarti rawa,” paparnya.

Dia mengungkapkan, dari sumber yang diketemukan pada tahun1640-1641, nama Brebes itu sudah mulai tercantum dalam penulisan, laporan dan daftar harian yang dibuat V.O.C. Makin kesini makin banyak uraiannya, meskipun hanya dalam hal sebagai tujuan atau persingahan pengiriman barang-barang penting dan bahan pokok, misalnya alat-alat senjata untuk kompeni (VOC), bahan pakaian, bahan makanan, dan sebagainya. Nama Brebes itu dalam catatan VOC pernah ditulis Barbas, Barbos, Berbes atau Brebes. “Dari mana dan bagaimanapun asal muasalnya atau apapun juga makna nama Brebes itu, kiranya bukanlah masalah bagi penduduk Brebes masa kini. Yang penting, kita bisa mengambil hikmah di dalamnya. Suatu kenyataan wilayah Kabupaten Brebes dianalisa dari segi lahan atau tanah, curah hujan serta iklimnya, mempunyai prospek masa depan yang cerah. Segala faktor penghambatnya Insa Allah akan dapat diatasi oleh generasi penerusnya,” pungkas pria yang juga menjabat Kabid Litbang Baperlitbangda Kabupaten Brebes ini. (T07-red)

BERITA LAINNYA