Take a fresh look at your lifestyle.

Kisah Deretan Nisan Tanpa Nama di Brebes

- Sebuah Saksi Sejarah Keganasan Tentara Belanda

318

Tiga puluh tujuh nisan berderet rapi di sebuah tempat pemakaman, di Desa Jatirokeh, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tepatnya, di kawasan yang dikenal warga setempat dengan sebutan ‘Blok Pahlawan’. Namun ternyata semua nisan tersebut tidak mempunyai nama, seperti makan pada umumnya. Lalu makam siapa itu?

 

DERETAN nisan tanpa nama ini, merupakan bagian sejarah kelam perjuangan bangsa ini saat melawan penjajah Belanda. Makam itu adalah pusara para prajurit Hizbullah yang dibantai pasukan Belanda saat Agresi Militer II tahun 1948. Salah satu di antara korban ini, adalah Kapten Ismail, Pahlawan Nasional.

Memasuki kompleks makam ini, terdapat tugu bertuliskan Taman Makam Pahlawan Pagerayu. Makam ini terletak di pinggir sungai, dan berada di lahan milik warga bernama Almh Kalimah. Sekeliling makam dibangun pagar keliling dan dicat warna merah putih. Belakangan tanah tersebut dikuasai pihak desa, agar keberadaan makam tetap terawat.

Komples Makam Pahlawan Pagerayu. foto : smpantura.com/dok
Komples Makam Pahlawan Pagerayu. foto : smpantura.com/dok

Tak jauh dari makam ini, terdapat sebuah bangunan rumah tua yang menjadi saksi bisu aksi pembantaian pasukan Hizbullah tersebut. Di tembok bangunan rumah, masih nampak bekas berondongan peluru dari senjata pasukan Belanda. Di rumah ini, 37 prajurit Hizbullah meregang nyawa akibat berondongan tentara Belanda. Awalnya, ada tiga rumah yang menjadi tempat dibantainya laskar Hizbullah ini oleh tentara Belanda. Yakni, rumah milik Alm Jazuli, Medah dan Soyu. Namun rumah milik Medah dan Soyu dibakar hingga rata tanah oleh tentara Belanda, karena dianggap sebagai tempat persembunyian laskar Hizbullah.

Puluhan laskar Hizbullah yang menjadi korban pembantaian pasukan Belanda itu, kemudian oleh warga dimakamkan di sebuah lahan yang terletak beberapa meter dari rumah tempat pembantaian tersebut. Namun warga tidak satu pun mengetahui identitas para pejuang kemerdekaan ini.

Sejarahwan Brebes, Wijanarto mengungkapkan, paska perjanjian Renville pada 17 Januari 1948, seluruh pasukan pro kemerdekaan wajib kembali ke wilayah RI. Perjanjian Renville justru merugikan pemerintah Republik Indonesia. Alasannya, wilayah kekusasaan RI semakin sempit. Di pulau Jawa, daerah yang masuk RI hanya Jawa Tengah bagian selatan, DIY dan sebagian kecil wilayah di Jawa Timur.

“Ini berimbas pada pasukan Indonesia dimanapun berada wajib kembali ke wilayah yang masuk kekuasaan RI. Termasuk, pasukan Hizbullah asal Brebes dan Tegal. Mereka harus meninggalkan keluarga karena Brebes dan Tegal masuk wilayah kekuasaan Belanda. Mereka meninggalkan keluarga menuju daerah Banjarnegara dan Wonosobo yang masuk wilayah RI,” terang Wijanarto, yang juga menjadi penyusun buku Sejarah Kabupaten Brebes.

Setelah lama berada di luar daerah, lanjut dia, muncul keinginan dari prajurit Hizbullah asal Brebes dan Tegal, untuk pulang menengok keluarga. Mereka pun berangkat ke kampung halaman dengan berjalan kaki secara sembunyi-sembunyi dengan melalui jalan tikus. Hal ini untuk menghindari dari patroli Belanda. “Mereka (laskar Hizbullah-red), ingin pulang karena mengira keadaan sudah aman di kampung halamannya. Berhari-hari berjalan kaki dari Banjarnegara dan Wonosobo menuju Brebes dan Tegal. Namun mereka tetap sembunyi-sembunyi untuk hindari patroli Belanda,” sambung lulusan S2 Fakultas Sejarah Undip ini.

Setelah berhari hari jalan kaki, sampailah laskar Hizbullah ini di Desa Jatirokeh, Kecamatan Songgom, Brebes. Di desa ini mereka memutuskan beristirahat di rumah rumah warga. Ada tiga rumah yang dijadikan tempat istirahat mereka, yaitu rumah milik Jazuli, Medah dan Soyu. Sayangnya keberadaan mereka diketahui Nevis atau intel Belanda. Dari laporan Nevis ini, pasukan Belanda melakukan pengepungan. Tiga rumah yang menjadi tempat persembunyian prajurit Hizbullah itu diberondong ratusan tentara Belanda mulai dari sebelum subuh hingga pagi hari.

Rumah tempat persembunyian pejuang Laskar Hizbullah yang diserang pasukan penjajah Belanda. Foto : smpantura.com/dok
Rumah tempat persembunyian pejuang Laskar Hizbullah yang diserang pasukan penjajah Belanda. Foto : smpantura.com/dok

“Akibat serangan ini, 37 prajurit Hizbullah tewas. Mereka meregang nyawa sebelum sempat menemui keluarganya. Jenazah pahlawan perjuangan ini, kemudian dimakamkan di sebidang tanah milik Kalimah, sekitar 5 meter dari rumah pembantaian itu,” ungkap Wijanarto.

Beberapa tahun kemudian, sambung dia, identitas salah seorang tentara Hizbullah itu mulai terungkap. Satu satu di antara mereka yang gugur diketahui sebagai Kapten Ismail. Pihak keluarga mengidentifikasi dari cincin kawin yang melingkar di kerangka jarinya. Oleh keluarga, kerangka Kapten Ismail ini dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan di Kota Tegal. “Sebagai penghormatan, Kapten Ismail dijadikan nama sebuah jalan di Kota Tegal,” pungkasnya.

Hingga saat ini kompleks makam dengan nisan tanpa nama ini, masih terawat dan menjadi saksi bisu sebuah sejarah perjuangan Bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Kawasan makam itu dikelola pihak desa, dan membutuhkan setuhan agar tetap terjaga kelestariannya. *

(T07-red)

BERITA LAINNYA