Take a fresh look at your lifestyle.

Begini Jejak Sejarah dan Mitos Telaga Ranjeng

- Ditemukan 1924, Dasar Terdalam 1.200 Meter?

384

Brebes, smpantura – Telaga Ranjeng, selama ini dikenal sebagai salah satu tempat wisata di Kaki Gunung Slamet, yang berada di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Lokasinya berada di ketinggian 1.200 Mdpl (meter di atas permukaan laut), sehingga membuat suasana di tempat wisata ini, udaranya begitu sejuk. Bahkan, kerap diselimuti kabut.

Selain panorama alamnya yang mempesona, Telaga Ranjeng ini juga dikenal sebagai tempat wisata yang penuh dengan cerita mistis. Di Telaga dengan luas 18,74 ha terdapat ikan yang sangat jinak, dan menjadi daya tarik bagi wisatawan. Namun ikan ini dilarang dipancing, atau di bawa pulang untuk dikonsumsi, karena dipercaya bisa mendatangkan malapetaka. Sehingga populasi ikan di Telaga ini tetap terlestari.

Uniknya lagi, sesekali waktu jenis ikan yang hidup di Telaga ini, tiba-tiba bisa berubah. Saat smpantura.com berkunjung ke Telaga Ranjeng, Kamis (3/11/2021), ikan yang hidup adalah jenis ikan mas. Namun sebelum itu, jenis ikannya adalah ikan lele. Masyarakat percaya, suatu saat nanti ikan di Telaga Ranjeng ini akan berganti kembali ke ikan lele. Kenapa seperti itu, hingga kini masih menjadi misteri tersendiri.

Terlepas dari kisah itu, Telaga Ranjeng selama ini merupakan sebuah cagar alam. Di sekitar Telaga terdapat tanama hutan yang usiannya mencapai ratusan tahun. Bahkan, bekas-bekas pohon besar yang tumbang juga masih tergeletak di kawasan ini.

Telaga ini, kali pertama ditemukan oleh orang Belanda di tahun 1924. Setahun setelah ditemukan, oleh Pemerintah Hindia Belanda, Telaga Ranjeng ditetapkan sebagai strict nature reserve atau kawasan cagar alam, melalui SK Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 25 tanggal 11 Januari 1925, dengan total luas mencapai 48,5 ha.

Setelah Indonesia merdeka, status cagar alam Telaga Ranjeng ini kemudian diperkuat melalui SK Penunjukan Menteri Kehutanan No. SK.3 5 9/MenHut-II/2004 tanggal 1 Oktober 2004. Di tahun 2013, status inj diperkuat kembali dengan SK Menhut No.313/Menhut-II/2013, tanggal 13 Mei 2013. Berdasarkan SK Menhut ini, total luas kawasan konservasi hutan resapan wilayah Brebes selatan ini mengalami penambahan menjadi 53,41 ha, dengan luas telaga mencapai 18,74 ha.

Kemudian, di tahun 2018 pernah dilakukan pengukuran oleh BKSDA Jateng melalui Seksi Konservasi Wilayah II Pemalang, bahwa luas keseluruhan kawasan cagar alam itu menjadi 58,5 ha, dengan perincian 39,7 ha luas daratan/hutan, dan 18,85 ha untuk telaga/perairan.

“Sudah sejak zaman Pemeritahan Kolonial Belanda, Telaga Ranjeng ini ditetapkan sebagai Cagar Alam. Tepatnya sejak tahun 1925. Kemudian, diperkuat oleh pemeritah kita pada tahun 2004,” ungkap Sejarahwan Kabupaten Brebes, Wijanarto, kemarin.

Di kawasan hutan lindung Telaga Ranjeng ini, ternyata mempunyai berbagai flora dan fauna yang unik, serta dilindungi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Yuniarso, diketahui ada 40 spesies tanaman dan 23 spesies hewan yang hidup di Kawasan Telaga Ranjeng. “Telaga Ranjeng ini memiliki bentang alam yang sangat menarik. Ini karena ada sebanyak 40 spesies tanaman dan 23 spesies hewan yang hidup di sana,” terangnya yang juga Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Brebes ini.

Tak hanya pesona alam, dengan kekayaan flora dan faunanya, Telaga Ranjeng ini juga dipercaya masyarakat sekitar mempunyai mitos yang kuat. Telaga itu juga dipercaya masyarakat sebagai tempat tinggal sejumlah damyang atau mahluk halus. Salah satu mitos yang sangat kental di masyarakat sekitar Telaga Ranjeng, adalah menyangkut ikan lele raksasa, atau rajanya ikan lele yang tinggal di Telaga itu. Sehingga, ika lele menjadi ikon Telega Ranjeng.

Sementara, sosok-sosok mahluk halus yang dipercaya menjadi penghuni di Telaga Ranjeng, di antaran Ratu Wonara atau Ratu Siluman Kera Putih. Kemudian , Ratu Majeti atau siluman ular berkepala manusia. Salain itu, ada lagi yang dikenal sebagai Eyang Putihan, Anglingkusumo yang merupakan putra dari Prabu Angling Dharma, Eyang Tunggul Wulung, Ratu Maung atau siluman Harimau putih, dan Nyi Dewi Rantamsari. Bahkan, Nyi Dewi Rantamsari ini mitosnya beberapa kali terlihat mengambang di atas permukaan telaga untuk menyapu dedaunan yang jatuh di air telaga.

“Telaga Ranjeng ini, selain sebagai cagar alam, juga memiliki Ekologi Kebudayaan yang menarik. Masyarakat sekitar percaya adanya mitos di Telaga Ranjeng ini. Salah satunya mitos ikan lele yang berukuran besar, dimana ikan lele ini menjadi ikon Telaga Ranjeng. Kemudian, masyarakat percaya adanya damyang atau mahluk halus yang menjadi penghuni telaga ini, seperti Ratu Wanora dan ular berkepala manusia. Semua ini merupakan ibu kebudayaan yang menari di masyarakat sekitar,” papar Wijanarto.

Sementara itu Jamal (43), juru kunci Telaga Ranjeng generasi ketiga, sekaligus petugas keamanan kawasan hutan lindung Telaga Ranjeng menceritakan, pada awalnya, telaga ini dihuni oleh Ikan Wader. Namun entah apa sebabnya ikan jenis itu menghilang, dan berganti menjadi lele yang ukurannya hampir sama. Sudah beberapa kali, jenis ikan yang hidup di Telaga Ranjeng berganti-ganti secara mendadak. Setelah Ikan Lele, sejak tahun 2020 lalu, berganti menjadi Ikan Mas.

“Adanya mitos-mitos ini, para pengunjung tidak berani menangkap ikan di Telaga Ranjeng. Sehingga keberadaannya tetap lestari. Pengunjung ikut meyakini jika mengambil ikan di Telaga ini akan mendapat musibah atau petaka,” tuturnya.

Masyarakat di desa sekitar Telaga Ranjeng percaya, jika ikan yang muncul adalah Ikan Lele, maka lahan pertanian mereka kurang makmur karena tanamannya dimakan hama serangga dan tikus. Namun jika Ikan Mas yang muncul di Telaga Ranjeng, maka pertanian akan melimpah atau dalam masa keemasan. Kepercayaan tentang ikan keramat itu juga dikaitkan dengan kejadian bencana alam dasyat tsunami di Aceh pada 2004 silam. Waktu itu, ribuan ikan lele di Telaga tiba-tiba hilang dan berganti menjadi Ikan Nila.

Setelah tsunami, Ikan Nila berganti kembali menjadi Ikan Lele. Kemudian pada 2010 lalu Ikan Lele itu berganti kembali menjadi Ikan Mas. “Tidak ada seorang warga pun yang menebar ikan di Telaga ini. Jenis Ikan di Telaga ini terjadi secara tiba-tiba, dan dalam hitungan hari. Anehnya ukurannya hampir sama semua,” cerita Jamal.

Kejadian aneh, lanjut dia, juga pernah terjadi pada 25 Maret 2019 lalu. Ada warga Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, yang hilang selama 12 tahun, dan ternyata ditemukan di tepian Telaga Ranjeng. Nama orang yang hilang dan ditemukan itu adalah Karyono. Ia kali pertama ditemukan Aris keluarganya, dalam keadaan linglung dan tidak bisa berbicara.

“Anehnya, orang yang hilang ini, saat ditemukan masih mengenakan celana yang sama saat diketahui hilang 12 tahun silam, tepatnya 19 November 2007,” tuturnya.

Kemistisan lain dari Telaga Ranjeng, hingga saat ini ternyata belum diketahui pasti kedalam dari Telaga ini. Di tahun 2018 lalu, sejumlah mahasiswa Unsoed Purwokerto pernah melakukan penelitian tehadap kedalaman Telaga Ranjeng ini. Pengukuran kedalaman itu dilakukan menggunakan alat Sonar. Hasilnya ternyata sangat mencengangkan, karena kedalaman titik terdalam dari Telaga Ranjeng mencapai 1.200 meter.

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti kedalaman telaga ini. Ada yang mengatakan hanya sekitar tiga meter. Namun di tahun 2018 lalu, sejumlah mahasiswa Unsoed Purwokerto melakukan penelitian mengukur kedalaman telaga dengan menggunakan sonar. Saat itu didapatkan hasil pengukuran terdalam mencapai 1.200 meter,” ungkapnya.

Terlepas dari mitos yang sampai sekarang dipercaya masyarakat, Telaga Ranjeng merupakan Cagar Alam yang ramai dikunjungi wisatawan. Itu karena pesona alam, dan keunikan habitat ikan yang hidup di Telaga ini. Pengunjung sangat menikmati saat memberikan makan ikan di Telaga yang begitu jinak. Ikan-ikan itu diberi makan roti, yang bisa di beli di lokasi Telaga.

Nugroho (31), salah satu pengunjung Telaga Ranjeng mengaku, baru kali ini berkunjung. Ia mengetahui cerita Telaga Ranjeng dari temannya, sehingga penasaran untuk mengunjunginya. “Ternyata benar, ikannya jinak dan besar-besar. Tempatnya juga masih sangat asri,” ucapnya. (T07-red)

BERITA LAINNYA