Take a fresh look at your lifestyle.

HNSI Minta Kebijakan Larangan Penggunaan Jaring Cantrang Untuk Dipertimbangkan

135

TEGAL – Para nelayan di Kota Tegal dan sekitarnya berharap Pemerintah mempertimbangkan secara teliti terhadap kebijakan pelarangan penggunaan Alat Penangkap Ikan (API) / jaring cantrang. Hal itu perlu dilakukan agar tidak menimbulkan gejolak. Demikian disampaikan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Tegal, Riswanto, kemarin.

Menurut dia, selama ini cantrang secara nyata telah memberi impact yang cukup luas, baik penyerapan tenaga kerja, penyediaan bahan baku industri maupun pengolahan tradisional. Dengan demikian, seacra langsung ikut menjadi daya ungkit perekonomian nelayan dan masyarakat pesisir. “Harga cantrang lebih murah dibanding alat penangkap ikan yang lain. Fishing day cantrang lebih singkat, hasil tangkapnya cukup dan terserap pasar. Maka cantrang dirasakan lebih efisien dan menguntungkan, sehingga berkembang menjadi alat penangkap ikan yang popular dan disukai masyarakat nelayan,” katanya.

Riswanto mengemukakan, ketersediaan industri dan berkembangnya pengolahan tradisional ikut berperan dalam perkembangan penggunaan cantrang di pesisir pantura Jawa dan luar Jawa. Jumlah Anak Buah Kapal (ABK) sebanyak 120.966 orang, rantai lanjutan industri perikanannya 107.918 tenaga kerja, dan ada 30 Unit Pengolahan Ikan (UPI) skala ekspor dengan jumlah tenaga kerja 5.203 orang dan 18.401 unit pemasar hasil perikanan. “Kemudian 6.808 UPI dan UPI skala UMKM, dengan tenaga kerja yang terdampak total 252.488 orang, maka kebijakan pelarangan penggunaan alat penangkap ikan (API) cantrang harus dipertimbangkan secara teliti, sehingga tidak menimbulkan gejolak,” tegasnya.

Dia menambahkan, selain itu cantrang di Jateng merupakan alat tangkap yang paling produktif untuk menghasilkan tangkapan ikan dan sangat berperan untuk nelayan serta masyarakat pesisir. Penyerapan tenaga kerja baik sebagai buruh / ABK, karena kapal cantrang dapat menampung sekitar 15-25 orang tiap kapal. Ikan hasil tangkapan digunakan sebagai bahan baku industry fillet ikan, surimi dan olahan ikan sejenis lainya. Penyerapan tenaga kerja bagi istri nelayan di industri pengolahan, meningkatkan kesejahteraan nelayan dan istri nelayan. “Isu tidak ramah lingkungan terhadap penggunaan alat tangkap cantrang dapat diatasi dengan cara mengendalikan jumlah alat tangkap cantrang yang digunakan dan mengawasi operasional penggunaanya, misalnya ukuran mesh size bagian kantong sesuai dengan peraturan yang ada,” katanya.

Selain itu, perlu pula mengupdate aturan yang ada selama ini tentang kapal dan alat penangkap ikan di Indonesia mengingat sudah terjadinya pemanasan global yang dapat membuat peraturan tersebut tidak layak digunakan. Sustainable development (pembangunan berkelanjutan) bukan berarti memberhentikan kegiatan ekonomi, akan tetapi bagaimana kegiatan ekonomi yang dilakukan menghasilkan keuntungan maksimum dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya sehingga anak cucu kita pada masa mendatang dapat memanfaatkan sumber daya perikanan yang kita manfaatkan saat ini. Oleh karena itu pengelolaan perikanan tangkap direkomendasikan untuk menggunakan pendekatan bioekonomi. “Sustainability dapat tercapai dengan mengendalikan pemanfaatan yang seimbang baik secara biologi maupun ekonomi, bagaimana suatu usaha ekonomi dapat menghasilkan keuntungan dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya perikanan itu sendiri,” tandasnya. (Wawan Hoed/Red1)

BERITA LAINNYA