Take a fresh look at your lifestyle.

HNSI : Cuaca Buruk, Nelayan Tegal Butuh Perhatian Pemerintah dan Perbankan

102

TEGAL – DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal berharap ada bantuan beras paceklik dan keringanan pinjaman atau restrukturisasi untuk nelayan. Sebab, hampir lebih dari 150 perahu nelayan tradisional di Kota Bahari tak bisa melaut karena terdampak cuaca buruk.

“Satu perahu bisa memiliki dua hingga tiga anak buah kapal atau ABK. Dalam sepekan terakhir ini mereka harus mengurungkan niatnya untuk pergi melaut. Karena memang saat musim angin baratan, cuacanya sangat ekstrem,” ujar Ketua DPC HNSI Kota Tegal, H Riswanto, kemarin.

Kondisi tersebut, kata Riswanto, membuat ribuan nelayan tradisional di Pantura Kota Tegal terpaksa menganggur. Sebab, mata pencaharian mereka satu-satunya hanyalah menjadi seorang nelayan.

Untuk menyambung hidup, tak jarang dari mereka yang terpaksa mengambil pinjaman kepada pemilik kapal hingga kerabat dan sanak saudara. Termasuk pula si pemilik kapal, yang harus memutar otak untuk menutup angsuran pinjaman di bank.

“Kami berharap bantuan beras paceklik yang rutin diberikan dapat segera direalisasikan. Tak kalah penting, kami berharap pihak perbankan dapat memberi kelonggaran kepada nelayan yang memiliki tanggungan pinjaman,” tegasnya.

Berdasarkan data HNSI Kota Tegal, jumlah perahu tradisional di bawah 30 gross ton di Muarareja Timur mencapai sekitar 300 unit. Dari jumlah tersebut, 100 unit diperkirakan masih nekat pergi melaut dengan sistem one day fishing.

Sedangkan jumlah perahu di Muaraanyar diperkirakan mencapai 200 unit dan 50 unit masih melaut untuk mencari ikan.

“Bagi yang tidak memiliki rasa takut dan nekat mungkin masih bisa pergi. Tetapi, himbauan BMKG Semarang akan adanya cuaca ekstrem sudah kami sampaikan jauh-jauh hari dan seluruh nelayan diminta selalu waspada serta berhati-hati,” imbuh Riswanto.

Sementara, salah seorang nelayan, Woro (42) mengaku, selama tidak melaut, tidak ada penghasilan lain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selama itu pula, dirinya tetap berada di rumah atau sekadar melakukan perbaikan kecil pada perahu atau alat tangkap ikan.

Dalam kondisi normal, umumnya Woro pergi bersama dua ABK sejak pukul 05.00 WIB dan pulang pukul 14.00 WIB. Jika hasil tangkapannya banyak, penghasilan kotor mampu mencapai Rp 400 ribu.

“Satu hari bisa dapat Rp 400 ribu, tapi belum dipotong biaya solar Rp 200 ribu dan ABK. Tetapi kalau cuacanya seperti ini ya di rumah saja. Kadang juga memperbaiki jaring atau membersihkan perahu,” bebernya. (*)

BERITA LAINNYA