Take a fresh look at your lifestyle.

HIPMI Kota Tegal Minta Pemkot Edukasikan Covid-19 Sampai ke Tingkat Bawah

260

TEGAL – Minimnya pesan edukatif untuk masyarakat dalam menghadapi Covid-19 mengundang keprihatinan dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Tegal. Terlebih, banyak masyarakat yang terjebak ‘punic buying’ alat kesehatan di tengah mewabahnya virus mematikan ini.

Ketua HIPMI Kota Tegal terpilih periode 2020-2023, Dimas Setiawan berharap, Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal dapat bertindak cepat, mencari solusi terbaik untuk mengatasi punic buying yang marak terjadi di tengah masyarakat.

Menurutnya, masyarakat tidak dianjurkan membeli sejumlah alat kesehatan (alkes) dalam jumlah besar, yang belum diketahui asas manfaatnya. Seperti halnya membeli cairan disinfektan yang kemudian diolah dan dicampur dengan bahan-bahan lain. Padahal, tidak sembarang orang dapat memproduksi disinfektan secara mandiri.

“Masih kurangnya masyarakat yang teredukatif mengakibatkan ekonomi semakin tak terkendali. Punic buying terjadi di mana-mana. Banyak yang membeli cairan disinfektan, masker hingga hand sanitizer,” ungkap Dimas, Rabu (1/4) siang.

Untuk itu, pihaknya berharap jajaran Pemkot dapat bergerak cepat untuk mengatasi ketersediaan alat kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan. Termasuk tersedianya alkes bagi para tenaga medis, yang pada saat ini tengah berjibaku melawan ganasnya Covid-19.

Tak hanya itu, Pemkot juga diminta tetap melaksanakan edukasi langsung ke masyarakat sampai ke tingkat bawah secara menyeluruh mengenai Covid-19 dan penularannya. Terutama tentang dampak ‘panic buying’ yang mengakibatkan masker, hand sanitizer yang semakin langka di pasaran dan harganya melambung tinggi.

Bahkan, pria kelahiran Surakarta ini menilai, Pemkot melalui dinas terkait dapat menggerakkan UMKM dalam memproduksi masker kain. Mengingat, penelitian Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyebut, masker kain dapat mencegah virus yang dibawa oleh orang yang terinfeksi tetapi tidak bergejalan dengan prosentase penularan 72 persen.

“Semakin susah mendapatkan alkes. Padahal, masker medis hanya diperuntukkan bagi tenaga medis. Masyarakat yang masih sehat, dianjurkan mengenakan masker kain. Jika edukasi khusus ini ditekankan kepada masyarakat, mungkin tidak akan terjadi lagi panic buying,” tegasnya.

Ihwal penerapan isolasi wilayah yang berlaku sejak 30 Maret 2020 kemarin, HIPMI menilai, Pemkot perlu melakukan penambahan petugas maupun relawan di sejumlah titik masuk Kota Bahari. Sehingga, pengawasan yang dilakukan berjalan dengan maksimal.

Sebab, sambung Dimas, dari tiga titik, hanya satu lokasi saja yang mendapat penjagaan dan pengawasan petugas. Padahal, efek istilah local lockdwon yang diganti isolasi wilayah telah menggema di tanah air dan berdampak terhadap sosial ekonomi.

“Maksud tujuan pemerintah sangat baik dan efeknya sudah mengena. Secara tidak langsung, Tegal menasional dan orang-orang tahu, serta berfikir dua kali untuk masuk ke sini,” tukasnya.

Namun, tambah Dimas, Pemkot Tegal perlu menambah petugas maupun relawan untuk bertugas secara total di lapangan, sehingga konsistensi dalam melakukan pengawasan terjaga. Siapa-siapa saja yang masuk akan dapat terdata dan terkonfirmasi. (Haikal/red10)

BERITA LAINNYA