Take a fresh look at your lifestyle.

HIPMI : Buka Belum Tentu Melayani Pembeli, Apalagi Harus Tutup

-Tolak Kebijakan Dua Hari di Rumah Saja

36

TEGAL – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Tegal menolak program Jawa Tengah di Rumah Saja yang digagas Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Sebab, kebijakan tersebut dianggap kurang tepat dan tidak berpihak kepada masyarakat secara luas.

Ketua HIPMI Kota Tegal, Dimas Setiawan mengatakan, Pemerintah Pusat saat ini tengah fokus membuat stimulus pemulihan ekonomi kerakyatan. Maka, sangat tidak sinkron jika kemudian diambil kebijakan di rumah saja dan membatasi semua sektor ekonomi hingga menutup akses jalan.

Menurut dia, meski tidak semua tempat usaha ditutup, namun banyak pengusaha di Kota Tegal yang terdampak pandemi Covid-19. Dengan adanya kebijakan di rumah saja, maka semakin menambah beban yang dirasa para pelaku usaha.

Kendati demikian, sejak awal HIPMI mendukung Pemerintah dalam menangani dan menyelesaikan pandemi dengan berbagai cara. Hanya saja, kebijakan yang dikeluarkan Ganjar Pranowo secara out of the box dianggap kurang tepat dan diserap kurang baik oleh Pemerintah di daerah.

“Meskipun tidak semua harus tutup, namun masyarakat menyerapnya berbeda. Mereka pasti beranggapan harus di rumah saja. Apalagi di Tegal ruas jalan ikut ditutup dan lampu PJU ikut dipadamkan,” ungkapnya saat ditemui, Jumat (5/2)  kemarin.

Ditambahkan, meski Pemkot memberikan kompensasi, namun yang terdampak bukan hanya warga kurang mampu saja, melainkan seluruh elemen masyarakat secara luas. Bahkan, HIPMI juga mempertanyakan validitas data yang dimiliki Pemkot untuk menyalurkan bantuan.

“Kami berharap Pemkot dapat meninjau ulang kebijakan tersebut dan lebih mempertimbangkan banyak aspek. Karena saat dibuka saja belum tentu kita melayani pembeli, apalagi ini harus ditutup,” tandasnya.

Sementara, berdasarkan data dari HIPMI, hampir 20 persen dari 460 pengusaha di Kota Tegal terdampak pandemi. Bahkan, tak sedikit dari jumlah tersebut yang kondisinya sangat memprihatinkan hingga harus gulung tikar.

“Bagi usaha menengah atas mungkin sedikit banyak ikut merasakan. Tetapi mereka yang berjualan hari itu dan hasilnya dimakan untuk saat itu juga yang kasihan,” ujarnya.

Pria yang menekuni usaha Handphone ini berharap, Pemerintah dapat memberikan stimulus yang tepat. Baik untuk kebijakan di pusat, provinsi maupun di daerah.

“Jauh akan lebih tepat jika mendisiplinkan masyarakat dengan pesan 3M. Namun, jika ada solusi yang lebih manusiawi, kami akan mendukung,” tutupnya. (*)

BERITA LAINNYA