Take a fresh look at your lifestyle.

Hari Pertama Karantina Wilayah, Aktivitas Berjalan Normal

140

TEGAL – Hari pertama diterapkannya karantina wilayah di Kota Tegal, Senin (30/3) siang, tidak berpengaruh luas terhadap aktivitas warga. Hampir sebagian besar warga, tetap melakukan kegiatannya meski beberapa jalan telah ditutup Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal menggunakan beton.

Sejumlah titik yang tidak tertutup, dijadikan jalan alternatif dadakan para pengguna jalan. Dengan leluasa, mereka keluar masuk ke wilayah kota tanpa pemeriksaan petugas. Hanya saja, untuk kendaraan roda empat ke atas, diharuskan melintasi jalan yang telah ditentukan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa jalan yang direncakanan ditutup total menggunakan beton, dalam praktiknya hanya ditutup separuh saja. Mengingat lajur tersebut digunakan sebagai hilir mudik operasional kendaraan tangki milik Pertamina dan kendaraan sembako.

Pada jam-jam tertentu, kondisi jalan yang hanya tertutup sebagian justru menimbulkan permasalahan baru. Dimana kendaraan dari arah berlawanan saling berebut, sehingga menyebabkan antrean yang mengular. Pada sisi lain, rekayasa lampu lalu lintas tetap diberlakukan seperti biasa.

Di tengah kebijakan karantina wilayah, dampak ekonomi juga belum begitu dirasakan. Bahkan, Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Tegal memastikan bahwa sistem pembayaran di Kota Bahari tetap berjalan lancar. Untuk mengantisipasi berbagai gejolak di lapangan, BI Tegal telah melakukan koordinasi dengan sejumlah intansi terkait.

Melalui rilis resminya, KPw BI Tegal akan memastikan kondisi tersebut akan bertahans selama Pemkot menerapkan karantina wilayah. Meski, jadwal kegiatan operasional dan layanan publik perbankan telah dipersingkat, sejak adanya pengumuman pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19 pada 17 Maret 2020 hingga 29 Mei 2020.

Berbeda halnya dengan para pelaku usaha di Pasar Pagi, Kota Tegal. Sebagian besar dari mereka mengeluhkan lesunya perputaran rupiah di pasar tradisional tersebut. Hampir sepekan terakhir, omset mereka turun hingga 70 persen dari hari biasanya.

Menurut para pedagang, sejak isu Covid-19 mewabah di Indonesia, transaksi setiap hari hanya tertahan di angka Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Padahal, biasanya omset per hari mampu mencapai Rp 500 ribu.

Merosotnya omset pedagang, juga dirasakan sebagian besar pedagang kios di Blok B Pasar Pagi. Mereka membenarkan semakin sepinya pengunjung pasar sejak awal Maret 2020. Terlebih, diterapkannya kebijakan karantina wilayah membuat antusiasme masyarakt pergi ke pasar semakin berkurang. (Haikal/red10)

BERITA LAINNYA