Take a fresh look at your lifestyle.

Harga Tanah Uruk Naik, Sopir Dump Truk Mogok Kerja

40

SLAWI – Belasan sopir dump truk di Kabupaten Tegal melakukan aksi mogok kerja di kawasan galian C di Kecamatan Kedungbanteng, Kamis (4/2). Aksi itu dilakukan menyusul harga tanah uruk galian C mengalami kenaikan lebih dari 60 persen. 

Informasi di lapangan, para sopir dump truk yang tergabung dalam Paguyuban Sopir Truk Bregas ini sempat berunjuk rasa di kawasan galian C menuntut harga tanah uruk diturunkan. Namun demikian, aksi itu belum membuahkan hasil.

“Kemarin (Rabu, 3/2), kami sempat demo. Tapi harganya tetap tidak bisa turun. Akhirnya kami mogok kerja,” kata salah satu sopir dump truk, Desi Larasati (23) saat ditemui, Kamis (4/2).

Ia menuturkan, harga tanah uruk sebelumnya hanya Rp 90 ribu per bak truk kecil. Sekarang naik menjadi Rp 130 ribu. Padahal, dari Rp 90 ribu itu, para sopir menjual ke konsumen hanya Rp 300 ribu. Dari jumlah tersebut, para sopir hanya mengantongi untung Rp 40 ribu. Itu setiap satu rit atau satu truk.

“Jadi rinciannya, Rp 300 ribu itu dipotong untuk modal Rp 90 ribu. Kemudian untuk operasional di jalan dan beli solar Rp 70 ribu. Sedangkan untuk setoran truknya Rp 100 ribu. Sisanya hanya Rp 40 ribu. Nominal itu yang dibawa pulang untuk keluarga kami di rumah,” kata Desi, warga Desa Punusupan, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal ini.

Menurut Desi, kenaikan harga tanah uruk yang dilakukan oleh pemilik quarry itu berlaku sejak 1 Februari 2021. Desi berharap, jika hendak dinaikkan, mestinya bertahap. Misal, dimulai dari 10 persen hingga 15 persen. Sehingga sopir tidak kesulitan menjualnya.

“Ini kenaikannya drastis sekali, sampai sekitar 60 persen. Jadi kami (sopir) bingung mau menjualnya dengan harga berapa,” keluhnya.

Dewan Penasehat Paguyuban Sopir Truk Bregas, Toipin SH MH, menyayangkan kenaikan harga tanah tersebut tanpa memberikan pertimbangan sebelumnya. Mestinya, kenaikan harga bertahap mengingat saat ini sedang masa pandemi. Kondisi perekonomian sedang melemah, terlebih para sopir dump truk. Mereka hanya mengandalkan upah dari angkutan tanahnya.

“Jangan membuat masyarakat kecil semakin terpuruk, kasihan mereka. Biaya hidup mereka juga besar, harus membiayai anak-anak dan istrinya. Sebaiknya harganya jangan dinaikkan secara drastis,” tukasnya.

BERITA LAINNYA