Take a fresh look at your lifestyle.

Harga Bawang Merah di Brebes Anjlok Rp 8.000/ Kg

189
  • Akibat Panen Raya, Petani Rugi Hingga Puluhan Juta


BREBES – Harga bawang merah di tingkat petani, di Kabupaten Brebes, kini anjlok hingga Rp 8.000/ kg. Anjloknya harga itu, dipicu panen raya yang terjadi secara merata di beberapa daerah penghasil bawang merah di luar Kabupaten Brebes. Dampaknya, para petani para musim panen kali ini mengalami kerugian besar. Bahkan, kerugian yang ditanggung mencapai puluhan juta rupiah.

Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Pusat, Juwari mengungkapkan, anjloknya harga bawang merah itu sudah terjadi dalam dua minggu terakhir. Untuk bawang merah kualitas super yang harga sebelumnya mencapai Rp 17.000/ kg, saat ini turun menjadi Rp 11.000 – Rp 12.000/ kg. Sedangkan untuk harga bawang merah kualitas sedang yang sebelumnya Rp 10.000 – Rp 11.000/ kg, kini turun menjadi Rp 8.000 – Rp 9.000/ kg. Harga tersebut jelas sangat merugikan petani karena jauh dari Break Event Point (BEP) atau harga impas petani. “Petani di Brebes akan impas atau tidak akan mengalami kerugian, ketikaharga jual bawang hasil panennya mencapai Rp 13.800/ kg. Ini merupakan harga BEP. Namun kondisi sekarang harga jualnya jauh di bawah BEP,” ujarnya.

Menurut dia, anjloknya harga bawang merah di tingkat petani tersebut lebih cenderung disebabkan karena panen raya. Dimana, saat ini panen raya terjadi hampir di seluruh daerah penghasil bawang merah di luar Kabupaten Brebes. Di antaranya, Kedal, Demak, Pati, Sregen (Jateng), Bantul (Yogyakarta), Probolinggo, Nganjuk dan Malang (Jatim). Di sisi lain, anjloknya harga bawang itu sebenarnya siklus tahunan yang terjadi saat musim panen raya. Yakni, terjadi setiap Agustus hingga September. Namun anjloknya harga kali ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya pada periode yang sama. Padahal, pada musim panen tahun ini luasan tanam bawang di Brebes lebih sedikit. Yakni, sekitar 5.800 hektare. Itu lantara musim kemarau dan petani cenderung kesulitan air, sehingga tidak berani nemanam bawang dengan areal luas. “Kalau saya lihat, anjloknya harga bawang ini karena derah lain juga panen raya. Sehingga, harga turun lebih rendah. Padahal biaya tanamnya sangat mahal. Untuk setengah hektare, petani butuh modal minimal Rp 60 juta. Dengan harga seperti ini, jelas kami rugi hingga puluhan juta,” ungkapnya.

Guna meminimalisir kerugian petani yang lebih besar, lanjut dia, pihaknya telah memberikan informasi ke para petani untuk tidak melepas seluruh hasil panennya. Dalam artian, untuk lebih menahan dan menyimpan hasil panen tersebut. Kemudian, baru dijual saat stok di pasar berkurang. Di samping itu, pihaknya juga menyarankan untuk mengatur pola tanam, sehingga saat panen tidak bersamaan dengan daerah lain.

“Kami juga mendesak pemerintah melalui Bulog untuk segera melakukan penyerapan terhadap bawang merah petani. Melalui penyerapan itu, harga akan bisa kembali stabil. Namun,  hingga saat ini belum ada tanda-tanda upaya penyerapan ini’.

(Setiawan/ red2)

BERITA LAINNYA