Take a fresh look at your lifestyle.

Guru Harus Pahami Literasi Abad 21

180
  • Yudisium PPG FKIP UPS Tegal

TEGAL – Dekan FKIP Universitas Pancasakti (UPS) Tegal Dr Purwo Susongko MPd mengatakan, tantangan guru dalam proses belajar mengajar kian beragam, dan tak bisa anggap sepele. Apalagi di era industri 4.0, guru harus memahami perkembangan literasi di Abad 21.

Hal itu disampaikan saat Pelepasan Yudisium bagi mahasiswa program Pendidikan Profesi Guru (PPG) tahun akademik 2019, Rabu (7/8). Karena kelak yang akan dihadapi lulusan program tersebut, dalam proses belajar mengajar, adalah murid-murid atau peserta didik yang hidup pada Abad 21. Atau di Era Industry 4.0 dengan Bigdata.

”Tentu berbagai kemampuan tentang teknologi informasi sudah dibekalkan selama alumni mengikuti kegiatan PPG. Di sisi lain, jangan dilupakan juga literasi abad 21. Dulu kita hanya mengenal literasi, menggunakan bahasa secara efektip seperti membaca dan menulis. Sedangkan literasi Abad 21 lebih luas lagi,” ucap dia.

Dia menambahkan, ciri-ciri leterasi abad 21 cukup banyak. Antara lain, kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, dan kemampuan menemukan discovery inquiry, kemampuan memecahkan masalah. Ciri lainnya adalah, kemampuan mengatasi perbedaan, kemampuan menggagas ide-ide baru dan menggunakan teknologi sebagai alat bantu, serta mengakui belajar itu sepanjang hayat.

”Kita sudah memulainya. Baik mahasiswa, guru, dosen, termasuk para pembina yang harus selalu meriset, dan membuat produk sebagai persyaratannya untuk profesinya. Literasi Abad 21, siapa yang akan mengalaminya, itu adalah murid-murid dan gurunya, termasuk dosen dan mahasiswanya,” tandas Purwo Susongko.
Lebih Kompleks

Literasi Abad 21, menurut dia, telah mengalami perluasan. Juga telah didefinisikan ulang sehingga lebih kompleks. Pertanyaannya, bagaimana pembelajaran bisa menggamit semua ciri pembelajaran literasi di abad sekarang.
Pada kenyataannya, lanjut dia, sering diungkapkan, sering dirancang, dilaksanakan, dinilai tentang pemecahan masalah di kelas.

Tanpa menghilangkan juga local wisdom. Karena kalau bukan oleh kita, oleh siapa lagi kearifan lokal mau dipelihara. ”Peliharalah budaya bangsa ini. Saya yakin kalau budaya timur ini merasuk kepada murid-murid, pihak lain akan susah menyingkirkan kita di tempat kita,” ucap dia.

Sebaliknya bila sudah kehilangan jatidiri, budaya yang tidak dikuatkan, yang menapak pada tanah air, akan mudah sekali budaya lelulur yang adi luhung disingkirkan. Oleh karena itu, menurut dia, dalam pembelajaran pun, persoalan budaya lokal harus tetap diperkuat dan terues dipertahankan.
Sementara itu, Kaprodi PPG Dr Titi Kisrina MPd, yang menyampaikan hasil PPG yang dilaksanakan FKIP UPS Tegal dan membacakan SK Yudisium mengatakan, peserta PPG yang mengikuti yudisium sebanyak 20 orang dari Prodi Bahasa Inggris.

Rektor UPS Tegal Dr Burhan Eko Purwanto MHum menyampaikan selamat kepada peserta yang sudah dinyatakan lulus. Apalagi pencapaian kelulusannya diraih tidak mudah. ”Selamat melaksanakan tugas, mudah-mudah harapan-harapan pemerintah, dengan hadirnya anda sebagai pengganti guru-guru yang akan pensiun, pendidikan Indonesia dapat menunjukan kehebatannya. Selamat membangun pendidikan yang kekinian di Abad 21 di Era Industr 4.0. Selamat menegakan kehormatan pendidikan di negara kita,” ucap dia.

(Rio Toepra/ Red2)

BERITA LAINNYA