Take a fresh look at your lifestyle.

Ekonomi Mencekik Niat Lusi Bersekolah

137

Tegal. Faktor ekonomi masih menjadi penyebab siswa putus sekolah. Seperti yang di alami Lusiana Irawan (16) warga jalan Tanjung RT 2, RW IV Kelurahan Kejambon, Tegal Timur.

Karena tak memiliki biaya, Lusi anak semata wayang dari pasangan alm. Beni Irawan dan Dyah Repelita (43), ini hanya mampu sampai lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Keterbatasan ekonomi, mencekik niat Lusi untuk melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia saat ini tinggal dengan ibunya yang mengalami kelumpuhan. Sementara ayahnya meninggal sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Tak lagi bersekolah, kini ia harus terjaga dirumah setiap hari. Menemani ibunya yang sakit. Sudah dua tahun lebih kaki ibunya lumpuh. Jatuh terpleset di kamar mandi.

Selain itu, rumah yang menjadi tempat tinggal Lusi dan ibunya pun kecil. Hanya terdiri dari satu kamar dan satu toilet sekaligus dapur. Sebelum mengalami kelumpuhan, ibu Lusi bekerja di pabrik obat nyamuk. Karena tak lagi bekerja, ibunda Lusi tak lagi mampu membiayai sekolahnya.

Lusi sendiri mengaku, keinginannya untuk melanjutkan sekolah sangat tinggi. Ijazah SMP-nya masih tertahan di sekolahnya. Ia menunggak biaya sekolah sebesar Rp 1 juta.

Sementara ibu Lusi, saat ditanya mengenai pengajuan bantuan ke kelurahan, Dyah mengaku sempat mengajukan. Namun tak kunjung realisasi sampai kini. “Dulu udah lama pernah ngajukan bantuan. Tapi kan katanya itu yang dapat rezeki-rezekian,” ungkapnya.

Dyah berharap, Pemkot Tegal bisa lebih memperhatikan. Rumahnya mendapat program rehab, dan putrinya bisa lanjut bersekolah. “Saya sangat berharap butuh uluran tangan dari pemerintah, dan bisa membantu anak saya hingga sekolahnya selesai,” harap dia.

Mendengar kabar itu, Wakil Wali Kota M. Jumadi meninjau kediaman Lusi, Selasa (16/7). Jumadi datang bersama sejumlah pejabat Pemkot. Keprihatinan dan rasa empati disampaikan Jumadi.

Jumadi tak menduga, kalau di Kota Tegal masih ada orang yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi. Rumah tinggalnya pun tak layak. Ia mengaku pihak Pemkot akan mendorong agar Lusi bisa sekolah lagi. Selain itu juga akan memberikan bantuan dengan memberikan jaminan kesehatan.

Sementara itu untuk rehab rumah, Jumadi menyampaikan, sebetulnya Pemkot sudah mengajukan rumah tersebut untuk di lakukan rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Namun terkendala persetujuan keluarga.

Sebab rumah yang sekarang ditempati Lusi dan ibunya berstatus rumah waris keluarga. Jumadi berharap keluarga bisa tergugah untuk memberikan izin agar rumah tersebut bisa direhab.

“Ini merupakan masukan bagi Pemkot bagaimana Pemkot seharusnya memiliki ‘one data’. Dimana Lurah dan Camat bisa memberikan informasi yang akurat. Warga yang benar-benar membutuhkan bantuan akan dapat terdeteksi oleh OPD terkait,” pungkasnya.

(setiadi)

BERITA LAINNYA