Take a fresh look at your lifestyle.

Ekologi Mendukung, Hasil Panen Bawang Putih di Desa Rembul Menggembirakan

113

BOJONG-Balai Penelitian Tanaman Sayuran , Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, sejak Mei 2019  mengadakan penelitian  teknologi budidaya  bawang putih di Dusun Karanganyar, Desa Rembul, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.

Pada penelitian tersebut, Balitsa menanam dua varietas bawang putih lokal, yakni Tawangmangu Baru dan Lumbu Hijau diatas demplot seluas 4.000 meter persegi.

Kepala Balitsa, Balitbang Kementan RI , Dr Ir Catur Hermanto mengatakan, penelitian teknologi budidaya bawang putih ini dilakukan sebagai upaya utama untuk meningkatkan produktivitas bawang putih di Indonesia.  Dengan pengelolaan yang dilakukan, hasil panen dari budidaya tersebut,  dapat digunakan sebagai benih.

“Target kami meningkatkan produktivitas sampai diatas 20 ton per hektar,”terangnya di sela-sela kegiatan panen demplot teknologi bawang putih di Dusun Karanganyar, Desa Rembul, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Selasa (1/10) pagi.

Catur menyebutkan, selain meningkatkan produktivitas sampai diatas 20 ton per hektar, Kementan juga menargetkan menggunakan bawang putih varietas lokal untuk produksi nasional, sehingga ketersediaan benih harus  terpenuhi.

“Target pemerintah, seluruh produksi nasional saat ini sedapat mungkin bisa dijadikan benih. Untuk modal,”tuturnya.

Dikatakan olehnya, target benih bawang putih  untuk memenuhi kebutuhan nasional, yakni 60.000 ton.

Catur mengatakan, ujicoba dua varietas yang dilaksanakan di demplot Kabupaten Tegal ini ternyata melebihi hasil panen dari lokasi lainnya. Hal menggembirakan, karena Balitsa dapat memproduksi bawang putih mencapai 35 ton per hektar untuk varietas Tawangmangu Baru dan 27 ton per hektar dari varietas Lumbu Hijau.

Sementara saat melakukan ujicoba di  demplot Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar pada 2018, hasil untuk varietas Lumbu Hijau hanya mencapai 23, 6 ton per hektar dan Tawangmangu Baru mencapai  26,9 ton per hektar.

Menurut Catur, hasil ujicoba ini diproyeksikan dapat melawan gempuran produk bawang putih impor, terutama dari China. Tidak dipungkiri, bahwa saat ini Indonesia diserbu bawang putih impor dari China.

“Kebutuhan bawang putih 450 ribu sampai 500 ribu ton per tahun, 95 persen dipenuhi dari impor,”sebutnya.

Catur menyebutkan, produksi bawang putih di China sangat tinggi mencapai 26 ton per hektar,sedangkan,  petani lokal bawang putih lokal di Indonesia baru mampu mencapai maksimal 7 ton per hektar setiap musim panen.

Dengan hasil penelitian yang menggembirakan ini, diharapkan teknologi Balitsa  ini bisa diadopsi petani, sehingga target produksi bawang putih nasional terpenuhi, bahkan bisa memenuhi target swasembada bawang putih pada tahun 2021.

Dipilihnya  Desa Rembul sebagai lokasi penelitian, selain ekologinya bagus juga aksesnya mudah.

Sementara itu, Peneliti Senior Balitsa, Dr Rofik Sinung Basuki menyebutkan, penelitian dilakukan sejak Mei lalu. Varietas Tawangmangu Baru ditanam 16 Mei 2019 dan Lumbu Hijau pada 23 Mei 2019.

Lumbu Hijau memiliki usia  tanam 120 hari, sedangkan Tawangmangu Baru 120 hari sampai 140  hari.

“Keunggulannya Lumbu Hijau usia lebih genjah, sedangkan Tawangmangu Baru produktivitas lebih tinggi, dan hasilnya lebih besar-besar,”sebutnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kabupaten Tegal, Khofifah sangat menyambut terobosan baru guna mengejar produktivitas.

Sebab, apabila hasil ujicoba ini sudah dikembangkan secara luas, dia optimis produksi dalam negeri bakal mengalahi bawang putih dari impor.

“China sudah mencapai 26 ton per hektar. Dengan langkah inovasi ini, kita mampu memperoleh lebih dari produktivitas bawang putih impor dari China.

Khofifah menambahkan, saat ini saja, sudah delapan  importir bawang putih masuk di Kabupaten Tegal. (Sari/Red 6)

 

BERITA LAINNYA