Take a fresh look at your lifestyle.

DKT Dukung Penggunaan Pakaian Adat dan Bahasa Tegal

154

TEGAL – Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT) mendukung terhadap kebijakan Wali Kota yang mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemkot Tegal menggunakan pakaian adat dan bahasa Tegal setiap hari Kamis minggu kesatu sampai dengan minggu ketiga. Hal itu disampaikan Ketua DKT, Yono Daryono, kemarin.

Menurut dia, adanya kebijakan tersebut sebagai wujud melestarikan budaya. Dengan demikian, pakaian adat maupun bahasa Tegal tidak punah seiring kemajuan zaman. Selain itu, juga diharapkan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya para perajin batik maupun pakaian adat Tegal. “Batik khas Kota Tegal , seperti gabigan, tumbar bolong, beras mawur, sawatan, blarak sempal dengan sarung palekat serta ikat kepala wulung,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Lembaga Pengkajian dan Pengembangan (LPP) Bahasa Tegal, Haryo Guritno mengatakan, pihaknya sepakat dengan kebijakan Wali Kota tiap satu hari dalam sepekan birokrasi menggunakan dialek Tegal dalam pelayanan publik. Kebijakan tersebut dinilai responsif karena LPP Bahasa Tegal saat ini diperjuangkan untuk muatan lokal mata pelajaran bahasa Jawa yang digunakan warga Kota Tegal secara turun temurun. “Pelajar Kota Tegal mengalami kesulitan jika menggunakan bahasa Jawa dialek Solo sebagaimana ditetapkan berdasar kurikulum yang sudah berjalan. Kami juga terus berupaya untuk dibentuk Perda melalui Naskah Akademik Rancangan Perda yang sudah disiapkan sebagai Perda Bahasa Tegal,” paparnya.

Sementara itu, dalam Surat Edaran (SE) Walikota Tegal Nomor 065.5/001 tanggal 31 Desember 2019 dan berlaku mulai 2 Januari 2020 disampaikan, kebijakan menggunakan pakaian adat dan bahasa Tegal dalam rangka memelihara dan menjaga rasa nasionalisme serta semangat Bhinneka Tunggal Ika, maka perlu diimplementasikan melalui penggunaan pakaian adat/tradisional dan Bahasa Tegal di Lingkungan Pemerintah Kota Tegal.

Ketentuan desain pakaian adat/tradisional Kota Tegal sesuai SE Walikota, untuk laki-laki menggunakan ikat kepala wulung, pakaian adat bagian atas berwarna hitam yang dibuat model baju pangsi berlengan panjang, tanpa kerah, dengan kancing di depan dan dikenakan dengan cara dikeluarkan dari celana. Bagian depan baju dilengkapi dengan dua saku tempat di bawah kanan-kiri dan satu saku dalam di atas sebelah kiri. Sarung tenun palekat diikatkan di pinggang. Pakaian adat bagian bawah berwarna hitam dibuat model celana longgar dengan panjang celana sampai di atas mata kakai (cingkrang) dan alas kaki berupa sandal model jepit dari bahan kulit.

Untuk perempuan, pakaian adat bagian atas berwarna hitam, dibuat model baju kurung berlengan panjang, tanpa kerah dikenakan dengan cara dikeluarkan dari bawahan. Sementara bagi yang berjilbab, dapat menggunakan jilbab/kerudung dengan warna menyesuaikan pakaian dan kain yang dikenakan. Selendang batik Kota Tegal dikenakan dengan cara dislampirkan di bahu sebelah kanan. Motif selendang senada dengan kain (bagian bawah) yang dikenakan. Sedangkan pakaian adat bagian bawah berupa kain batik Kota Tegal yang dikenakan panjang sampai mata kaki dan alas kaki berupa sandal model selop dari bahan kulit.

Penggunaan pakaian adat/tradisional tersebut berlaku untuk semua perangkat daerah, kecuali Satpol PP, Dishub yang melaksanakan tugas operasional dan Petugas penguji kendaraan bermotor. Bahasa Tegal wajib digunakan oleh seluruh pegawai di Lingkungan Pemerintah Kota Tegal pada jam kerja setiap hari Kamis. (Wawan Hoed/Red1)

BERITA LAINNYA