Take a fresh look at your lifestyle.

Dinkes Dapat Anggaran Paling Besar, Tapi SOP ODP Meninggal Dunia Saja Belum Dibuat

256

SLAWI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal mendapatkan porsi terbesar dalam anggaran percepatan penanganan Covid-19 sekitar Rp 90 miliar (M). Namun demikian dengan anggaran sebesar itu, Dinkes belum memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam penanganan Orang Dalam Pengawasan (ODP) yang meninggal dunia.

“Harusnya Dinkes sibuk untuk penanganan pasien Covid-19, dari mulai SOP hingga perlengkapan medis yang dibutuhkan. Bukan sibuk ngurus pengadaan masker kain UMKM,” kata Anggota Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Tegal, M Khuzaeni, Minggu (26/4).

Dikatakan, belum dimilikinya SOP ODP saat meninggal dunia diketahui saat dirinya mendapatkan informasi dari warga Lebaksiu yang statusnya ODP meninggal dunia pada Sabtu (25/4). Informasi itu disampaikan tetangganya ODP yang meninggal dunia, karena keluarganya akan memakamnya secara umum. ODP merupakan laki-laki berusia 27 tahun yang baru pulang dari Pulau Bali sekitar 10 hari lalu.

“Saya langsung menghubungi Bupati untuk menginformasikan itu. Saya disuruh menghubungi Jubir Covid-19 dari Dinkes. Tapi, saya suruh hubungi RSUD Soeselo, dan dari rumah sakit hanya menangani Pasien Dalam Pengawasan (PDP),” beber pria yang akrab Jeni itu.

Saling lempar tanggungjawab itu, lanjut dia, membuatnya kembali menghubungi Bupati. Namun, belum ada jawaban yang pasti sehingga Ia meminta Polsek Lebaksiu untuk melakukan penjagaan di rumah ODP tersebut. Setelah menunggu cukup lama, ambulance dari rumah sakit datang dengan membawa peti jenazah dan petugas yang mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Jenazah ODP itu akhirnya dimakamnya dengan prosedur pemakaman pasien Covid-19.

“Kalau saja yang melaporkan masyarakat umum, mungkin tidak direspon,” ujarnya.

Dikatakan, kinerja Dinkes dalam penanganan Covid-19 perlu dibenahi. Kendati sudah melakukan persiapan penanganan Covid-19 cukup lama, namun masih banyak yang belum dipersiapkan. Selain SOP ODP, Dinkes diharapkan membuat tim reaksi cepat. Pihaknya berharap dibentuk tim reaksi cepat yang bekerja 24 jam yang terbagi menjadi beberapa shif, sehingga jika ada kejadiaan mendadak bisa cepat ditangani. Termasuk tim untuk pemulasaran jenazah Covid-19.

“Kalau petugas dari ASN tidak bisa diandalkan. Lebih baik rekrut relawan untuk tim reaksi cepat yang tugas 24 jam. Anggarannya ada dari Dinkes sendiri alokasinya Rp 90 miliar,” pintanya.

Ditambahkan, pihaknya juga kecewa denga call center 119 yang dimiliki Dinkes Kabupaten Tegal. Saat kejadiaan tersebut, Ia juga sempat menghubungi nomor tersebut, tapi nomor 119 tidak aktif.

“Hanya sekedar memenuhi SOP, tapi tidak berfungsi,” pungkasnya. (Wiwit-red03)

 

BERITA LAINNYA