Take a fresh look at your lifestyle.

Diijinkan, Kegiatan Ibadah Bulan Ramadan Tetap Harus Patuhi Protokol Kesehatan

42

SLAWI,smpantura.com – Masih dalam masa pandemi Covid-19, Ramadan 1442 Hijriyah/2021 ini akan terasa berbeda dari tahun lalu. Umat Islam dipersilahkan memakmurkan masjid dan mushala di wilayah masing-masing, dengan menerapkan protokol kesehatan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal Sukarno melalu Kasi Bimbingan Masyarakat, Ahmad Syaifuddin Zuhri menyampaikan, Kementerian Agama telah menerbitkan Surat Edaran nomor 03/2021 tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 Hijriyah/2021.

Menurut Syaifuddin, sesuai dengan panduan ibadah tersebut, umat Islam dipersilahkan untuk memakmurkan masjid dan mushala di wilayah masing-masing.
“Tidak disebutkan pembatasan misalnya pada lansia dan anak-anak, Jadi dipersilahkan saja,”terang Syaifuddin, Selasa (6/4).

Lebih lanjut Syaifuddin mengatakan, dalam rangka mencegah dan memutus rantai penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) serta memberikan rasa aman kepada umat Islam dalam menjalankan ibadah pada bulan suci Ramadan tahun 1442 H/2021,maka ibadah dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan.
“Jemaah harus memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun, dan bagi jemaah yang merasa tidak sehat tidak dipersilahkan datang ke masjid atau mushala,” jelasnya.

Pengurus dan pengelola masjid atau mushala wajib menunjuk petugas yang memastikan penerapan protokol kesehatan dan mengumumkan kepada seluruh jamaah seperti melakukan disenfektan secara teratur, menyediakan saranacuci tangan di pintu masuk masjid atau mushala, menggunakan masker, menjaga jarak aman, dan setiap jamaah membawa sajadah/mukena masing-masing.

Sementara itu, kegiatan pengajian ceramah/tausiyah/kultum dan kuliah Subuh paling lama dengan durasi waktu 15 menit. Salat fardu lima waktu, salat tarawih dan witir, tadarus Alquran, dan iktikaf dengan pembatasan jumlah kehadiran paling banyak 50 persen dari kapasitas masjid/mushala . Demikian pula dengan kegiatan Nuzulul Quran yang diadakan di dalam maupun di luar gedung, wajib memperhatikan protokol kesehatan secara ketat dan jumlah audiens paling banyak 50 persen dari kapasitas tempat/lapangan.

Kegiatan pengumpulan dan penyaluran zakat, infak, dan sadaqah (ZIS) serta zakat fitrah oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan dan menghindari kerumunan massa.“Harapannya untuk penyakuran zakat fitrah, masjid sudah mempunyai unit pengumpul zakat (UPZ), tidak lagi panitia zakat fitrah. Ini sudah disosilasiasikan pada masyarakat,”tuturnya.
Syaifuddin menambahkan, Sahur dan buka puasa dianjurkan dilakukan di rumah masing-masing bersama keluarga inti.

Sementara itu, para mubaligh/penceramah agama diharapkan berperan memperkuat nilai-nilai keimanan, ketakwaan, akhlaqul karimah, kemaslahatan umat, dan nilai-nilai kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui bahasa dakwah yang tepat dan bijak sesuai tuntunan Al quran dan As-sunnah.

(T04-Red)

BERITA LAINNYA