Take a fresh look at your lifestyle.

Digelar Virtual, ISC UPS Tegal Menarik Minat Mahasiswa Asing

137

* Bahas Kepemimpinan dan Kebudayaan

TEGAL – Ajang tahunan bertajuk ”International Summer Camp”, yang digelar Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, meski tahun ini digelar secara virtual, ternyata tetap menarik minat ratusan mahasiswa asing dan tanah air.

Hal itu terungkap dari data peserta yang mengikuti kegiatan pertukaran dan pengenalan budaya budaya antarbangsa, tercatat mencapai 308 mahasiswa asing dan sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia.

”Tahun ini kegiatannya terpaksa digelar secara daring atau virtual. Karena ada pandemi Covid 19. Mahasiswa asing tak bisa berkunjung ke UPS Tegal, demikian juga dari Indonesia tak bisa ke luar negeri.

Ada banyak pembatasan aturan demi mencegah penularan virus korona ini,” terang Wakil Rektor II Dr M Khamim SH MH, saat membuka kegiatan tersebut.

Dia mengengkapkan, meski digelar secara virtual, kegiatan tahunan tersebut tetap dapat berlangsung sukses.

Bahkan para pakar yang didaulat menjadi pembicara, mendapat perhatian serius dari mahasiswa. Terbukti dari banyaknya pertanyaan dan pendapat yang diayunkan mahasiswa.

Kepala UPT Urusan Luar Negeri dan Kerja sama Dalam Negeri atau Office Cooperation and International Affair (OCIA) UPS Tegal Dr Yoga Prihatin MPd mengatakan, selain dirinya yang juga sebagai pembicara dan penyelenggara kegiatan itu, juga ada pembicara dari perguruan tinggi luar negeri.

Mereka adalah, Ms Alaa Mohamed Ibrahim dari Alexandria University Mesir. Mr Ahmad Khalil Yaqubi dari Afghanistan, Mr Youssef Baqil dari University Hassan 1st , Maroko.

Kemudian Mr Omar El Asli dari Kedutaan Maroko di Jakarta, dan Ms Nguyen Thi Hoai Huong dari Kedutaan Vietnam di Jakarta.

Sedangkan mahasiswa S1 yang mengikuti kegiatan tersebut, tercatat berasal dari Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, IAIN Tulungagung, IAIN Pekalongan, dan UPS Tegal selaku tuan rumah.

Mahasiswa Asing

Untuk mahasiswa asing atau dari luar negeri, berasal dari Universitas Alexandria Mesir, Prince of Sonkla University, Hatyai University Thailand, dan University Moulay Ismail of Meknes, Maroko.

Kegiatan tersebut mengusung tema ”Youth Leadership Intercultural Communication, Cross Cultural Understanding, Maintaining Global Healthy Environment”.

Tema tentang kepemimpinan dan kebudayaan yang berbeda-beda, yang dibahas dalam kegiatan itu, cukup menarik perhatian mahasiswa.

Seperti yang disampaikan Youssef Baqil dari Maroko.
Menurut dia, kepemimpinan yang efektif, antara lain, kepemimpinan yang mampu memotivasi dan menginspirasi masyarakat.

Seorang pemimpin, selain memiliki kecerdasan yang baik, juga harus mampu mengimplementasikan visinya dengan baik. ”Mampu berfikir objektif, dan menghargai sesama,” ucap dia.

Ms Alaa Mohamed Ibrahim menambahkan, untuk menjadi seorang pemimpin, seseorang perlu mengenali dirinya sendiri.

Antara lain, dengan mengetahui kelemahan dan kekurangannya. Sehingga bisa mengenali potensi diri untuk menjadi pemimpin yang baik.

Sementara itu Omar El Asli membeberkan soal pentingnya menghargai orang lain, untuk dapat berkomunikasi dengan berbagai orang, yang berbeda latar belakang budayanya. Dengan demikian, komunikasinya dapat berjalan dengan baik.

”Komunikasi antarbudaya berfokus pada pengenalan dan penghormatan terhadap perbedaan budaya, mencari tujuan adaptasi timbal balik,” papar dia.

Pandangan menarik tentang kepemimpinan dan kebudayaan, diletupkan Nguyen Thi Hoai Huong. Menurut dia, tentang pemahaman lintas budaya sebenarnya dapat dilakukan secara sederhana.

Antara lain, kata dia, dengan mengacu pada kemampuan dasar seseorang untuk mengenali, menafsirkan, dan bereaksi dengan benar. Hal itu, untuk menghindari kesalahpahaman karena perbedaan budaya.

”Pentingnya persepsi yang positif terhadap budaya sendiri dan orang lain, agar timbul rasa cinta. Sehingga seseorang dapat saling menghargai dan ikut melestarikannya,” ucap dia menutup pembicaraannya.(Riyono Toepra-red07)

BERITA LAINNYA