Take a fresh look at your lifestyle.

Diduga Korupsi, Dua Perangkat Desa Kedokan Sayang Dituntut Mundur

114

TARUB – Puluhan warga Desa Kedokan Sayang, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal ujuk rasa di depan balai desa setempat, Senin (14/9). Warga menuntut dua perangkat desa setempat mundur dari jabatannya, karena diduga telah melakukan tindakan korupsi dan asusila.

Dalam unjuk rasa itu, mereka juga terlihat membawa spanduk dan kertas berwarna putih yang bertuliskan; ‘Stop Korupsi Dana Desa’,’Kami Tidak Mau Dipimpin Tikus, Pecat Pamong Desa’,’Pecat Pamong Sing Korupsi, Apa Lurahe Sing Mundur’ dan sejumlah tulisan lainnya. Aksi unjuk rasa itu mendapat pengawalan ketat dari Anggota Polsek Tarub, Anggota Polres Tegal dan Anggota Koramil Tarub.

Koordinator Lapangan (Korlap) Unjuk Rasa, Karnoto mengatakan, kedua perangkat desa itu berinisial KST dan KJ. Keduanya harus mundur dari jabatanya karena diduga menyelewengkan Dana Desa (DD). Hal itu dibuktikan dengan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari Inspektorat Kabupaten Tegal. Selain kedua orang tersebut, DD juga diselewengkan oleh pejabat desa yang sekarang sudah purna. Akibat ulah mereka, negara mengalami kerugian sekitar Rp 60 juta.

“Walaupun uang itu sudah dikembalikan, tapi warga di sini sudah tidak percaya, mereka harus mundur dari perangkat desa,” kata Karnoto.

Karnoto mengungkapkan, permasalahan yang dilakukan KST dan KJ, tidak hanya itu. Mereka juga disinyalir telah melakukan penipuan terhadap warga saat warga membuat sertifikat tanah. Ditemukan ada tanda tangan bodong yang tertera di akta jual beli tanah. Parahnya lagi, KJ juga dituduh melakukan perbuatan asusila terhadap istri tetangganya.

“Kami juga menemukan adanya penyelewengan uang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tahun 2013. Ini kami buktikan dengan adanya tagihan PBB kepada warga yang dilakukan oleh petugas kantor pajak,” bebernya.

Karena itu, lanjut Karnoto, warga meminta agar kedua pamong desa itu segera mengundurkan diri dari jabatannya. Pihaknya juga mendesak kepala desa supaya memecat kedua pamong tersebut. Warga memberi tenggang waktu selama 7 hari mulai Senin (14/9). Selama proses berlangsung, kepala desa diminta untuk me-non aktifkan KST dan KJ. Apabila tuntutan warga tidak dipenuhi, maka mereka bakal melakukan aksi lagi di depan balai desa setempat.

“Kami (warga) akan menyegel balai desa jika tuntutan kami tidak dipenuhi,” cetusnya.

Kepala Desa Kedokan Sayang, Fatkhudin, mengaku akan mengumpulkan bukti-bukti yang dituduhkan warga kepada kedua pamong tersebut. Setelah bukti terkumpul, pihaknya akan berkoordinasi dengan Camat Tarub.

“Kami akan melakukan sesuai prosedur,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Camat Tarub, Wuryanto. Dia mengaku tidak bisa melakukan pemecatan secara sepihak. Karena itu, dia harus mendasari pada aturan yang berlaku.

“Kami akan menempuh sesuai prosedur, mendasari Perbup,” ujarnya.

Sementara, saat Perangkat Desa Kedokan Sayang, KST hendak dikonfirmasi, pihaknya tidak ada di tempat. Sedangkan KJ, pihaknya tidak bisa memberikan penjelasan secara rinci. Dia hanya berujar, anggaran DD sudah dikembalikan lagi. Pihaknya juga mengaku tidak melakukan hubungan asusila dengan tetangga.

“Saya berani sumpah, saya tidak melakukan itu,” tegasnya. (Wiwit-red03) 

BERITA LAINNYA