Take a fresh look at your lifestyle.

Debit Air Dua Waduk di Brebes Kritis

152

Brebes, Musim kemarau yang terjadi di Kabupaten Brebes, membuat kondisi debit air di Waduk Malahayu Kecamatan Banjarhajo dan Waduk Penjalin Kecamatan Paguyangan, kini kritis. Bahkan, saat ini Waduk Penjalin sudah tidak berfungsi untuk suplaisi kebutuhan air lahan pertanian. Selain debit airnya minim, juga waduk itu dalam pengeringan untuk perbaikan.

Sementara di Waduk Malahayu, debit air yang tersisa jika digelontorkan ke lahan pertanian hanya mampu untuk menyuplai kebutuhan air selama 48 hari. Untuk itu, Pemkab Brebes kini menerapkan sistem gilir dalam menyuplai air bagi lahan pertanian. Sehingga debit air yang tersedia bisa bertahan hingga datangnya musim hujan.

“Kondisi debit di dua waduk ini (Malahayu dan Penjalin-red) sekarang sudah kritis. Kalau Waduk Penjalin saat ini lagi pengerikan karena perbaikan, sehingga tidak bisa menyupai air. Nah kalau Waduk Malahayu, jika kita glontorkan terus paling bisa bertahan hingga 48 hari. Makanya, kami sekarang terapkan sistem gilir untuk sulpai air pertanian,” terang Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (DPSDPR) Kabupaten Brebes, Agus As’ari didampingi Kabid Irigasi, Anna Dwi Rahayu, kemarin (15/7).

Dia mengungkapkan, saat kondisi normal debit air di Waduk Malahayu mencapai 31 juta meter kubik. Namun saat ini tinggal tersisa sekitar 14 juta meter kubik. Sedangkan untuk angka keamanan debit waduk sebesar 2 juta meter kubik. Sehingga debit yang tersisa saat ini hanya 12 juta meter kubik. Jika air yang ada itu dialirkan ke lahan pertanian terus menerus sebesar 3.000 liter/ detik setiap harinya, maka hanya bisa bertahan selama 48 hari. Padahal waduk tersebut berfungsi untuk mengaliri lahan pertanian di tiga daerah irigasi. Yakni, daerah irigasi Kabuyutan, Babakan dan Jengkelok.

Sedangkan untuk daerah irigasi Pemali Hilir, lanjut dia, dialiri oleh Waduk Penjalin dan Bendung Notog di Kecamatan Songgom. Namun untuk saat ini Waduk Penjalin tidak bisa menyuplai air karena dikeringkan untuk perbaikan. Debit air yang ada saat ini hanya sebesar 2,5 juta meter kubik, dan itu sudah dibawah angka keamanan debit air Waduk Penjalin sebesar 3,3 juta meter kubik. Padahal saat normal debit air di waduk itu sebesar 7 juta meter kubik. Sehingga untuk wilayah daerah irigasi Pemali hilir hanya mengandalkan Bendung Notog yang saat ini debitnya sudah kurang dari 10.000 liter/ detik. Debit itu tidak bisa memenuhi kebutuhan air bagi tiga sistem pengairan yang menjadia wilayah alirannya. Yakni, Pemali hilir kanan, Pemali hilir kiri dan Pemali hilir tengan.

“Untuk itu, kami saat ini menerapkan sistem gilir dalam menyuplai air bagi lahan pertanian. Di Waduk Malahayu, kami gilir dengan sistem empat hari sekali berganti-ganti untuk setiap daerah irigasi. Sedangkan di Bendung Notog, kami gilir dengan sistem tiga hari sekali. Nah untuk hari minggu dan hari ini (kemarin-red), di Bendung Notog suplai air sedang diarahkan ke Pemali hilir kanan. Selasa dan Rabu Pemali hilir kiri, sedangkan Kamis dan Jumat Pemali hilir tengah,” paparnya.

Menurut dia, kondisi kemarau yang terjadi itu sebenarnya sudah diprediksi oleh BMKG. Dimana, kemarau yang terjadi akan lebih awal, yakni mulai bulan Juni hingga November. Sehingga, untuk mencukupi kebutuhan air bagi lahan pertanian di Brebes dengan total luas 56.000 ha pada musim kemarau, pihaknya menerapkan sistem gilir. “Kami menerapkan sistem ini bertujuan, selain agar suplai air merata juga air yang tersedia bisa mencukupi hingga musim penghujan tiba,” pungkasnya.

(setiawan_red38)

BERITA LAINNYA