Take a fresh look at your lifestyle.

Dari Penjahit Konveksi, Penyadang Disabilitas  Beralih Membuat Masker Kain

158

ADIWERNA-Pandemi Korona juga berdampak pada perekonomian penyandang disabilitas di Kabupaten Tegal.  Hal ini dirasakan oleh sejumlah penyandang disabilitas yang bekerja sebagai penjahit di di sejumlah konveksi di wilayah Banjaran, Kecamatan Adiwerna,Kabupaten Tegal.

Rustanto (47) salah seorang penyandang disabilitas menyebutkan, sejak wabah Covid-19 merebak, order menjahit baju dari konveksi turun drastis. Akibatnya penghasilannya selama dua bulan ini juga minim.

Beruntung,   belum lama ini Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal memesan masker kain kepada penyandang disabilitas yang tergabung dalam Difabel Slawi Mandiri (DSM). Pesanan masker dalam jumlah banyak ini, setidaknya membantu perekomonian penyandang disabilitas.

Pesanan masker ini sudah beberapa hari ini dikerjakan oleh Rustanto dan Rodah (40) . Keduanya  tekun menjahit masker kain pesanan Dinkes dari pukul 08.00 sampai dengan 16.00.

Pekerjaan menjahit dilakukan keduanya di salah satu ruang di Gedung UPTD Loka Bina Karya, Jalan Raya Selatan Banjaran Km 3 Tembok Banjaran, Kecamatan Adiwerna.

Rustanto mengatakan, untuk membuat masker kain, dia cukup bermodal membeli kain katun minyak, benang, plastik pembungkus . Masker kain yang dipesan oleh Dinkes adalah masker kain yang bisa diisi dengan tisu.

Saat ditemui Jumat (17/4), Rustanto dan Rodah sedang membuat masker kain berwarna hijau muda dan kuning. Untuk membuat masker kain tersebut, mereka belajar secara mandiri.

“Sementara sudah jadi 100 biji dan sudah dikirim ,”tutur warga Desa Tembok Lor , yang menyandang disabilitas sejak tahun 2011 .

Rustanto menyebutkan, untuk pesanan dalam jumlah banyak , masker kain buatannya dihargai Rp 6.500 per buah, sedangkan harga eceran dihargai  Rp 8.000 per buah. Dalam sehari dia bisa menjahit 30 buah masker kain.

Dengan harga sebesar itu, Rustanto dan Rodah mengaku mendapat penghasilan lebih banyak dibanding saat menjahit baju konveksi.

“Kalau menjahit konveksi , sehari saya  menjahit satu kodi baju. Untuk setiap baju mendapat upah Rp 2.500,”sebutnya.

Hal senada juga diungkapkan Rodah (40) warga Desa Bulakpacing, Kecamatan Dukuhwaru. Rodah mengaku sangat terbantu dengan adanya pesanan masker kain ini.

“Sangat membantu sekali. Saat  ini pesanan jahitan konveksi sepi,”tuturnya.

Proses pembuatan masker kain ini juga menerapkan protokol kesehatan. Selain mencuci tangan sebelum menjahit, mereka juga mengenakan masker kain.

Pendamping DSM, Dede Atmo Pernoto mengatakan, pesanan masker dari Dinkes diperoleh sejak Rabu lalu.

“DSM diharap berperan membuat masker untuk Dinkes. Dinkes juga ingin membantu difabel agar ekonominya stabil di tengah wabah Korona,”jelasnya.

Dede membenarkan, selama tiga pekan terakhir, beberapa rekan difabel yang biasa mendapat pesanan menjahit baju dari konveksi tidak mendapat pemasukan.

Dengan adanya pesanan masker kain mereka kembali mendapat pemasukan, sehingga tidak tergantung kepada keluarga atau orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dede berharap, penyandang disabilitas yang memiliki keterampilan menjahit bisa bergabung membuat masker kain. “Mungkin yang lain bisa ikut gabung disini. Sebab, Dinkes memberi order sebanyak-banyaknya,”ujarnya.

Tak hanya dari Dinkes, Dede mengatakan, dirinya  juga mencari peluang mendapat pesanan masker kain dari sejumlah instansi . (Sari/Red-06)

 

 

BERITA LAINNYA