
Kontrak berjangka (futures) di bursa Nasdaq yang didominasi saham teknologi bergerak datar. Pergerakan ini dibayangi oleh pelemahan saham Nvidia yang dipicu oleh ketidakpastian seputar perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Kondisi ini memaksa perusahaan untuk tidak memasukkan potensi penjualan ke Tiongkok dalam proyeksi pendapatan kuartalan mereka.
Padahal, bulan ini Nvidia telah berhasil mendapatkan beberapa lisensi untuk menjual chip H20 di pasar Tiongkok setelah mencapai kesepakatan bagi hasil dengan pemerintah AS. Saham Nvidia tercatat turun 1,9% pada sesi pre-market. Sejumlah analis juga menyuarakan kekhawatiran bahwa kinerja divisi data center perusahaan mengindikasikan adanya potensi perlambatan belanja dari para penyedia layanan cloud.
Meskipun demikian, proyeksi pendapatan kuartalan yang kuat, rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai $60 miliar, serta pernyataan optimis dari CEO Jensen Huang berhasil meredakan kekhawatiran investor akan melambatnya permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Hal ini terjadi di tengah valuasi indeks S&P 500 yang telah melampaui rata-rata historisnya.
Dilema Nvidia: Terjebak Antara Permintaan Tinggi dan Perang Dagang
Menurut Dan Coatsworth, seorang analis investasi di AJ Bell, masalah utama Nvidia bukanlah pada permintaan AI, melainkan pada bagaimana kebijakan politik telah menghambat ambisi besar perusahaan untuk mendominasi pasar global. “Perusahaan ini berada dalam posisi yang sulit. Nvidia memiliki teknologi yang sangat diminati oleh banyak perusahaan, tetapi perang dagang AS telah menyulitkan mereka untuk menjual produknya secara bebas di Tiongkok,” jelasnya.
Antusiasme terhadap potensi pendapatan dari sektor AI telah menjadi motor penggerak utama reli bullish di Wall Street selama hampir tiga tahun terakhir. Tren positif ini berhasil bertahan dari berbagai tantangan, termasuk munculnya model AI Tiongkok yang lebih murah dan aksi jual yang dipicu oleh kebijakan tarif AS pada bulan April.
Di sektor semikonduktor lainnya, saham Super Micro Computer turun 1,1% dan Advanced Micro Devices (AMD) melemah 0,5%. Sebaliknya, saham pelanggan utama Nvidia seperti Meta dan Microsoft justru masing-masing menguat sebesar 0,2% dan 0,3%. Sementara itu, perusahaan analisis data Snowflake mencatatkan kenaikan saham signifikan sebesar 14,2% setelah merevisi naik proyeksi pendapatan tahun fiskal 2026 berkat tingginya permintaan terkait AI.
Pada pukul 12:50 waktu Italia, indeks Dow E-minis naik 0,12%, S&P 500 E-minis bergerak tipis -0,02%, dan Nasdaq 100 E-minis turun marginal 0,03%. Katalis lain yang mendorong indeks S&P 500 ke rekor tertingginya adalah ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga acuannya pada bulan September tahun ini.
Laporan Kinerja Keuangan Nvidia: Pendapatan Lampaui Ekspektasi
Nvidia akhirnya merilis laporan keuangan untuk kuartal kedua tahun fiskal 2025-2026. Meskipun dibayangi oleh berbagai isu terkait pasar Tiongkok, perusahaan berhasil mencatatkan pendapatan sebesar $46,7 miliar, melampaui ekspektasi para analis. Laba per saham (EPS) dilaporkan sebesar $1,05.
Namun, margin kotor berdasarkan GAAP (Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum) dan non-GAAP mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh pergeseran sumber pendapatan, di mana pendapatan saat ini lebih banyak berasal dari sistem data center skala besar yang menggunakan teknologi terbaru Blackwell, berbeda dengan periode yang sama tahun lalu yang didominasi oleh sistem Hopper HGX. Meskipun demikian, secara kuartalan, margin kotor (baik GAAP maupun non-GAAP) menunjukkan peningkatan. Hal ini dikarenakan pada kuartal sebelumnya terdapat beban biaya sebesar $4,5 miliar terkait kelebihan inventaris dan kewajiban pembelian chip H20.
Proyeksi Kinerja (Outlook) dan Reaksi Pasar
Untuk kuartal ketiga tahun fiskal 2025-2026, Nvidia memproyeksikan pendapatan sekitar $54,0 miliar, dengan potensi deviasi ±2%. Proyeksi ini secara tegas tidak memasukkan pengiriman chip H20 ke Tiongkok. Margin kotor GAAP dan non-GAAP diperkirakan masing-masing berada di level 73,3% dan 73,5% (±50 basis poin). Biaya operasional diproyeksikan sekitar $5,9 miliar (GAAP) dan $4,2 miliar (non-GAAP). Selain itu, perusahaan juga mengumumkan program buyback saham tambahan senilai $60 miliar.
Seperti biasa, pandangan analis terhadap proyeksi ini beragam. Reuters melaporkan bahwa proyeksi kuartal ketiga lebih baik dari perkiraan. Namun, sumber lain menyebutkan adanya kekecewaan pasar karena laju pertumbuhan yang diproyeksikan dianggap tidak cukup memuaskan, sehingga memicu kembali kekhawatiran akan melambatnya permintaan di sektor AI. Saham Nvidia pun tercatat melemah pada sesi perdagangan after-hours. Reaksi awal pasar tidak selalu mencerminkan evaluasi fundamental atas data keuangan, melainkan bisa juga dipengaruhi oleh pergerakan spekulatif dari para trader opsi dan algoritma perdagangan berkecepatan tinggi.
Sebelum rilis laporan keuangan, para trader opsi telah bersiap untuk pergerakan harga saham yang signifikan. Menurut Reuters, pasar memperkirakan potensi pergerakan nilai kapitalisasi pasar Nvidia hingga $260–$270 miliar ke kedua arah. Data dari pasar opsi mengindikasikan kemungkinan fluktuasi harga saham sebesar 6%, sedikit di bawah rata-rata historis sebesar 7%. Bloomberg mencatat bahwa ini merupakan tingkat volatilitas yang diantisipasi terendah pasca-rilis laporan keuangan sejak kuartal pertama 2023-2024. Angka-angka ini menunjukkan betapa besarnya ekspektasi pasar terhadap kinerja perusahaan bintang di sektor kecerdasan buatan ini.