Take a fresh look at your lifestyle.

Pasar Baru, Pulihkan Ekspor Sarung Goyor Tegal

274

* 15.000 Home Industri Tetap Eksis

TEGAL – Sejumlah negara yang kini telah dibidik menjadi pasar baru, ternyata mampu memulihkan ekspor Sarung Goyor khas Tegal, yang sempat terpukul, selama masa pandemi virus korona. Pasar baru dimaksud adalah, Mauritania dan Kenya.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Asaputex Jaya Tegal, Jamaludin Ali Alkatiri, berkait dengan kondisi penurunan ekspor perusahaannya ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, Afrika Selatan dan Afrika Utara.

Hal itu salah satunya, begitu ketatnya pintu masuk ekspor ke sejumlah negara-negara di Timur Tengah, yakni di Uni Emirat Arab (UEA) . Akibatnya, barang ekspor yang biasa mulus masuk ke Arab Saudi, Kuwait dan tentu saja UEA, kini menjadi tersendat.

Bahkan pedagang besar, di sejumlah negara tersebut, banyak memilih yang menunda mendatangkan barang dari Indonesia, khususnya sarung goyor khas Tegal. Kondisi tersebut, tentu sangat berpengaruh terhadap pasar yang selama ini sudah terbina baik.

”Bulan Maret ekspor turun 30 persen. April penurunan ini bertambah menjadi 50 persen. Nah bulan Mei ini, dalam pekan ketiga ini, ekspor kami sudah pulih, karena ada dua negara yang menjadi pasar baru ekspor sarung goyor khas Tegal,” ucap dia, kemarin.

Dua negara dimaksud adalah Mauritania dan Kenya. Kedua negara itu mau menerima sarung goyor khas Tegal yang telah disterilkan, dan bekerjasama dengan pegadang besar di Djibouti.

Perlu diketahui, Djibouti selama ini dikenal sebagai ”Hongkongnya” negara Afrika. Seluruh barang import yang akan dipasarkan di negara Afrika Utara, harus melalui pelabuhan di negara tersebut.

Bahkan tak hanya sarung goyor yang diminati warga di dua negara tersebut. Tapi produk baru dari Tegal, Sarung Songket Turki Continental, langsung dapat diterima kalangan menengah atas warga di Afrika Utara itu.

Tiga Kontainer

Dia mengungkapkan, sebanyak tiga kontainer sarung goyor diekspor di dua negara tersebut, tiap bulannya. Kondisi tersebut membuat lebih dari 15.000 home industri sarung goyor, yang menjadi mitra perusahaan tersebut, masih tetap eksis bertahan, di tengah pandemi virus korona.

Industri rumahan itu, tersebar di Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang.

Para perajin sarung tradisional dengan peralatan alat tenun bukan mesin (ATBM), yang menjadi mitra perusahaan itu, selama ini mendapat bantuan baku. Seperti benang dan pewarna.

Kemudian setelah dapat memproduksi sarung goyor, kualitasnya diseleksi. Baik untuk kepentingan ekspor maupun di dalam negeri sendiri.

Untuk mempertahankan pasar yang terkadang fluktuatif di masa pandemi korona, pihaknya kini terus berupaya keras untuk menembus peluang pasar lainnya yang ada di kawasan Afrika. Seperti di Afrika Timur, yang sudah lama menjadi bidikan pemasaran sarung goyor khas Tegal.

Menurut Jamaludin Ali Alkatiri, pasar ekspor baru yang dapat ditembus, rata-rata merupakan negara yang tidak menerapkan lockdown berkait wabah Covid 19.

Pihaknya optimis, pasar ekspor masih terbuka lebar, di kawasan Afrika tersebut. Mengingat masih cukup banyak negara yang tidak begitu besar terjangkit virus kasat mata tersebut.

Pihaknya memang terus menggenjot menemukan lahan baru untuk ekspor sarungnya, karena pasar di dalam negeri kondisinya sedang tak baik. Masyarakat banyak memerlukan bantuan pangan untuk bertahan hidup. Hal itu secara otomatis berpengaruh terhadap tingkat daya beli.

”Kalau mengandalkan pasar dalam negeri, di masa pandemi korona seperti sekarang, akan banyak home industri yang gulung tikar. Sebab daya beli masyarakat yang rendah. Karena itulah, kami terus menggenjot ekspor, dan menyemangati perajin untuk memproduksi sarung yang kualitasnya lebih baik lagi,” ucap dia.(Riyono Toepra-red07)

BERITA LAINNYA