Take a fresh look at your lifestyle.

Omzet Pedagang Turun Lebih dari 50 persen

274

TEGAL – Para pedagang di Pasar Pagi Kota Tegal mengeluh terhadap kondisi pasar yang gerus sepi sehingga omzet mereka turun lebih dari 50 persen. Adanya pembatasan akses yaitu ditutupnya ruas jalan di Kota Tegal dengan beton sedikit banyak berdampak pada kondisi pasar.

“Dengan adanya penutupan akses jalan ada dampak negatifnya yaitu dari bidang ekonomi, sebab orang orang takut keluar rumah ataupun berbelanja ke pasar. Para pedagang yang berada di pasar pasar tradisional mengeluh, sebab omzetnya mengalami penurunan cukup siginifikan yaitu lebih dari 50 persen dibanding dengan pendapatan saat kondisi noraml,” ujar Wijanarko, pedagang sayur mayur di Pasar Pagi Kota Tegal, baru baru ini.

Dia mengatakan, adanya kebijakan lokal lockdown awalnya disekitaran Alun alun Kota Tegal, otomatis para pedagang di Alun alun kehilangan mata pencaharian. Mereka tidak berdagang, akhirnya banyak yang menganggur, namun bagi yang punya modal, mencoba beralih menjadi pedagang keliling. Namun sekarang lokal lockdown sudah diperluas menjadi satu kota, sehingga efeknya juga lebih luas. Akses masyarakat menjadi terbatas, sehingga berdamapak pada perekonomian. Masyarakat yang berbelanja ke pasar berkurang, sebab mereka takut tertular virus Covid 19, hal itu berdampak pada omzet pedagang. Apabila saat kondisi normal omzetnya bisa mencapai Rp 2 juta per hari, tetapi setelah adanya lokal lockdown omzetnya antara Rp 800 ribu per hari hingga Rp 950 ribu per hari. Meskipun kondisi pasar sepi, tetapi harga sayuran justru mengalami kenaikan sejak adanya pembatasan akses masuk ke Kota Tegal. Para pemasok sayur mayur yang berasal dari luar Kota Tegal kadang mengalami kesulitan, sebab mereka harus memutar. Hal tersebut menjadi pemicu adanya kenaikan harga sayur mayur, meskipun kenaikannya antara Rp 2.000 per kilogram hingga Rp 3.000 per kilogram.

“Adanya himbauan dari pemerintah terkait bekerja di rumah, libur sekolah, maupun sosial distracting berdampak pada orderan di jasa pengiriman barang. Sejak dua minggu terakhir orderan mengalami penurunan hingga 50 persen dibandingkan saat kondisi normal,” ujar Irwan, Manager Hira Exspres, Kota Tegal.

Ia mengatakan, pada saat kondisi normal pengiriman barang antara lima truk hingga enam truk per hari, namun sekarang tinggal separuhnya. Kendala yang dihadapi yaitu sebagian besar penerima barang kiriman paket seperti toko toko sudah mulai tutup sementara. Bahkan untuk rumah tangga ada beberapa rumah yang menutup diri tidak bersedia menerima paketan barang, sehingga menumpuk di gudang. Pengiriman yang masuk ke Kota Tegal melalui perusahaannya sebagian besar berasal dari Jakarta, salah satunya pusat grosir Pasar Tanah Abang. Terkait dengan pengirimam barang beraneka ragam, antara lain pakaian, sepatu, alat alat elektronik, logam maupun mesin industri. Para pedagang di Jakarta sudah banyak yang tutup sementara, sebab mereka takut tertular virus Covid 19. Tutupnya toko toko di Jakarta diikuti pula para pemikik toko di daerah, sehingga orderan untuk pengantaran barang cenderung sepi.(Jokowi/Red_03)

BERITA LAINNYA