Take a fresh look at your lifestyle.

Harga Telur Itik di Pertenak Anjlok Jadi Rp 1.600/ Butir

- Terdampak Covid-19

314

BREBES – Akibat terdampak pendemi virus korona (covid-19), harga telur itik di tingkat peternak di Kabupaten Brebes saat ini anjlok. Bahkan, turunnya harga bahan baku utama untuk pembuatan telur asin sebagai produk khas Brebes tersebut hingga mencapai 53 persen. Dari harga telur itik mentah yang semula Rp 3.000/ butir, kini turun menjadi Rp 1.600/ butir.

“Harganya anjlok sejak merebaknya virus korona. Ini membuat para peternak itik di kelompok kami pendapatannya turun drastris. Bahkan, cenderung merugi. Padahal di saat Lebaran, bisanya menjadi puncak permintaan telur itik peternak kami, untuk diolah menjadi telur asin. Saat ini harga telur itik mentah Rp 1.600/ butir, sebelumnya mencapai Rp 3.000/ butir,” ungkap Atmo Suwito Rasban, Ketua Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) Adem Ayem Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Kamis (21/5).

Dia mengatakan, untuk tingkat produktivitas saat ini sebenarnya dalam kondisi normal. Rata-rata para peternak dalam sehari mampu menjual rata-rata 600 butir telur itik. “Jika harga jual tidak turun, peternak kami bisa mendapatkan hasil Rp 1.800.000/ hari. Namun dengan harga saat ini Rp 1.600/ butir, hasilnya hanya Rp 960.000/ hari,” terangnya.

Menurut dia, anjloknya harga telur itik mentah itu lantaran permintaan dari para perajin telur asin turun tajam. Hal itu dipengaruhi karena penjualan telur asin juga anjlok. Kondisi tersebut terjadi karena dampak pendemi Covid-19, dimana tidak ada arus mudik di jalur pantura dan tol Pejagan-Brebes. Di sisi lain, masyarakat lokal juga lebih memilih mengurangi aktivitasnya di luar rumah. “Kalau kondisi normal, saat arus mudik dan balik Lebaran seperti saat ini permintaan telur itik melonjak tajam. Bahkan, banyak telur itik dari luar daerah masuk ke Brebes, karena hasil peternak lokal tidak mampu mencukupi permintaan. Ini terjadi karena permintaan telur asin sangat tinggi,” paparnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, meski para peternak itik di kelompoknya dan kelompok lain terdampak Covid-19, tetapi hingga kini belum mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Padahal para peternak juga sangat membutuhkan bantuan, karena usahanya sedang jatuh. “Sampai saat ini belum ada itu (bantuan dampak covid-red),” pungkasnya.

(setiawan-red2)

BERITA LAINNYA