Take a fresh look at your lifestyle.

Tempat Ibadah di Kota Tegal Sudah Terapkan Protokol Kesehatan

168

TEGAL – Wakil Wali Kota Tegal Muhamad Jumadi, meninjau tempat-tempat ibadah di Kota Bahari, Rabu (3/6) siang. Hal ini menindaklanjuti pertemuan dengan para tokoh agama untuk membahas Surat Edaran Kemenag Nomor 15 Tahun 2020 di Kantor Kemenag Kota Tegal, Selasa (2/6) kemarin.

Tinjauan tersebut dilakukan, guna memastikan protokol kesehatan sudah benar-benar diterapkan di seluruh rumah ibadah sebagai pelaksanaan new normal di Kota Tegal. Adapun lima tempat ibadah yang didatangi diantaranya tiga gereja, satu vihara, satu kelenteng serta pondok pesantren.

Dimulai dari Gereja Bethel Indonesia di Jalan Asem Tiga, Muhamad Jumadi memastikan protokol kesehatan telah diterapkan. Begitu halnya di Gereja GPdi Mahanaim dan Gereja Kristen Jawa Kota Tegal.

Sementara, saat berada di Metta Vihara, Jumadi meminta kepada pengurus untuk membatasi jumlah jemaat, mengingat terbatasnya ruangan. Hal yang sama juga diharapkan dilakukan di Kelenteng Tek Hay Kiong.

Terakhir, Jumadi mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Al Munawwaroh di Jalan Prof Dr Buya Hamka, Kelurahan Margadana. Kepada pengasuh Ponpes, Jumadi berpesan agar protokol kesehatan terhadap para santri diperhatikan betul.

“Pelaksanaan new normal, dibutuhkan kolaborasi dan sinergi antara Pemerintah Kota Tegal bersama seluruh tokoh agama di Kota Tegal. Harapan kami, di era new normal ini tidak terjadi outbreak kembali atau gelombang kedua,” katanya.

Terkait ibadah dengan tata cara online, Jumadi juga telah melihat di Gereja Mahanaim dan GBI selama ini ibadah sudah dilaksanakan online saat PSBB. Tetapi karena sudah era new normal, Jumadi mempersilakan ibadah boleh dilakukan dengan protokol kesehatan tanpa kompromi.

Berdasarkan tinjauan yang dilakukan, tempat-tempat ibadah disebutkan Jumadi sudah melaksanakan protokol kesehatan dengan baik.

“Saya kira semuanya sudah ok. Mereka sudah menyediakan thermogun, tempat cuci tangan, bahkan ada edukasi kepada jamaah. Misal jemaat yang sakit tidak usah ke gereja, jemaat usia lanjut dan anak-anak tidak usah ke gereja. Kalau yang sepuh dan anak-anak lebih beresiko. Sehingga mereka diarahkan untuk memakai online,” tutupnya. (Haikal/ red10)

BERITA LAINNYA