Take a fresh look at your lifestyle.

Simulasi Pembelajaran di Era New Normal, SMP 1 Pangkah Ciptakan Suasana Menyenangkan

-Bekali Siswa Pengetahaun Covid-19 dan PHBS

335

PANGKAH- SMP 1 Pangkah merupakan salah satu sekolah di Kabupaten Tegal  yang melaksanakan simulasi  skema pembelajaran di era new normal. Simulasi dilaksanakan mulai Senin (15/6) sampai dengan Jumat (19/6) mendatang.

Dari pantauan di lapangan, para siswa dan guru tiba di sekolah sejak pukul 06.30. Sebagian siswa ke sekolah dengan naik sepeda dan sebagian diantar ole orangtuanya menggunakan sepeda motor atau mobil.

Hampir semua siswa telah menggunakan masker kain. Di pintu masuk sekolah, seorang satpam telah menanti sambil membawa alat thermogun. Satu per satu siswa termasuk tamu yang datang ke sekolah dicek suhu tubuhnya. Bagi yang suhu tubuhnya lebih dari 37 derajat celcius diminta untuk tidak masuk ke sekolah.

Setelah diukur suhu tubuhnya, siswa diminta cuci tangan di wastafel yang disiapkan di halaman sekolah. Wastafel tersebut dilengkapi dengan sabun dan kertas tisu. Guru ikut mengawasi agar siswa tetap menjaga jarak. Untuk memasktikan siswa jaga jarak, sekolah telah memasang tanda khusus di lantai dan bangku sekolah.

Setelah itu, siswa masuk kelas dan duduk di bangku kelas. Tempat duduk siswa telah diatur jaraknya 1,5 meter dan  setiap meja hanya digunakan satu siswa. Pembelajaran dilakukan mulai pukul 07.00 hingga pukul 10.20.

Hari pertama simulasi, siswa mengikuti tujuh jam pelajaran, tanpa istirahat. Setiap jam pelajaran yang biasanya ditempuh dalam waktu 40 menit, sekarang hanya 25 menit. Guru yang mengajar pun mengenakan masker dan pelindung wajah (face shield) serta menjaga jarak dengan siswa.

Kepala SMP 1 Pangkah, Ali Komsakum mengatakan, dalam melaksanakan simulasi pembelajaran era new normal, sekolah sangat berhati-hati dan tetap memperhatikan pendapat orangtua.

“Anak yang sakit tetap harus di rumah, anak yang naik angkot lebih baik tidak berangkat, dan anak yang  tidak diijinkan oleh orangtuanya, kami ijinkan tidak berangkat,”sebutnya.

Dalam simulasi ini, sekolah berupaya agar kegiatan berlangsung menyenangkan dan tidak membuat siswa ,  guru dan pelaku lainnya yang terlibat menjadi tertekan. Sebagai penyemangat siswa, sekolah memasang poster bertuliskan Stupang Sehat , Stupang Hebat.

Menurut Ali, materi pembelajaran dimulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 10.20. Kegiatan diisi dengan berdoa, tadarus, pemberian informasi tentang Covid-19, teknis pembelajaran jarak jauh, tausiyah , Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan Perilaku  Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

SMP 1 Pangkah atau Stupang,kata Ali, menerapkan sistem shift berdasarkan kelas dan nomor presensi. Hal ini untuk  mencegah agar tidak terjadi kerumunan.

“Hari ini kelas 7 presensi  1 sampai 16, Selasa (16/6) kelas 7 presensi 17 sampai 32. Rabu (17/6) kelas 8 presensi 1 sampai 16, Kamis (18/6) kelas 8 presensi 17 sampai 32, dan Jumat (19/6) diulang kelas 8. Disini tidak ada anak yang bergerombol ngerumpi,”jelas Ali.

Untuk simulasi ini, SMP 1 Pangkah menyediakan petugas/guru cadangan. Selesai guru mengajar, di depan kelas sudah disiapkan guru yang akan menggantikan mengajar. Ketika pukul 10.20 petugas di depan kelas akan mengantarkan siswa ke tempat parkir sepeda atau kepada orangtua yang menjemput.

“Jadi pukul 10.15 orangtua sudah menjemput di depan. Sekali lagi ini hati-hati dan sangat menghargai pendapat dari orangtua. Biar kegiatan nyaman, enjoy dan penuh semangat,”sebutnya.

Ali menyebutkan, untuk mendukung protokol kesehatan, sekolah menyiapkan 25 keran cuci tangan dan sejumlah wastafel. Selain itu menyediakan masker untuk siswa  dan pelindung wajah untuk guru. Selain itu, sebelum dan sesudah pembelajaran dilakukan penyemprotan disenfektan. Untuk penyemprotan kemarin dibantu oleh PMI, CSR mitra sekolah dan secara mandiri.

Untuk cek suhu, sekolah juga menyiapkan sepuluh  buah thermogun, meskipun rasionya satu thermogun untuk 200 siswa.

Ali menyebutkan, jumlah siswa kelas 7 dan 8 sebanyak 635 orang. Namun, untuk simulasi  hanya 160 siswa yang masuk setiap harinya. Untuk hari pertama,simulai dilakukan oleh siswa kelas 7 sebanyak  sepuluh kelas. Sementara jumlah guru sebanyak  45 orang.

Nur Kholifiah (12) siswa kelas 7 mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Selama tiga bulan belajar mandiri di rumah, tidak bisa bertemu dengan teman dan guru.

“Hanya bisa mengerjakan tugas  sekolah di rumah dan membantu ibu mengerjakan  tugas sehari-hari,”sebutnya.

Salah seorang guru, Sudarna, mengaku selama anak senang mengikuti pembelajaran,dirinya  juga ikut senang. Dia mengaku tidak ada kendala dalam mengajar meskipun harus memakai masker dan pelindung wajah. Sudarna yang biasanya mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), pada jam pelajaran ketiga dan keempat hari itu mendapat tugas mengajar pola hidup sehat.

Sementara itu,  Luki Kurniasih (40), salah satu orangtua siswa mengaku was-was saat mengijinkan anaknya berangkat ke sekolah. Untuk itu, dia dan suami bergantian mengantar jemput anak ke sekolah.

“Kita tidak tahu virus (Covid-19) ada dimana. Saya was-was, apalagi di rumah ada anak kecil,”sebutnya.

Sejak dilaksanakan KBM mandiri 17 Maret 2020, anaknya, Azzahra Khairunisa, baru kali ini keluar ke sekolah. Untuk mengikuti simulasi KBM, warga Dukuhwungu, Pangkah  ini, menekankan pada anaknya untuk menjaga jarak dan sepulang sekolah langsung  ganti pakaian dan mencucinya. (Sari/Red-06)

 

 

 

 

BERITA LAINNYA