Take a fresh look at your lifestyle.

Pengadaan Beras Covid-19, Supplier Akali Bulog Dengan Ganti Plat Tegal

160

SLAWI – Kesepakatan Bulog Cabang Pekalongan dan Pemkab Tegal untuk mengakomodir beras lokal dalam program bantuan sembako dari APBD Kabupaten Tegal, disiasati para supplier yang akan masuk gudang Bulog dengan mengganti plat Tegal. Pasalnya, Bulog hanya menerima truk pengangkut beras yang menggunakan plat G.

“Memang ada informasi yang masuk bahwa sejumlah truk yang mengganti plat G saat masuk gudang Bulog. Makanya, kami perketat truk yang masuk Bulog harus menunjukan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK),” kata Kepala Bulog Cabang Pekalongan, Ari Apriansyah saat jumpa pers di kantornya, Senin (15/6).

Dikatakan, kesepakatan truk yang mengangkut beras harus plat Tegal atas permintaan Bupati Tegal dan DPRD Kabupaten Tegal yang menginginkan beras bantuan bagi terdampak Covid-19, diambil dari produksi petani asal Kabupaten Tegal. Kesepakatan itu ternyata disiasati para supplier dengan mengganti plat sebelum masuk gudang Bulog. Hal itu diinfokan dari sejumlah warga yang mengetahui secara langsung, truk-truk tersebut mengganti di SPBU atau tempat lainnya di luar gudang Bulog.

“Kami tidak bisa berbuat banyak, karena bukan menjadi kewenangan Bulog. Tapi, kami sudah menindaklanjuti laporan masyarakat kepada pihak berwajib,” terangnya.

Dijelaskan, truk yang terpaksa ditolak karena tidak menggunakan plat nomor Tegal, sejumlah cukup banyak. Bahkan, sopir truk yang tidak bisa menunjukan STNK sesuai dengan plat nomor yang terpasang, juga terpaksa ditolak. Sebenarnya, secara aturan Bulog bisa mengambil beras dari mana pun asalkan masih di wilayah Indonesia. Namun, karena adanya kesepakatan tersebut, sehingga Bulog melaksanakannya.

“Selagi tidak melanggar aturan Bulog, tidak masalah. Tapi yang paling utama bahwa beras yang bisa masuk Bulog harus sesuai dengan standar kualitas yang disyaratkan. Jika tidak, terpaksa kami juga tolak,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, beras dari para supplier yang ditolak, jumlahnya lebih dari 50 persen. Hingga kemarin, Bulog sudah menutup pengadaan beras bantuan tersebut, karena sudah memenuhi kuota sebanyak 1.700 ton. Kemarin, Bulog sudah mulai mendistribusikan ke sejumlah e-warung. “Kami menyadari bahwa Bulog masih ada kekurangan, yakni keterlambatan distribusi dan beras yang tidak sesuai kualitas. Jika ada beras yang jelek, kami akan tarik dan langsung ganti,” tegas Ari.

Sementara itu, tambah dia, soal distribusi yang terlambat disebabkan e-warung yang terlambat mengajukan Pengajuan Order (PO). Bulog memberikan deadline PO pada H-3 sebelum pendistribusian. Namun demikian, ada sejumlah e-warung yang hanya sebagian PO di Bulog, sedangkan sisanya mengambil dari supplier langsung. Kondisi itu dinilai akan merugikan Bulog, karena jika ada beras jelek yang diambil dari luar Bulog, maka Bulog yang akan kena getahnya.

“Banyak PO siluman,” pungkasnya. (Wiwit-red03)

BERITA LAINNYA