Take a fresh look at your lifestyle.

Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

Oleh Mar`atus Sholikha Mahasiswa IAIN Pekalongan

333

Pendidikan Karakter untuk anak usia dini sangatlah penting, tidak hanya di sekolah, peran orang tua adalah faktor utama dalam pendidikan karakter untuk mencetak karakter anak tersebut. Orang tua harus tau tentang daya perekam anak untuk mencegah anak dalam perbuatan, ucapan, yang tidak baik. Maka dari itu, peran orangtua sangatlah penting yakni untuk menghidari perbuatan atau ucapan yang mungkin mempengarui perbuatan anak yang tidak pantas.

Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi peranan orang tua dalam pembentukan karakter anak, cara membangun karakter anak, pendekatan yang digunakan,  hambatan-hambatan  dan juga upaya-upaya yang dilakukan dalam pembentukan karakter anak.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga adalah faktor penting dalam pendidikan seorang anak. Karakter seorang anak berasal dari keluarga. Dimana, sebagian besar anak-anak sampai usia 18 tahun menghabiskan waktunya 60-80 % bersama keluarga. Sampai usia 18 tahun, mereka masih membutuhkan orangtua dan kehangatan dalam keluarga. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak. Setelah keluarga, di dunia pendidikan karakter ini sudah harus menjadi ajaran wajib sejak sekolah dasar. Anak SD masih dalam tahap perkembangan operasional konkret. Tahap dimana mulai berkembangnya kecerdasan mereka untuk berpikir logis dan sistematis. Sehingga pendidikan karakter pada anak SD menjadi kunci dalam perubahan generasi muda.

Pusat pendidikan yang pertama adalah lingkungan keluarga, pendidikan di lingkungan keluarga sangat strategis untuk memberikan pendidikan ke arah kecerdasan, budi pekerti atau kepribadian serta persiapan hidup di masyarakat. Orang tua akan menjadi contoh bagi anak, anak biasanya akan menirukan apa saja yang dilakukan oleh orang tua. Orang tua sebaiknya memperhatikan pendidikan anak-anaknya karena peran orang tua sangat penting dalam proses pendidikan bagi mereka. Jadi, orang tua harus bisa memberikan keteladanan dan kebiasaan yang baik itu sejak dari kecil atau kanak-kanak karena hal itu dapat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak.

Pentingnya orang tua terhadap pendidikan anak bukanlah hal yang sepele, karena pendidikan adalah modal utama yang harus dimiliki setiap individu yang hidup agar dapat bertahan menghadapi perkembangan zaman. Seperti saat ini orang tua semakin menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak mereka sejak dini. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak terbukti memberikan banyak dampak positif bagi anak. Peran aktif orang tua tentu saja perlu didukung oleh komunikasi yang baik antara orang tua dan juga pihak sekolah. Jadi tidak hanya peran guru dan lingkungan yang penting tetapi peran orang tua juga memegang peranan yang sangat penting dalam prestasi belajar anak.

Dewasa ini, banyak kita lihat kenakalan-kenakalan remaja banyak terjadi di lingkungan kita. Bukan hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di lingkungan masyarakat. Anak merupakan anugerah tuhan yang paling berharga yang sudah seharusnya dijaga, diperhatikan dan juga dididik. Semua orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi pribadi yang baik, disiplin, dewasa dan juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki tanggung jawab di dalam hidupnya. Lalu jika saat sekarang ini banyak terjadi peristiwa yang diakibatkan karena kenakalan remaja di sekolah ataupun di masyarakat itu menjadi salah siapa? Kesalahan orang tua dalam mendidik anak atau kesalahan pergaulan yang mengakibatkan anak menjadi liar dan juga susah diatur. Siapapun tidak ada yang bisa disalahkan dalam rusaknya moral anak. Semua orang tua menginginkan anaknya menjadi seseorang yang memiliki kepribadian baik. Untuk itulah peran orang tua sangat penting di dalam tumbuh kembang anak dari anak usia dini hingga anak sudah tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.

Di sisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah, lingkungan sekolah, dan juga masyarakat luas. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil jika antara lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus antara lingkungan sekolah yaitu guru, lingkungan keluarga, dan masyarakat.

  1. Pengertian Karakter dan Pendidikan Karakter

Karakter adalah watak, sifat, akhlak ataupun kepribadian yang membedakan seorang individu dengan individu lainnya. Atau karakter dapat dikatakan juga sebagai keadaan yang sebenarnya dari dalam diri seorang individu yang membedakan dirinya dengan individu yang lain. Pendidikan karakter merupakan suatu sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter kepada seorang individu yang meliputi ilmu pengetahuan, kesadaran kemauan dan tindakan  untuk dapat melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap Tuhan YME, dirinya sendiri, orang lain, lingkungannya maupun bangsa dan negaranya.

Pendidikan      adalah suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada, terutama dari lingkungan budayanya, karena peserta didik hidup tak terpisahkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah budayanya, sehingga terbentuk kecintaan terhadap budaya bangsa sendiri.

  1. Hakikat Pendidikan Karakter

Secara Etimologi “character” berasal dari bahasa Latin berarti instrument of narking, dari bahasa Prancis “charessein” berarti to engrove (mengukir), kemudian dari bahasa jawa “watek” berarti ciri wanci, dan dari bahasa indonesia “watak” berarti sifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah laku, budi pekerti, tabiat, perangai.

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturasi dan sosialisasi).  Seorang anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh 3 dimensi dasar kemanusiaan: (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketaqwaan, akhlak mulia, (2) kognitif yang tercermin pada  daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan kemampuannya , dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.

3.Cara Membangun Karakter Anak

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri    sendiri(intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya.

4.Pentingnya Pendidikan Karakter pada Anak Usia SD

Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini, khususnya usia SD merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang, penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mengkin kepada anak-anak adalah kunci utama membangun bangsa. Karakter di sini adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, bepikir, bersikap dan bertindak. Kebajikan tersebut berupa sejumlah nilai moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, hormat pada orang lain, disiplin, mandiri, kerja keras, kreatif.

5.Peran Keluarga Dalam Pembentukan Karakter Anak

Keluarga adalah faktor penting dalam pendidikan seorang anak. Karakter seorang anak berasal dari keluarga. Dimana sebagian sampai usia 18 tahun anak-anak di Indonesia menghabiskan waktunya 60-80 % bersama keluarga. Sampai usia 18 tahun, mereka masih membutuhkan orangtua dan kehangatan dalam keluarga. Sukses seorang anak tidak lepas dari “kehangatan dalam keluarga”.

Perkembangan otak di masa anak-anak berjalan sangat efektif. Pada masa ini bakat serta potensi akademis dan nonakademis anak bermunculan dan sangat potensial. Usia anak dari umur satu sampai tiga tahun adalah masa paling penting bagi tumbuh kembang mereka. Indikator tumbuh kembang anak tidak hanya diukur dari pertumbuhan fisik, namun juga perkembangan otak yang dapat dilihat dari responnya terhadap lingkungan. Untuk melihat kecerdasan otak seorang anak, orang tua perlu memahami perubahan apa saja yang penting bagi anak. Jika orang tua tidak tanggap dengan perkembangan anak, masalah akan datang saat anak sudah dewasa nanti.

6. Hambatan-hambatan Dalam Pembentukan Karakter Anak

Memahami karakter anak memang terkadang begitu sulit bahkan kita seringkali tidak mampu melakukannya. Kebanyakan kita bahkan dibuat bingung oleh anak sehingga mereka merasa enggan membagi banyak hal misalnya cerita di sekolah, masalah mereka, hingga cerita-cerita yang biasa kepada kita sebagai orang tua. Ketika anak mulai tidak nyaman berbicara dengan kita, mungkin itu berarti kita belum mampu mendapatkan kepercayaan dan memahami karakter anak itu sendiri. Ada 3 kebutuhan yang harus dipenuhi pada anak usia 0 – 7 tahun bahkan lebih, yaitu, (1)Kebutuhan akan rasa aman , (2) Kebutuhan untuk mengontrol (3)  Kebutuhan untuk diterima. Tiga kebutuhan dasar emosi tersebut harus terpenuhi agar anak kita menjadi pribadi yang handal dan memiliki karakter yang kuat menghadapi hidup. Inilah karakter anak yang bermasalah, cukup kita melihat dari perilakunya yang nampak maka kita sudah dapat melakukan deteksi dini terhadap “musibah besar” dikehidupan yang akan datang atau dewasa. Dalam memahami karakter anak kita kan menemukan berbagai macam kendala seperti misalnya :

  1. Susah diatur dan diajak kerja sama

Hal yang paling nampak adalah anak akan membangkang, akan semaunya sendiri, mulai mengatur tidak mau ini dan itu. pada fase ini anak sangat ingin memegang kontrol. Mulai ada “pemberontakan” dari dalam dirinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah memahaminya dan kita sebaiknya menanggapinya dengan kondisi emosi yang tenang.

2. Kurang terbuka pada pada orang tua

Saat  orang   tua   bertanya “Gimana sekolahnya?” anak menjawab “biasa saja”, menjawab dengan malas, namun anehnya pada temannya dia begitu terbuka. Aneh bukan? Ini adalah ciri ke 2, nah pada saat ini dapat dikatakan figure orangtua tergantikan dengan pihak lain (teman ataupun ketua gang, pacar, dll). Saat ini terjadi kita sebagai orangtua hendaknya mawas diri dan mulai menganti pendekatan kita.

3. Menanggapi negatif

Saat anak mulai sering berkomentar “Biarin aja dia memang jelek kok”, tanda harga diri anak yang terluka. Harga diri yang rendah, salah satu cara untuk naik ke tempat yang lebih tinggi adalah mencari pijakan, sama saat harga diri kita rendah maka cara paling mudah untuk menaikkan harga diri kita adalah dengan mencela orang lain. Dan anak pun sudah terlatih melakukan itu, berhati-hatilah terhadap hal ini. Harga diri adalah kunci sukses di masa depan anak.

  1. Upaya-upaya Yang Dilakukan Orang Tua dalam Pendidikan Karakter Anak

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang tua supaya anak  tidak merasa enggan dengan orang tuanya sendiri.

  1. Mendengarkan anak anda dengan baik

Jangan mendengarkan anak sebagai syarat saja, namun dengarkan dengan baik, berikan respon, dan pikirkan penyelesaiannya jika anak mempunyai masalah. Banyak orang tua yang menganggap cerita anak mereka tidak penting dan hanya mendengarkan sebagai symbol atau syarat saja. Sementara itu, anak mengetahui bahwa mereka tidak didengarkan dan mulai menjauh dari orang tua. Ketika hal ini terjadi, maka orang tua sudah mengambil langkah salah untuk memahami seorang anak.

2. Berusaha memahami tipe emosional anak

Misalkan, anak anda merupakan anak yang tidak sabaran, namun sebenarnya ia bisa lebih sabar apabila diberi pengertian dengan baik. Oleh karena itu, pahami tipe emosional anak dan jangan berikan amarah atau tindak kekerasan ketika anak telah menyentuh sisi negatif dari emosinya. Berikan ia pengertian atau cari cara lain agar emosi anak tidak bertambah buruk dari waktu ke waktu.

3. Interogasi anak dengan baik.

Beberapa orang tua cenderung buru-buru dan tidak sabaran ketika mereka menemukan suatu kejanggalan dan ingin mendapatkan fakta mengenai hal tersebut dari anak. jika anda melakukan interogasi dengan konsep berkata keras, memaksa, dan bahkan memukul. Maka anak akan berbohong kepada anda, serta konsep memahami karakter anak bisa pupus. Interogasi anak dengan lembut, buat ia mengatakan hal yang sebenarnya, dan ketahui bagaimana anak tersebut mampu menceritakan hal-hal yang sangat rahasia kepada anda, jika hal itu terjadi, maka anda telah memahami.

BERITA LAINNYA