Take a fresh look at your lifestyle.

Pemkab Tegal Akan Ujicoba Pelajar Kembali ke Sekolah

-Simulasi Direncanakan 15-19 Juni 2020

236

SLAWI- Adanya pandemi Covid-19 mengharuskan siswa dari tingkat PAUD sampai SLTA belajar di rumah. Selama dua bulan lebih kegiatan  belajar di rumah berjalan, banyak siswa dan orangtua yang menanyakan kapan bisa kembali belajar di sekolah.

Menjawab pertayaan dari para orangtua itu, Bupati Tegal Umi Azizahpada konferensi pers di Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tegal, Kamis (4/6) mengungkapkan, secara prinsip Kabupaten Tegal akan menerapkan kebijakan yang sejalan dengan pemerintah pusat, akan tetapi tetap mempertimbangkan kondisi lokal daerah.

Umi mengatakan, sampai saat ini,belum ada kepastian dari pusat berkaitan dengan pelajar kembali ke sekolah. Disebutkan, kasus positif Covid-19 secara nasional masih dikategorikan banyak, apalagi di DKI Jakart dan Surabaya, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal telah memiliki skenario pelajar kembali ke sekolah.

“Dinas Dikbud mau melakukan ujicoba di 12 lembaga,nanti disimulasikan dengan menggunakan shift. Misalnya murid kelas 1 ada 30 orang,shift pertama masuk 15 orang , shift kedua 15 orang,”jelasnya.

Untuk pembelajaran yang lain, masih seperti biasanya, yakni pemantaun dari guru atau belajar di rumah. Skenario yang dibuat oleh Dinas Dikbud ini sembari menunggu perkembangan dan hasil evaluasi .

Adapun uji coba  akan dimulai pertengahan Juni. Rencananya dilakukan di SMP. Adapun untuk SMA dan SMK , Pemkab Tegal masih menungu kebijakan provinsi.

“Mudah- mudahan skenario yang telah dibuat dari Kepala Dinas Dikbud bisa dipraktekan secara baik dengan hasil baik, sambil menunggu  kebijakan pusat,”sebutnya.

Menuju tatanan baru , lembaga pendidikan wajib melaksanakan protokol kesehatan. Diantaranya dengan menyiapkan tempat cuci tangan bagi siswa dan guru, ruang kelas disemprot dengan disenfektan dan menyiapkan alat ukur suhu tubuh.

Pemkab Tegal saat ini juga masih menunggu kebijakan pemerintah pusat mengenai pengoperasian pondok pesantren. Sembari menunggu kebijakan dari pusat, pondok pesantren diharapkan melakukan persiapan ponpes menuju tatanan baru.

“Untuk menuju tatanan ponpes baru, bisa memanfaatkan sekolahan yang semula hanya untuk belajar, kalau malam bisa untuk tidur,sehingga tidur tidak berjubel, “imbuhnya.

Selain pondok pesantren, persiapan tatanan baru juga dilakukan di madrasah diniyah, taman pendidikan alquran, dan sekolah yang ada di ponpes.

“Kita harus mengutamakan kesehatan peserta didik. Ponpes bisa melakukan inovasi pembelajaran tanpa anak-anak berada di ponpes untuk mengobati rasa kangen pada pengasuh.Anak-anak juga butuh tambahan pelajaran agama. Kondisi riil, anak sudah ingin berangkat ke ponpes, orang tua resah anaknya lama di rumah,”sebut Umi.

Konferensi pers pagi itu dihadiri Wakil Bupati, Sabilillah Ardie,  Kepala Dinas Sosial, Nurhayati, Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Prasetiawan dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Dessy Arifianto. Kali ini mengusung tema Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Sebagai Dasar Penyaluan Bantuan Jaminan Pengaman Sosial.

Sementara itu, secara terpisah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan , Akhmad Wasari melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Satiyo mengatakan, skenario belajar di era new normal rencananya tidak hanya dilaksanakan di 12 sekolah, tetapi lebih.Sekolah yang melaksanakan skenario belaja di era new normal hanya sekolah negeri dan rencananya dilaksanakan 15-19 Juni 2020.

“Rencananya kalau disetujui ada 10 SMP dan 58 SD. Hari ini kepala dinas mau presentasi lagi di hadapan bupati tentang skenario simulasi belajar di era new normal,”jelasnya. (Sari/Red-06)

 

BERITA LAINNYA