Take a fresh look at your lifestyle.

Pelanggaran di Jalur Pantura Jadi Perhatian

170

* Dimensi Muatan Kendaraan Angkutan Barang

TEGAL – Pascakegiatan Operasi Patuh Candi 2019 yang dilakukan Sat Lantas Polres Tegal Kota, kini sorotan penting mengarah ke pelanggaran yang sering terjadi di jalur Pantura.

Berdasarkan temuan jajaran itu di jalur pantura, masih banyak sopir angkutan barang yang menyalahi aturan, berkait dengan UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. ”Jadi pelanggaran di jalur pantura akan jadi perhatian penting kami,” terang Kasat Lantas Polres Tegal Kota AKP Ben Aras.

Pemerhati hukum dan pengangkutan dari Fakultas Hukum Universitas Pancasakti (UPS) Tegal Dr Eddhie Praptono SH MH mengatakan, masih sering dijumpai kendaraan barang seperti pikap, truk dan trailer yang mengangkut barang melebihi tonase yang dipersyaratkan.

Hal itu mudah dilihat dari dimensi muatan yang diangkut kendaraan angkutan barang. Seperti tinggi batas muatan hingga lebar muatan. Kendaraan tersebut sangat membahayakan pengguna jalan lainnya.
Sopir kadang tidak bisa melihat keberadaan kendaraan di belakang atau di sampingnya. Bila melaju kencang, akan mudah oleh dan terguling. Kecelakaan kendaraan barang yang terguling di jalur pantura masih sering terjadi.

Kucing-Kucingan

Lebih menjengkelkan lagi, kerap sopir pikap atau truk main kucing-kucingan dengan petugas dari Sat Lantas Polres Tegal Kota. Mereka sengaja melintas di jalur pantura Kota Tegal saat personel jajaran kepolisian itu beristirahat.

Dia menyebutkan ‘permainan kucing-kucingan’ terjadi menjelang petang. Mulai pukul 17.00 hingga waktu sholat Maghrib usai. Karena pada saat itu, petugas Sat Lantas yang berada di lapangan atau berpatroli di jalur pantura, banyak berada di dalam pos.

Keberadaan kendaraan barang tersebut kerap berseliweran di jalur pantura. Menurut dia, perlu dilakukan patroli khusus pada jam-jam rawan pelanggaran lalu lintas. Agar sopir yang suka nekat melanggar dapat ditindak tegas.

Sejauh pemantauannya, pelanggaran juga terjadi terhadap sopir pikap atau truk yang mengangkut buruh tani. Biasanya usai bekerja di sawah menjelang petang, mereka pulang naik pikap atau truk di bak belakang sambil membawa alat atau hasil pertaniannya.

Bahkan kebiasaan buruk tersebut sering terjadi pada pagi hari usai waktu Sholat Subuh. Saat para buruh tani mulai berangkat kerja.
Kendaraan banyak melintas dari arah timur menuju ke barat, yakni ke Wanasari, Kluwut, Bulakamba dan Losari. Buruh tani itu banyak berasal dari wilayah Pemalang dan Kabupaten Tegal.

Sejauh pemantauan Sat Lantas Polres Tegal Kota, sebenarnya baik pikap maupun truk yang memuat orang, maupun muatan kendaraan barang yang melebih dimensi yang dipersyaratkan, sudah sering ditindak. Jajaran itu sangat mengapresiasi kritik dan masukan masyarakat dalam upaya menindak pelanggar lalu lintas di jalur pantura.(Riyono Toepra-red07)

BERITA LAINNYA