Take a fresh look at your lifestyle.

Literasi Digital Ujung Tombak Pendidikan Daring

229

* Melek Internet di Pelosok Harus Jadi Perhatian

TEGAL – Saat pandemi Covid 19, literasi digital telah menjadi ujung tombak penyajian pendidikan secara daring. Atau melalui jaringan internet. Tantangan itu yang harus disiasati di banyak negara.

Hal itu terungkap saat Unit Pelaksana Teknis Urusan Kerjasama Internasional Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBperguruan tinggi tersebut menggelar atau ”Webinar Internasional”, pekan lalu.

CUKUP MENARIK : Sejumlah pembicara dari kalangan perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri, mengungkapkan berbagai hal cukup menarik dalam webinar bertajuk ”Covid 19 : Chalenges and Strategies for Enhanching Digital Literacy and Creativity in Higher Education”.

”Seminar Virtual Skala Internasional” itu, mengusung tema ”Covid 19 : Chalenges and Strategies for Enhanching Digital Literacy and Creativity in Higher Education”. Atau, ”Covid 19 : Tantangan dan Strategi untuk Meningkatkan Kemampuan Digital Literasi dan Kreativitas di Pendidikan Tinggi”.

Seminar yang dipandu Kepala UPT Kerjasama Luar Negeri UPS Tegal Dr Yoga Prihatin MPd, cukup menarik sebagai bahan kajian dan perhatian banyak pihak berkait tantangan dunia pendidikan di sejumlah negara seperti di Asia, Afrika maupun Timur Tengah.

Apalagi kecerdikan dan kelincahan berbahasa yang ditunjukkan moderator, mampu memancing sejumlah pembicara dari kalangan pendidikan tinggi di Indonesia dan luar negeri, mengungkap tantangan sebenarnya yang kini dihadapi di masa pandemi Covid 19.

Sekitar 100 peserta seminar, umumnya barasal dari kalangan perguruan tinggi dari Thailand, Uni Emirat Arab, Maroko, Irak dan India. Mereka secara gamblang memaparkan persoalan dan tantangan yang dihadapi.

Seperti diungkapkan Direktur Universitas Global Jindal India, Rahul Bhandari. Dia berbicara secara khusus tentang ”Tantangan dan Strategis untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Digital di Tingkat Pendidikan Tinggi seperti Universitas”.

Jumlah Penduduk

Menurut Rahul yang juga peneliti senior di perguruan tinggi itu, di India tantangan terbesarnya adalah jumlah penduduk yang sangat besar.

Sehingga untuk tercapainya literasi digital, perlu kerja keras pemerintah dan universitas.

”Terutama mereka yang tinggal di pelosok. Literasi digital, selain perlu melek teknologi, juga kemampuan mengenai isu copy right dan kemampuan membedakan berita yang fake (hoax) dengan berita yang sesuai fakta,” tandas dia.

Hal sama, meski dengan kondisi masyarakat yang berbeda, juga diungkapkan peneliti Ilmu Hukum dan Politik dari Hasan 1st University Maroko, Youssef Baqil. Dia yang memaparkan tema ”Tantangan dan Strategi e-learning di Maroko”, mengungkapkan hal menarik.

”Maroko kali pertama menerapkan e-learning dalam sejarah. Tentunya perlu di ketahui feedback-nya untuk evaluasi tingkat keberhasilan pembelajaran daring di Maroko.

Banyak hal yang perlu dibenahi dan ditingkatkan kualitasnya. Kekurangan adalah hal wajar. Tapi semangat belajar dan berburu literasi secara digital perlu dukungan berbagai pihak,” ucap dia.

Hal menarik diungkapkan peneliti dunia pendidikan Dr Taufiqullah MPd yang juga mengajar Bahasa Inggris di FKIP UPS Tegal.

Dengan tema pembahasan ”Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia akibat Pandemi Corona”, dia mengingatkan, kampus harus siap menerapkan teknologi untuk pembelajaran.

”Jika ruang gerak secara fisik menjadi terbatas, maka teknologi adalah solusinya. Seperti penggunaan teknologi internet untuk kuliah secara daring, maupun berselancar memperkuat literasi digital untuk menambah ilmu pengetahuan yang harus dikuasai mahasiswa dan dosen,” papar dia.

Memperkuat Ekonomi

Dibidang ekonomi, yang mengalami pukulan berat di masa pandemi virus korona, Dekan FEB UPS Tegal Dr Dien Noviany Rahmatika MM AK CA berpendapat cukup menarik.

Lewat tema pembahasan bertajuk ”Ekonomi dan Teknologi Kreatif di Indonesia”, dia optimis, dengan memperkuat ekonomi kreatif, akan mendorong ekonomi Indonesia terus tumbuh secara signifikan di era pandemi.

”Karena lewat kreativitas dan penggunaan teknologi yang tepat guna, akan banyak muncul terobosan-terobosan baru yang dapat dijadikan andalan, untuk menggerakkan ekonomi agar terus tumbuh dan berkembang di tengah tantangan yang cukup berat,” terang dia.

Dr Yoga Prihatin MPd yang cukup jeli mengayunkan banyak pertanyaan menggelitik, menyimpulkan webinar internasional itu, pada dasarnya tantangan penyelenggaraan pembelajaran selama masa pandemi korona, hampir sama, di semua negara.

Antara lain, perlunya peningkatan infrastruktur untuk daerah-daerah terpencil, yang tidak terjangkau internet untuk pembelajaran e-learning.

Kemudian kemunculan jurang pemisah atau gap pengetahuan berkait melek teknologi yang cukup signifikan. Yakni, antara generasi mileniaal dan generasi tua.

Di sisi lain, kemampuan finansial (pembiayaan atau anggaran) yang terbatas, untuk dapat memenuhi kebutuhan seperti pembelajaran e learning.

Perlunya peningkatan sumber daya manusia di sejumlah universitas, untuk dapat meningkatkan kemampuan literasi digital mahasiswa maupun dosen, melalui pelatihan rutin.

”Saya bersyukur apa yang dibahas dan dipaparkan dalam webinar ini, dinilai cukup memberi banyak manfaat bagi para peserta.

Bahkan mampu memberikan nuansa penyemangat untuk terus bangkit dan maju di era pandemi sekarang. Ya cukup menginspirasi untuk semua pihak,” ucap Yoga Prihatin.(Riyono Toepra-red07)

BERITA LAINNYA