Take a fresh look at your lifestyle.

Kurikulum Muatan Lokal Kewirausahaan Siap Dibelajarkan

BATANG, smpantura.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tentang Kurikulum dan Bahan Ajar Muatan Lokal Kabupaten, Sabtu (4/12).

Kegiatan ini diikuti oleh 90 orang peserta. Terdiri dari perwakilan guru kelas IV, V, VI, Korwil Bidang Pendidikan Kecamatan, Pengawas Sekolah, dan Ketua-ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS).

Kegiatan FGD yang diinisiasi Kepala Bidang Pembinaan SD ini juga menghadirkan utusan dari Disperindag Koperasi dan UKM, Dinas Pangan dan Pertanian, serta Tim Ahli dari Akademisi, Dr. Iin Purnamasari, S.Pd., M.Pd.

Ketua penyelenggara, Yuliyanto, SP mengungkapkan, kegiatan ini merupakan rangkaian dari pengembangan kurikulum muatan lokal kabupaten.

”Sebelumnya, kami beserta tim pengembang kurikulum melakukan kegiatan telaah kurikulum, menyusun kompetensi inti dan kompetensi dasar, silabus, dan bahan ajar,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Disdikbud Kabupaten Batang Achmad Taufiq, SP., M.Si mengatakan, kurikulum muatan lokal adalah kurikulum yang memuat keragaman potensi daerah berupa lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah untuk dikembangkan pada sekolah dasar.

” FGD ini mendiskusikan tentang materi kurikulum hasil pengembangan dari Kurikulum Muatan Lokal Pengolahan Ubikayu. Pengembangan kurikulum ini perlu dilakukan agar materinya dapat memuat keragaman potensi daerah, berupa lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah,” katanya.

Dirinya menambahkan, adapun materi kurikulum muatan lokal Daerah pada Jenjang SD, hasil pengembangan ini adalah berisi materi Budaya dan Potensi Daerah Batang, Pendidikan Budaya dan Lingkungan untuk peserta didik SD kelas I, kelas II dan Kelas III. Pendidikan Dasar Kewirausahaan untuk peserta didik SD kelas IV, kelas V dan kelas VI.

” Harapannya materi ini sudah siap sebagai bahan ajar pada Tahun Pelajaran 2022/2023,” tegasnya.

Perlu Disederhanakan

Dalam acara tersebut, secara spontanitas Achmad Taufiq mengajak kepada semua peserta untuk membantu warga terdampak rob di daerah Pasir Sari dan Clumprit, Degayu, Kota Pekalongan yang saat ini daerahnya masih tergenang air. Dari penggalangan dana tersebut, terkumpul sejumlah Rp 3.202.000 yang selanjutnya diserahkan kepada perwakilan relawan dari Komunitas Save Pekalongan Syarif Hidayatullah, untuk kemudian diberikan kepada warga terdampak rob di Kota Pekalongan.

Koordinator PPL Dispaperta Batang, Purwanto, SP., saat FGD berlangsung juga memberikan masukan, materi ajar yang sudah disusun Oleh tim pengembang sudah bagus, namun perlu disederhanakan.

”Salah satu contoh pada materi pembibitan tanaman bayam. Lebih baik disajikan cara budidaya tanaman bayam tradisional, namun dapat memanen dengan hasil yang memuaskan, seperti yang dilakukan oleh petani bayam di Kelurahan Sambong,” ungkapnya.

Tim Ahli dari Akademisi, Irma Aini Herawati, S.Pd., MAP juga mengusulkan agar materi ajar tentang batik tidak hanya terbatas di wilayah Kecamatan Batang. Karena selain motif Batik Tiga Negeri, Rifa’iyah, juga ada batik jumputan dan batik ciprat ”sak karepe” hasil karya siswa-siswa SLB.

”Sentra batik pun beragam. Diantaranya sentra batik ”Ecoprint” di Desa Terban, Warungasem, sentra batik Legoksari, batik warna alam di Denasri, dan batik Gringsingan di Surodadi,” katanya. (F10)

BERITA LAINNYA