Take a fresh look at your lifestyle.

Kongres Pertama, Jayakan Tegal Melalui Karya Sastra

195

 

TEGAL-Komunitas Sastrawan Tegalan bakal menggelar Kongres Sastra Tegalan pertamanya pada 26 November 2019 di Kabupaten Tegal.  Kongres digelar sebagai upaya pelestarian bahasa dan aksara daerah salah satunya melalui karya sastra agar dikenal lebih meluas.

Menurut penggagas kongres, Lanang Setiawan dan Dwi Eri Santoso,  pergelutan sastra Tegalan sudah berjalan lebih dari seperempat abad. Sudah saatnya, seniman menyamakan pandangan dan menghasilkan ide dan gagasan bagaimana agar sastra Tegalan agar bisa diterima masyarakat nasional dan internasional.

Ide itu juga muncul dari Maufur pengisi kolom Warung Poci, Suara Pantura, Suara Merdeka.  “Sudah bukan waktunya berbicara sastra hanya berbicara teks dan konteks. Lebih dari itu, bagaimana bisa menghasilkan karya sastra yang bisa diterima masyarakat dunia melalui cerpen, novel atau puisi yang diterjemahkan ke bermacam bahasa,” kata Lanang, Senin (7/10).

Dijelaskan Lanang, yang juga dikenal sebagai salah satu pelopor sastra Tegalan ini, pergelutan para seniman Tegal sudah sejak tahun 1990-an yang tetap eksis sampai sekarang. Sudah tak terhitung berapa judul buku baik itu cerpen dan puisi sudah dihasilkan para seniman Tegal.

“Tahun 1994, bisa dibilang lahirnya sastra Tegalan.  Dimulai salah satunya ketika puisi Nyanyian Angsa, karya WS Rendra diterjemahkan ke bahasa Tegalan menjadi Tembangan Banyak dan dipentaskan di Taman Budaya Surakarta waktu itu,” kata Lanang.

Ketika itu, banyak pula puisi nasional yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Tegalan oleh para seniman lokal. Seiring waktu, banyak seniman kemudian  melahirkan karya sastra Tegalan hingga muncul aliran baru satu di antaranya Wangsi atau wangsalan puisi yang digagas Lanang bersama Dwi Ery

“Sudah ada karya sastra Tegalan yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan Jerman.  Tujuan kongres untuk mengangkat bahasa Tegalan melalui sastra. Lebih semangat dalam menyamakan persepsi sesama seniman dalam mengangkat bahasa Tegalan agar lebih terhormat,” imbuh Dwi Ery.

Menurut Presiden Penyair Tegalan ini, kalau masih berbicara mengenai teks dan konteks, semua masyarakat bisa saja menulis dalam bahasa Tegalan.

“Persoalan bahasa seharusnya sudah selesai. Seperti misalnya yang ditulis Dr. Muarif Esagge dalam sebuah makalah, bagaimana agar sastra Tegalan bisa disandingkan dengan puisi-puisi dunia. Seperti misal karya Jalaludin Rumi, Kahlil Gibran dan sebagainya,” pungkasnya.

Rencananya, Kongres Tegalan yang sudah dipersiapkan matang ini akan dihadiri banyak orang mulai dari seniman, akademisi, guru, tokoh, dan pejabat Kota dan Kabupaten Tegal. Acara juga turut dimeriahkan dengan pameran buku Sastra Tegalan dari yang terdahulu sampai sekarang.

Hadir enam pembicara atau narasumber di antaranya Dr. Maufur, Dr. Tri Mulyono, Dr. Sunu Wasono dari Universitas Indonesia (UI), Muarif Esage (Pengupas Sastra Tegalan), Dina Nurmalisa kandidat doktor UI, Wijanarto Wijan, Suriali Andi Kustomo dan Ahmad Tohari novelis Ronggeng Dukuh Paruk. (Setyadi/Red4)

BERITA LAINNYA