Take a fresh look at your lifestyle.

Ibu Rumah Tangga Jadi Calo TKI Ilegal Diringkus, Satu Orang Buron

164
  • Dijanjikan Kerja di Abudabi

BREBESIda Zarodah bin Somari (51), seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Brebes terpaksa harus berurusan dengan pihak berwajib.  Warga RT 017/ RW 01 Desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes ini,  kini meringkuk di ruang tahanan Mapolres Brebes lantaran melakukan praktik perekrutan calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) secara ilegal, untuk dipekerjakan di Abudabi. Sementara satu pelaku lainnya, kini masih buron dan dalam pengejaran jajaran Satreskrim Polres Brebes.

Kapolres Brebes AKBP Aris Supriyono melalui Kasat Reskrim AKP Tri Agung Suryomicho mengungkapkan, kasus itu terbongkar berawal dari laporan warga terkait adanya praktik perekrutan calon TKI yang tidak sesuai prosedur. Praktik itu terjadi di wilayah Kecamatan Losari dan sekitarnya. Atas laporan tersebut, pihaknya menindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan, dan berhasil menangkap seorang pelaku. “Baru satu pelaku yang berhasil kami tangkap. Sementara pelaku lain, berinisial M, warga Cirebon masih kami kejar dan masuk Daftar Pencarian Orang tim kami,” ungkapnya saat gelar perkara di Mapolres Brebes, Rabu (23/10).

Menurut dia, pelaku yang berstatus ibu rumah tangga itu dalam aksinya bertugas sebagai pelaksana lapangan. Yakni, yang bertugas merekrut para calon TKI untuk diberangkatkan ke Abudabi. Ia mendatangi rumah setiap calon TKI, kemudian setelah mau berangkat diantar ke pelaku M. Namun prosedurnya tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Bahkan, setiap calon TKI yang direkrut diminta membayar uang senilai Rp 5 juta dengan syarat yang telah mereka tetapkan. Tak hanya itu, penempatan tenaga kerja di wilayah Abudabi juga telah menyalahi aturan. Sebab, sesuai ketentuan yang berlaku, penempatan TKI di wilayah tersebut dilarang pemerintah.”Kasus ini masih terus kami kembangkan, karena diduga ini merupakan satu jaringan perekrutan TKI Ilegal di Brebes. Termasuk, mengembangkan apakah ada korban-korban lain,” tandasnya.

Atas perbuatannya itu, lanjut Kasat, pelaku dijerat pasal berlapis. Yakni, Pasal 84 Undang-undang nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dan pasal 10 Undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. “Pelaku ini diancam hukuman maksimal selama 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 15 miliar,” pungkasnya.

(Setiawan_red2)

 

BERITA LAINNYA