Take a fresh look at your lifestyle.

Hari Batik Nasional, Siswa dan Guru SMA 1 Slawi Pakai Batik

239

SLAWI- Memperingati Hari Batik Nasional, yang jatuh pada 2 Oktober 2019,seluruh siswa, guru dan pegawai SMA 1 Slawi , Kabupaten Tegal, dengan kompak mengenakan baju batik, kemarin. Ratusan siswa baik laki-laki maupun perempuan semuanya mengenakan batik dari berbagai daerah penghasil batik, seperti Tegal Pekalongan dan Solo.

Kepala SMA 1 Slawi, Mimik Supriyatin melalui Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Nenny Dwi Agustini mengatakan, pemakaian baju batik pada peringatan Hari Batik Nasional sudah dilaksanakan rutin setiap tahun.
Namun, untuk tahun ini, siswi diperbolehkan mengenakan kerudung selain warna hitam atau sesuai dengan pakaian yang dikenakan.

“Kalau tahun sebelumnya siswi mengenakan rok dan kerudung hitam, sekarang rok hitam dengan kerudung disesuaikan dengan warna baju. Ini menggambarkan warna-warni budaya Indonesia dan menghargai karya anak bangsa,”jelas Nenny.

Disebutkan, pemakaian baju batik pada Hari Batik Nasional juga menindaklanjuti imbauan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tertanggal 24 September 2019. Dalam imbauan tersebut, para kepala UPT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Sekolah/Madrasah di seluruh Indonesia, diharap mengenakan pakaian batik pada tanggal 2 Oktober 2019.

Disamping itu, juga diimbau menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan mempromosikan batik seperti pameran, peragaan busana, lomba membatik dengan teknik canting.

“Hari Batik bertepatan dengan Penilaian Tengah Semester dan Tes Bakat Skolastik (TBS), sehingga sekolah belum bisa mengadakan kegiatan tersebut,”jelasnya.

Menurut Nenny, pemakaian baju batik, secara rutin telah dilaksanakan oleh warga SMA 1 Slawi. Untuk menumbuhkan kecintaan terhadap warisan bangsa itu, setiap Rabu dan Kamis, siswa wajib mengenakan seragam batik sekolah. Demikian pula para guru dan karyawan, yang mengenakan batik setiap hari Rabu dan Jumat.

“Untuk para guru, setiap Senin mengenakan seragam PDH atau khaki, Selasa mengenakan lurik , Rabu dan Jumat mengenakan batik,Kamis dengan baju adat daerah/nasional,”imbuhnya.

Penanaman kecintaan terhadap batik, tak hanya ditunjukkan dengan memakai seragam batik. Melalui kegiatan ektrakurikuler kewirausahaan, siswa juga dilatih membatik.

“Siswa diajak ke daerah penghasil batik seperti di Pekalongan, untuk melihat proses pembuatan batik. Sekolah juga memanggil perajin batik untuk melatih siswa cara membatik,”ungkapnya.

Nenny menambahkan, salah satu siswanya, Yovensius Bara Tresno Adi (18) bahkan berhasil meraih juara 1 dan juara umum Putra Putri Batik Jawa Tengah 2019 di Semarang. Siswa kelas XII ini belum lama ini juga menjadi juara II Wajah Pesona Indonesia ‘Wonderful Of Asia” tingkat Provinsi Jawa Tengah di Cilacap dan akan maju ke tingkat nasional pada 13 Oktober mendatang di Jakarta.

Diharapkan, rasa cinta terhadap batik tumbuh pada diri anak-anak. Mereka tak hanya mengenakan batik untuk acara resmi saja, tapi bisa digunakan sehari-hari.(Sari/Red 6)

 

BERITA LAINNYA