Take a fresh look at your lifestyle.

Harga Bawang Merah Terus Merosot Hingga Rp 6.000/ kg

- AMBI Gelar Rakornas

275

BREBES, smpantura.com – Harga bawang merah di tingkat petani, di Kabupaten Brebes kini terus merosot. Bahkan, harga bawang untuk kualitas terendah atau grate C saat ini merosot hingga harga Rp 6.000/ kg, dari semula Rp 15.000/ kg. Kondisi ini menyebabkan para petani makin menjerit, karena harus menanggung kerugian cukup besar. Itu karena Break Event Point (BEP) atau harga impas jual bawang merah juga mengalami kenaikan.

Dampaknya, hasil panen tidak bisa menutup biaya produksi yang telah dikeluarkan. Untuk menyikapi terus merosotnya harga bawang merah ini, Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Pusat menggelar rapat koordinasi nasional (Rakornas), Minggu (14/11/2021), di Brebes. Ketua ABMI Pusat, Juwari mengungkapkan, kondisi harga bawang merah saat ini semakin memprihatinkan, karena terus merosot. Harga bawang merah kualitas terendah atau grate C misalnya, yang semula mencapai Rp 15.000/ kg kini turun menjadi Rp 6.000/ kg. Kemudian, untuk harga kualitas menengah (grate B) turun dari Rp 18.000/ kg menjadi Rp 8.000/ kg. Sedangkan untuk harga kualitas super (grate A) turun dari Rp 23.000/ kg menjadi Rp 11.000/ kg. ” Turunnya harga bawang di tingkat petani ini sudah berlangsung sekitar tiga minggu terakhir. Ini membuat kami mengalami kerugian, karena biaya produksi tidak sebanding dengan hasil panennya,” ungkap dia.

Menurut dia, anjloknya harga bawang ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Brebes, tetapi saat ini juga terjadi seluruh sentra penghasil bawang merah di Indonesia. Artinya, harga bawang yang merosot itu sudah terjadi secara nasional. ” Faktor utama merosotnya harga bawang ini karena sekarang seluruh sentra penghasil bawang merah panen raya. Di antaranya, di Demak, Pati, Nganjuk dan Majalengka.  Sehingga stok di pasaran melimpah, sedangkan tingkat penyerapannya rendah. Faktor lain, harga pupuk juga mengalami kenaikan hingga 30 persen,” jelasnya.

Akibat harga pupuk naik, kata dia, berdampak BEP bawang merah juga naik. Apalagi petani bawang merah ini tidak menggunakan pupuk subsidi. Mereka selama ini menanam dengan pupuk non subsidi jenis NPK. Harga pupuk itu semula Rp 400.000/ sak, tetapi sekarang mencapai Rp 550.000/ sak. Imbasnya BEP bawang merah yang semula Rp 13.000, sekarang naik menjadi Rp 13.800. “Di sisi lain, tahun ini ekspor bawang merah sangat sedikit. Tahun 2021, target ekspor bawang mencapai 10.000 ton, tetapi realisasinya belum ada 1 persen dari target ini. Artinya, penyerapan panen petani dari ekspor sangat sedikit,” paparnya.

Dia menambahkan, untuk menyikapi jatuhnya harga bawang tersebut, ABMI melaksanakan rakornas di Brebes. Tujuannya, untuk mecari solusi dalam upaya memecahkan persoalan tersebut. Rakornas itu diikuti seluruh perwakilan ABMI di Indonesia, seperti dari Demak, Cirebon dan Kendal. “Ini kan persoalan para petani sendiri. Sehingga, kami berusaha mencari solusinya,” pungkasnya.  (T07-red)

BERITA LAINNYA