Take a fresh look at your lifestyle.

FPIK UPS Tegal Teliti Peningkatan Produksi Undang Vannamei

* Solusi Menipisnya Pasar Akibat Wabah Virus Corona

160

TEGAL – Terobosan menarik dilakukan tim peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Pancasakti (UPS) Tegal.

Perguruan tinggi itu kini tengah serius meneliti peningkatan produktivitas atau panen Udang Vannamei (Litopenaeus Vannamei).

Hal itu dilakukan sejak penaburan bibit udang pada 10 Januari lalu. Sedangkan pembangunan lahan tambak sudah dimulai sejak September 2019. Udang tersebut diprediksi akan dipanen setelah 110 hari dibudidayakan di tambak air payau.

KONDISI TAMBAK : Dewan Pembina dan Pengurus YPP, rektorat, saat meninjau laboratorium tambak udang vannamei dan berkeliling mengecek kondisi kebersihan areal tambak, hingga perkembangan pertumbuhan udang.(Foto : smpantura.com/Riyono Toepra-red07)

”Kami menerima masukan dari Dekan FPIK Dr Sutarman MSi dan kepala laboratorium tambak Kusnandar MSi, untuk secepatnya membuat laboratorium khusus, untuk meneliti berbagai hal tentang Udang Vannamei ini,” terang Ketua Yayasan Pendidikan Pancasakti (YPP) Dr Imawan Sugiharto SH MH didampingi Wakil Ketuanya Dr Eddhie Praptono SH Mh dan Sekretaris Dr Taufiqullah MHum.

Kepala Laboratorium Tambak Udang Vannamei FPIK UPS Tegal Kusnandar MSi menjelaskan, dipilihnya udang vannamei itu, dengan berbagai pertimbangan khusus.

Antara lain, tahan terhadap penyakit seperti penyebaran virus dan bakteri, mudah pemeliharaannya, waktu panen lebih cepat dan pakannya juga mudah, serta pasarnya terbuka luas.

Dewan Pembina dan Pengurus YPP, serta Wakil Rektor saat sidak di lab tambak udang vannamei FPIK.

”Saat ini harga udang ini tengah mengalami penurunan. Dari semulai Rp 80.000/Kg untuk ukuran 15cm sampai 25 Cm, kemudian harganya terjun bebas menjadi Rp 50.000/Kg. Terakhir harga dikisaran Rp 40.000/Kg,” ucap dia.

Tak Khawatir

Meski kondisi sekarang pasar udang kurang menguntungkan, tapi dirinya tak khawatir. Sebab setelah ditemukan formula untuk meningkatkan produksi atau panen udang tersebut, harga akan kembali setabil.

Dia mengungkapkan, dengan penyebaran virus corona dari Wuhan, Tiongkok, memang sangat berpengaruh terhadap pasar udang vannamei yang cukup populer di Indonesia. Walaupun jenis udang lainnya di tanah air cukup banyak.

Tapi permintaan pasar dalam negeri dan luar negeri terhadap jenis udang itu masih cukup tinggi. Baik di Asia, Eropa dan Amerika Latin.

”Nanti setelah panen perdana pada Maret ini, akan terkuak jika jenis udang ini masih cukup tangguh terhadap berbagai gangguan penyakit. Kemudian dengan sistem pemeliharaan atau pembudidayaan yang lebih baik, akan terlihat peningkatan produksinya. Petani tambah atau petambak pasti akan bergairah lagi membudidayakan udang ini,” ucap dia.

Di laboratorium lahan tambak udang itu seluas dua hektare, kini sudah ditaburi bibit udang vannamei sebanyak 300.000 ekor. Pada kondisi normal, akan dapat dipanen sekitar lebih dari lima tons.

Tim peneliti dari FPIK UPS Tegal akan mengkalkulasi hasilnya ketika dilakukan panen perdana pada Maret bulan depan.

Mulai dari sisi biaya yang dikeluarkan, jumlah produksinya hingga kondisi ukuran udang tersebut saat dipanen.

”Kalau saat panen, jelas harganya akan membaik. Ini juga menjadi solusi terhadap menipisnya produksi udang dan tentu keberadaan udang jenis ini di pasar bebas akibat wabah virus corona,” ucap dia.

Dia menambahkan, tim peneliti fakultasnya juga siap melakukan pembimbingan terhadap petambak di daerahnya yang tengah membudidayakan bibit udang vannamei.(Riyono Toepra-red07)

BERITA LAINNYA