Take a fresh look at your lifestyle.

Tiga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal Geram Soal Penanganan Covid-19

279

SLAWI – Usai berkeliling melakukan kunjungan lapangan di sejumlah wilayah Kabupaten Tegal, tiga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal geram dengan Pemkab Tegal yang lamban dalam pendistribusian bantuan kepada masyarakat dan instansi lainnya.

“Kami keliling ke Muspicam untuk melihat persiapan penanganan Covid-19. Kami mendapati bahwa mereka belum mendapatkan bantuan apapun. Bahkan, tempat cuci tangan dan masker beli sendiri,” kata Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal dari Fraksi PDI Perjuangan, Rustoyo, Rabu (22/4).

Dikatakan, Gugus Tugas Covid-19 di tingkat kecamatan yang terdiri dari Kecamatan, Polsek, Koramil dan unsur lainnya, belum mendapatkan bantuan apapun. Padahal, mereka juga garis terdepan dalam penanganan Virus Korona. Seharusnya, Gugus Tugas Covid-19 di tingkat kecamatan mendapatkan fasilitas yang memadai, diantaranya tempat cuci tangan, alat cek suhu dan alat perlindungan diri (APD).

“Segera penuhi, karena anggarannya ada. Jangan hanya berputar-putar dengan pengadaan barang dan pendataan. Kami tegaskan jangan bermain politik dalam ranah kemanusiaan, apalagi mencari keuntungan dalam situasi seperti ini,” tegas Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tegal itu.

Rustoyo mengeluh karena selama ini dalam pembahasan anggaran penanganan Covid-19, tidak pernah dilibatkan. Pihaknya tidak mau menjegal, bahkan akan membantu mencarikan anggarannya. Namun demikian, libatkan anggota DPRD dalam penanganan Korona. Bukan soal pengadaan, tapi pendistribusian barang ke masyarakat. Upaya itu mengingat masyarakat sudah sangat membutuhkan bantuan dari Pemkab Tegal.

“Libatkan kami untuk ikut turun di lapangan. Soal anggaran urusan eksekutif. Jika hal ini tidak segera dibenahi, maka kami akan menggunakan hak sebagai anggota DPRD,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal dari Fraksi Gerindra, Rudi Indrayani miris mendengar informasi tentang pasien positif Korona yang meninggal dunia yang dimakamkan di Pangkah, Selasa malam (21/4). Informasi dari pihak kepolisian, pemakaman mengalami kendala karena tidak ada petugas khusus untuk menguburkan jenazah pasien Korona.

“Jenazah sempat lama di dalam mobil ambulance, karena warga dan petugas makam tidak mau menguburkan tanpa APD. Akhirnya, kepolisian dan TNI yang turun tangan untuk menguburkan,” ujarnya.

Rudi mengapresiasi kesiagapan Polri dan TNI dalam penanganan kasus Korona. Namun, disayangkan tidak ada anggaran yang dialokasikan bagi Polri dan TNI dalam menangani Korona. Harusnya, Polri dan TNI juga dibekali APD sehingga tidak waswas saat ikut menangani pasien Korona.

“Jangan sampai kejadian ini terulang kembali,” tegasnya. (Wiwit-red03)

 

BERITA LAINNYA