Take a fresh look at your lifestyle.

Diprediksi, 20 Ribu Perantau Akan Mudik

Jumlah Pemudik ke Kabupaten Tegal Lima Besar di Jateng

181

SLAWI- Kabupaten Tegal menduduki posisi lima besar dari 35 kabupaten/kota di Jateng dalam hal jumlah pemudik.

“Jumlah paling banyak pertama Brebes, Pemalang, Banyumas, Cilacap, Kabupaten Tegal dan dibawah kita Wonogiri,”jelas Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Tegal, Uwes Qoroni pada rapat evaluasi percepatan penanganan Covid-19 di Pendapa Amangkurat, Pemkab Tegal, Senin (11/5).

Menurut Uwes, jumlah pemudik terbanyak tesebar di sejumlah kecamatan. Tertinggi adalah di wilayah Kecamatan Bumijawa, kemudian Lebaksiu, Bojong, Margasari, Dukuhturi dan Tarub.

“Total pemudik per hari ini Senin (11/5) ada  60.228 pemudik.Jumlahnya cukup banyak,”ungkapnya.

Menurutnya, tren pemudik meningkat dari hari  ke hari. Masih ada 7.107 orang yang mudik ke Kabupaten Tegal sejak ada larangan mudik  pada 24 April lalu.

“Jadi walaupun sudah ada larangan mudik, mudik tetap jalan terus,”imbuhnya.

Uwes mengatakan, berdasarkan survei online yang dilakukan Kominfo Kabupaten Tegal, masih ada kurang lebih 10.056 warga Kabupaten Tegal yang masih ada di perantauan.

“Hasil surveinya seperti ini, yang tidak mudik ada 56 persen, yang belum mudik 37 persen, dan yang sudah mudik 7 persen,”jelasnya.

Bila disandingkan dengan hasil survei Balitbang Kemenhub, masih ada 37 persen warga Kabupaten Tegal yang belum mudik, dan akan mudik di Kabupaten Tegal kurang lebih 20 ribu orang. Dengan puncak arus mudik H-3 lebaran 21 Mei, dan puncak arus balik Senin, 1 Juni.

Dikatakan olehnya, Dinas Perhubungan sudah membentuk Posko Pengamanan Gugus Covid-19 sejak 26 Maret  di Teminal Dukuh Salam Slawi, Rest Area Klonengan, Jalan Selapura berbatasan dengan Brebes dan ruas  jalan Exit Tol Adiwerna.

Posko pengamanan ini melibatkan unsur Dishub, Dinkes, Polres dan TNI dengan anggaran APBD Kabupaten Tegal dan APBD Provinsi.

Tugas tim  melakukan skrening pemudik dan mensos ialisasikan kepada masyarakat untuk melakukan protokol kesehatan , memakai masker, dan melaporkan perkembangan setiap harinya.

Sebelumnya saat melakukan skrening, tim melakukan pemeriksaan KTP . “KTP-nya Jakarta suruh balik , berarti orang mudik. KTP-nya mana,  Tegal berarti dia pulang kampung. Sepertinya di lapangan agak susah,”imbuhnya.

Namun, saat ini, kata Uwes,  sudah ada surat edaran dari Kementerian Perhubungan, yaitu pembukaan di Terminal Pulo Gebang. Bis-bis dari Pulo Gebang diperbolehkan melintas , tetapi dengan skrening ketat.

Di antaranya penumpang ketika akan mendapat tiket bus harus memenuhi tiga syarat, yaitu harus memiliki surat rujukan dari Puskesmas atau rumah sakit bahwa yang bersangkutan sakit dan akan dirujuk ke tempat yang akan dituju.

Selanjutnya, ada keterangan dari RT atau RW setempat berkaitan dengan keperluannya. Misal ada keluarga yang sakit, isteri akan melahirkan, dan lain sebagainya.

Terakhir adalah perjalanan bisnis. Selain untuk tujuan bisnis, orang yang bersangkutan harus ada tiket bolak balik.Maka, baru diperbolehkan mendapat tiket dari arah Jabodetabek.

“Setiap bus yang akan keluar dari Jabodetabek, nantinya diberikan stiker sebagai penanda,” pungkasnya.

Terkait dengan meningkatnya jumlah pemudik, Bupati Tegal Umi Azizah menekankan perlunya memaksimalkan Satgas Jogo Tonggo.

“Saya terus  terang deg-degan , 20 ribu pemudik yang diperkirakan akan pulang ke Tegal. Skrening harus diperketat di Exit Tol, Selapura, dan titik kumpul di Terminal Dukuh Salam harus diperketat. Pintu masuk di Dishub, transmisi lokal efek dari virus impor yang dibawa mereka yang mudik,”kata Umi. (Sari/Red-06)

 

 

 

 

BERITA LAINNYA